Nisfu Syaban Jadi Momen Penentuan Nasib Manusia, Benarkah?

Reporter : Ahmad Baiquni
Minggu, 21 April 2019 18:01
Nisfu Syaban Jadi Momen Penentuan Nasib Manusia, Benarkah?
Nisfu Syaban, Allah membagikan rahmat kepada semua makhluk.

Dream - Bagi Umat Islam, Nisfu Syaban jadi momen sangat penting untuk diperingati. Di Indonesia, masyarakat Muslim kerap menggelar kegiatan memperingati malam penuh rahmat ini.

Terdapat pemahaman di kalangan umat Islam mengenai malam Nisfu Syaban. Pemahaman tersebut menyatakan saat malam pertengahan bulan Syaban ditetapkan takdir manusia.

Para ulama menyatakan saat Nisfu Syaban, segala takdir manusia akan dicatat di Lauh Mahfuz. Takdir ini tidak dapat diubah karena sudah ditetapkan Allah SWT.

Oleh sebab itu, banyak ulama mengajurkan umat Islam memperbanyak berdoa. Ini agar Allah tidak memberikan takdir buruk kepadanya.

Namun, apakah pendapat ini benar adanya?

Dikutip dari NU Online, ada beberapa dalil yang dijadikan dasar mengenai hal ini. Beberapa di antaranya disebutkan Syeikh Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Ma Dza fi Syaban.

Dalil yang dikemukakan Syeikh Muhammad diakui sebagian ada yang dhaif. Namun demikian, hadis tersebut dapat dipakai sebatas untuk memicu semangat umat Islam agar tekun beribadah.

1 dari 2 halaman

Dalil Landasannya

Pemahaman yang menyatakan Nisfu Syaban adalah saat ditetapkannya takdir manusia berangkat dari pandangan atas tafsir dari ayat 3-4 Surat Ad Dukhan.

" Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami adalah para pemberi peringatan. Di dalamnya dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah."

Beberapa ahli tafsir, salah satunya Al Qurtubi, memaknai malam yang diberkahi dalam ayat di atas adalah Nisfu Syaban. Pandangan ini diperkuat oleh sejumlah hadis lain.

Namun demikian, pemahaman di atas justru menuai polemik. Jumhur ulama malah berpandangan makna 'malam yang diberkahi' adalah Lailatul Qadar.

 

2 dari 2 halaman

Perbedaan Tafsir

Terkait polemik ini, Syeikh Muhammad memberi penjelasan yang terang dalam kitabnya Mafahim Yajibu an Tushahhah. Penafsiran 'malam yang berkah' menjadi Lailatul Qadar berdasarkan metode tarjih, yaitu mengunggulkan satu riwayat dibandingkan lainnya.

Sedangkan penafsiran 'malam yang berkah' menjadi Nisfu Syaban didasarkan pada metode jam'ur riwayat. Para ulama mengumpulkan banyak riwayat dan memberikan titik pemahaman.

Sehingga, penyebutan Nisfu Syaban sebagai malam ditetapkannya takdir manusia adalah benar berdasarkan metode jam'ur riwayat. Untuk memperkuat pendapatnya, Syeikh Muhammad mengutip riwayat Abu Dluha dari Ibnu Abbas RA.

" Sesungguhnya Allah menetapkan putusan dan takdir pada malam Nisfu Sy’ban dan menyerahkannya pada para pengampunya pada malam Lailatul Qadar."

Sumber: NU Online.

Beri Komentar
Terima Kritik Pedas, Nada Zaqiyyah: Ternyata Adik Kelas Aku Sendiri