Gedung Danantara Indonesia (FOTO: Danantaraindonesia.co.id)
DREAM.CO.ID - Mari sejenak kita menyusuri lintasan jalur Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek. Bergerak dari stasiun paling timur di Bekasi menuju Harjamukti yang berada di kawasan Cibubur. Dari balik jendela kereta, kita mengintip lima titik di lintasan LRT fase 1 sepanjang 44,43 kilometer.
Bukan stasiun pemberhentian yang berjumlah 18 titik. Mata kita diarahkan pada bangunan menjulang tinggi tak jauh dari lintasan LRT. Lima titik itu adalah lokasi proyek apartemen yang punya nama depan sama. LRT City Ciracas, LRT City Cibubur, LRT City Jatibening, LRT City MT Haryono, dan LRT City Tebet.

Dari lima apartemen yang dibangun PT Adhi Commuter Properti Tbk, LRT City Jatibening terlihat asri. Disambut gerbang hijau, penghuni kompleks apartemen hanya butuh berjalan kaki menuju stasiun LRT terdekat. Kompleks dengan jargon Easy Living Easy Access sepertinya bakal terwujud.
Namun kompleks ini belum sepenuhnya selesai. Ada titik proyek bangunan masih mangkrak. Sebuah mal yang akan dibangun dekat apartemen.
Di lokasi lain pemandangan tak jauh berbeda. Beberapa masih berupa struktur bangunan bertingkat. Ada pula yang masih berupa tanah dengan papan rencana pembangunan di depannya. Sudah hampir 10 tahun pembangunan hunian dekat stasiun LRT ini tak lagi berjalan.
Secercah harapan datang di gedung Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN). Kepala BP BUMN yang juga Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria, meriung bersama jajaran PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) pada Selasa, 29 September 2026.
" Nomor 1 keputusannya adalah bahwa kita akan meneruskan project ini," tegas Dony menginstruksikan kelanjutan pembangunan LRT City yang harus kembali dimulai pada 1 Oktober 2026.

Tak sekadar melanjutkan proyek. Danantara akan merekrut arsitek baru untuk mengubah desain, business model dan areal komersial.
Keputusan melanjutkan proyek ini tak muncul begitu saja. Dony yakin dengan keberhasilan pembangunan apartemen LRT City yang dikerjakan anak usaha PT Adhi Karya Tbk ini.
" Saya juga sudah menghitung itu jalan tidak akan merugikan karena masih banyak tanah-tanah yang sebetulnya itu punya value karena memang setiap lokasi itu sangat strategis," tegasnya mantap.
Faktor terakhir adalah janji Danantara melanjutkan proyek LRT City. " Kita sudah berjanji kepada orang lain, dan itu adalah berkaitan bukan janji kita sebagai pribadi, itu janji Danantara kepada masyarakat yang harus kita deliver," paparnya.
" Saya berharap keputusan kita ini, keputusan yang baik. Keputusan yang tidak hanya sekadar komersial."
Keputusan kelanjutan pembangunan LRT City itu sebenarnya hanya potongan kecil dari pekerjaan yang kini diemban Danantara. Di balik pondasi bangunan dan tanah yang belum tergarap, terdapat sebuah gambaran yang jauh lebih besar. Danantara sedang mengubah kumpulan aset negara menjadi mesin pencipta nilai.
Danantara diluncurkan pada 24 Februari 2025 dengan mandat mengelola dan mengoptimalkan aset serta investasi negara dalam jangka panjang. Pemerintah memperkenalkan lembaga ini sebagai instrumen strategis untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi Indonesia.

