Perjuangan Slamet Hariadi, Putus Sekolah Demi Bantu Orangtua

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 23 Mei 2016 20:02
Perjuangan Slamet Hariadi, Putus Sekolah Demi Bantu Orangtua
Usia Slamet sudah 13 tahun, tapi pendidikannya masih kelas 2 SD. Ini lantaran dia tidak tega melihat ayahnya pergi ke tempat kerja dengan meraba-raba jalan karena tidak bisa melihat.

Dream - Perawakan anak itu sudah tidak seperti bocah kecil lagi. Tinggi tubuhnya tanggung, lebih tepat jika masuk kategori remaja. Dengan tubuh seperti itu, seharusnya dia sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Tapi, apa yang dialami Slamet Hariadi, 13 tahun, bocah berpostur tubuh remaja itu jauh dari ideal. Dia yang tinggal di Dusun Sadeng RT 12 RW 2 Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur ini masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD).

Bukan lantaran Slamet kurang rajin, melainkan kondisi keluarganya yang mengharuskan remaja ini berhenti sekolah. Ayahnya, Sobirin, 47 tahun, merupakan penyandang tunanetra dan ibunya, Kalimah, 57 hanya ibu rumah tangga biasa, seperti ditulis oleh pengelola akun Fanpage Facebook Wajah Pribumi Solidarity.

Sobirin mengalami gangguan pada bagian mata sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Tidak jelas apa yang membuat kondisinya seperti itu. Dia hanya mampu menangkap bayang-bayang dari setiap objek yang dilihatnya.

Meski begitu, Sobirin bukan seorang pria lemah. Dalam kondisi seperti itu, dia masih sanggup bekerja sebagai pengumpul pasir sungai untuk bahan bangunan. Lantaran pandangannya yang terbatas, Sobirin harus diantar ke tempat kerjanya oleh Slamet, terkadang istrinya.

Kondisi itu membuat Slamet terpaksa meninggalkan sekolah. Dia tidak ingin orangtuanya kesulitan. Alhasil, selain memapah ayahnya pergi bekerja, Slamet harus mencari rumput sebagai pakan kambing untuk membantu perekonomian keluarga.

Sobirin bersama Kalimah dan Slamet tinggal di sebuah rumah setengah jadi. Rumah itu berdinding batako kasar. Tidak tampak sentuhan finishing di bangunan tersebut, minimal plester semen. Lantainya pun masih berupa tanah.

Slamet sebenarnya memiliki dua orang kakak. Keduanya sudah menikah dan kini, rumah itu hanya dihuni oleh ketiganya.

Tidak ada barang berharga satupun terdapat dalam rumah tersebut, termasuk televisi ataupun radio. Hanya ada sepeda tua teronggok di salah satu sudut rumah. Entah, tak ada yang tahu apakah sepeda tersebut masih dapat digunakan atau tidak.

Selengkapnya, baca pada tautan ini.

(Ism) 

Beri Komentar