Ketabahan Bapak Tua Penjual Amplop

Reporter : Ayik
Senin, 22 September 2014 14:30
Ketabahan Bapak Tua Penjual Amplop
Ketabahan pria paruh baya itu dalam berjualan menarik simpatik pejalan kaki. Dan demi membeli satu bungkus nasi saja ia harus menjual puluhan bungkus amplop.

Dream - Memiliki penghasilan tetap serta kedudukan yang layak mungkin tak dirasakan sebagian orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang kurang tinggi. Ini bisa terlihat dari sosok pria paruh baya duduk di salah satu sudut Masjid Salman ITB, Bandung.

Di antara pedagang lainnya yang memiliki modal lebih besar menjual memilih pakaian, makanan atau elektronik. Namun, pria paruh baya itu rupanya tengah menjajakan barang dagangannya yakni amplop.

Ketika sebagian penjual ramai dikunjungi pembeli, ia hanya bisa meratapi karena tak satu pun dari orang-orang yang lewat menengok barang dagangannya. Sampai suatu saat seorang pemuda menghampiri pria itu bermaksud ingin membeli beberapa amplop.

Kaget bukan kepalang saat ditanya berapa harga amplop yang dijualnya. " 10 amplop saya jual seharga Rp 1.000" , kata pria itu. Kenapa semurah itu, ia lantas menunjukan kwitansi pembelian amplop yang seharga Rp 7.500, berarti ia hanya mengambil untung Rp 250 saja.

Bagi Anda berpenghasilan lebih, uang sekecil itu tentu tidak ada artinya. Namun uang Rp 1.000 ternyata begitu penting bagi pria itu. Demi membeli satu bungkus nasi saja ia harus menjual puluhan bungkus amplop.

Penasaran dengan ketabahan si penjual amplop? Yuk simak kisahnya disini http://bit.ly/1uvhMZo

Kisah-kisah menarik banyak terjadi di sekitar kita. Dari kejujuran bocah penjual tisue di Setiabudi, Jakarta Selatan, mualaf yang dilempar kepala babi, sampai 'kesuksesan' haji nunut. Ini lengkapnya:

Kirimkan blog atau website kamu kekomunitas@dream.co.id, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Lampirkan satu paragraf dari konten blog/website yang ingin dipublish
2. Sertakan link blog/web
3. Foto dengan ukuran high-res

1 dari 3 halaman

Kejujuran Bocah Penjual Tisue

Kejujuran Bocah Penjual Tisue © Dream

Dream - Kejujuran, sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang langka dan sangat mahal harga. Memang ketika kita merasa senang dan segalanya berjalan lancar, mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit.

Tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang dipegang berbenturan dengan perasaan, kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya? Atau kita biarkan tergilas oleh keadaan. Inilah kisah kejujuran bocah penjual tisue di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Ini lengkapnya http://bit.ly/1tUO4N1 (Ism)

2 dari 3 halaman

Kepala Babi untuk si Mualaf

Kepala Babi untuk si Mualaf © Dream

Dream - William Henry Quilliam, profesor hukum dari Inggris merupakan muslim pertama di negara itu. Quilliam yang membuka Institut Muslim Liverpool pada 1889 dikenal melawan arus masyarakat tempatnya karena berani masuk Islam.

Quilliam masuk Islam dua tahun sebelum mendirikan institut. Setelah menjadi mualaf, dia mengganti nama menjadi Abdullah. Institut Muslim Liverpool kemudian disulapnya menjadi Masjid. Dia pernah dilempar kepala babi oleh pembencinya. Ini lengkapnya http://bit.ly/1tSKB46  (Ism)

3 dari 3 halaman

Penyusup ke Tanah Suci

Penyusup ke Tanah Suci © Dream

Dream - 'Kaji nunut'. Mungkin Anda pernah mendengar kisah ini. Cerita Choiron Nasichin, yang menyusup ke pesawat haji untuk pergi ke Tanah Suci. Pria asal Jombang, Jawa Timur, itu tak punya uang untuk berhaji.

Sehingga pada 1992, dia diam-diam nebeng pesawat rombongan haji yang berangkat dari Bandara Juanda. Choiron memang sudah ngebet naik haji sejak awal 1990. Namun, dia tak punya uang untuk membayar ongkos haji yang kala itu berkisar Rp 6 juta. Bagaimana selanjutnya? Ini lengkapnya http://bit.ly/1pwuQZY (Ism)

Beri Komentar