Pada awal kehadirannya, pemerintah menyebut aset dalam ekosistem Danantara mencapai lebih dari US$900 miliar. Dalam forum World Economic Forum 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut aset kelolaan Danantara telah mencapai sekitar US$1 triliun.
Angka tersebut tidak berupa uang tunai. Sebagian besar merupakan nilai aset dan kepemilikan perusahaan negara yang berada dalam ekosistem pengelolaan Danantara. Di sinilah pekerjaan besarnya dimulai.
Pekerjaan yang hendak ditunaikan Danantara dengan membangun dua mesin utama untuk mengerjakannya. Danantara Asset Management (DAM) diarahkan pada pengelolaan aset dan perusahaan dalam ekosistem BUMN. Sementara Danantara Investment Management (DIM) menjalankan fungsi investasi dan pengembangan portofolio.
Dua mesin Danantara ini tidak hanya dituntut menjaga aset agar tetap hidup. Aset tersebut harus dibuat produktif dan kalau mungkin memberikan keuntungan. Contohnya mulai terlihat.
Pada Juli 2026, DAM mengambil alih pengendalian empat perusahaan manajer investasi pelat merah yaitu Mandiri Manajemen Investasi, BRI Manajemen Investasi, BNI Asset Management dan PNM Investment Management. Keempat perusahaan itu secara kolektif memiliki dana kelolaan lebih dari Rp170 triliun per Juni 2026.

Di sektor pengelolaan sampah, Danantara juga mulai membangun ekosistem waste-to-energy. Pembangunan PSEL Bogor Raya 1 dimulai pada September 2026. Proyek tersebut dirancang dengan investasi sekitar Rp2,8 triliun dan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari.

Di sektor perumahan, Danantara menggelar Housing Expo untuk mempertemukan ekosistem BUMN dan pengembang dalam mendukung Program 3 Juta Rumah. Sementara di sektor teknologi strategis, Danantara menjalin kemitraan dengan perusahaan Prancis Thales untuk menjajaki teknologi strategis, kecerdasan buatan, digital dan ketahanan siber.

Satu demi satu proyek itu memperlihatkan arah yang sedang dibangun.
Danantara tidak ingin berhenti sebagai tempat berkumpulnya aset negara. Ia sedang mencoba menjadi kendaraan untuk mengelola, mengembangkan dan memutar kembali aset tersebut menjadi investasi baru.
Sesungguhnya gagasan itu bukan barang baru. Jauh sebelum Danantara lahir, Indonesia sudah lama mencari cara untuk mengelola perusahaan-perusahaan negara yang jumlahnya banyak dan bergerak di berbagai sektor.
Pada 2016 ketika Indonesia memiliki 119 BUMN dengan aset lebih dari Rp4.500 triliun, Menteri BUMN Rini Soemarno pernah mengusulkan pembentukan perusahaan induk raksasa atau superholding BUMN.
Rini melihat perusahaan-perusahaan negara tersebut terlalu besar jika dikelola satu per satu melalui birokrasi kementerian. Solusinya adalah membentuk holding per sektor yang pada akhirnya dapat disatukan dalam sebuah superholding.
Dan contoh yang disebut Rini ketika itu bukan perusahaan Indonesia. Temasek di Singapura.
" Targetnya per sektor itu terdapat perusahaan induk atau holding company-nya yang diharapkan pada suatu titik nantinya akan terbentuk super holding, seperti Temasek di Singapura," kata Rini pada 2016.
Nama Khazanah Nasional Berhad di Malaysia juga ikut masuk dalam pembicaraan.
Mimpi tersebut tidak langsung terwujud. Indonesia lebih dahulu menempuh jalan holdingisasi berdasarkan sektor. Pertamina menjadi induk holding migas, MIND ID di pertambangan, Pupuk Indonesia di pupuk, PTPN di perkebunan dan sejumlah kelompok usaha lainnya.
Tetapi gagasan besarnya tidak benar-benar hilang. Hampir satu dekade kemudian, ia muncul dalam bentuk baru. Danantara.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 memberikan landasan bagi pembentukan BPI Danantara. Dalam penjelasan pemerintah, pembentukan Danantara dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai investasi yang dikelola secara jangka panjang oleh BUMN, sekaligus menjadikan lembaga tersebut mitra strategis bagi investor.
Indonesia sedang mencoba melakukan sesuatu yang pernah dilakukan Singapura dan Malaysia. Mengumpulkan kekuatan aset negara ke dalam sebuah institusi yang lebih terpusat, profesional dan berorientasi pada penciptaan nilai.
Temasek memulai perjalanan tersebut pada 1974. Ketika didirikan, pemerintah Singapura menempatkan sejumlah perusahaan yang sebelumnya dimiliki negara ke dalam Temasek. Tujuannya agar kepemilikan komersial pemerintah dapat dikelola secara profesional dan terpisah dari fungsi pemerintahan sehari-hari.
Lima puluh tahun kemudian, ukurannya sudah berubah jauh. Net Portfolio Value Temasek Per 31 Maret 2026 sudah mencapai S$518 miliar. Sepanjang tahun keuangan tersebut, Temasek melakukan investasi sebesar S$51 miliar dan divestasi S$31 miliar. Dalam satu dekade, nilai portofolionya hampir dua kali lipat.
Temasek juga telah berkembang jauh melampaui Singapura. Investasinya tersebar di berbagai negara, sektor dan kelas aset. Perusahaan itu kini bekerja dengan logika seorang investor global.
Malaysia menempuh jalan yang mirip melalui Khazanah Nasional Berhad. Didirikan pada 1993, Khazanah menjadi kendaraan investasi strategis pemerintah Malaysia. Lembaga ini tidak hanya mengejar hasil finansial, tetapi juga membawa mandat strategis dan pembangunan ekonomi.
Pada 2025, total aset Khazanah mencapai RM156 miliar dengan net asset value RM105 miliar. Portofolio investasinya mencapai RM95 miliar dan menghasilkan return 5,2 persen. Khazanah juga membukukan laba operasi RM5,6 miliar serta membayar dividen RM2 miliar kepada pemerintah Malaysia.

Danantara kini sedang memasuki jalur tersebut. Dari proyek sebesar industri strategis hingga proyek yang tampak sederhana seperti LRT City.
Di Jatibening, misalnya, jawabannya tidak harus selalu berupa gedung apartemen baru. Bisa saja berupa desain yang berubah, kawasan komersial yang ditata ulang, model bisnis yang diperbaiki, tanah yang kembali memiliki nilai dan pembeli yang akhirnya memperoleh kepastian.
Sebuah proyek yang selama hampir satu dekade terhenti kini mendapatkan kesempatan kedua. Di situlah eksperimen Danantara terasa nyata. Sebuah gagasan besar tentang pengelolaan kekayaan negara sedang diuji.
Gagasan yang pernah dimulai Singapura melalui Temasek lebih dari lima dekade lalu. Gagasan yang kemudian ditempuh Malaysia melalui Khazanah.
Kini Indonesia mencoba jalannya sendiri. Namanya Danantara.
Advertisement
5 Pekerjaan yang Paling Banyak Dicari di Bidang Sustainability

Menunggu Nasi Goreng Megawati, Pertemuan Prabowo Belum Usai

IHSG Rebound di Penutupan Sesi I, Indeks Bluechips Terpeleset

Mikroplastik Masuk Tubuh Ibu Hamil dan Plasenta Janin di Makassar

5 Persen Bisa Mengubah Wajah Senayan, Siapa Bertahan?


Manusia Sudah Ada di Bumi Sejak Kapan? Jawabannya Bisa 315 Ribu hingga 7 Juta Tahun

Kanker Prostat Sering Tak Bergejala, Bagaimana Cara Mendeteksinya Sejak Dini?


IHSG Rebound di Penutupan Sesi I, Indeks Bluechips Terpeleset

Cara Beres-Beres Rumah Tanpa Menyesal: 8 Kebiasaan yang Perlu Dilakukan dan Dihindari

5 Pekerjaan yang Paling Banyak Dicari di Bidang Sustainability
