Jejak Purbaya Setahun Jadi Menkeu: “To the Moon”, “Masih Bisa Senyum”, Akhirnya “Sudah Mati”
© 2026 Purbaya Yudhi Sadewa (Instagram @menkeuri)
Reporter : Okti Nur
Dari “to the moon” hingga “kita sudah mati”, perjalanan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan dipenuhi pernyataan viral.
DREAM.CO.ID - Purbaya Yudhi diganti. Posisinya sebagai Menteri Keuangan kini dijabat Suahasil Nazara. Sebelum pencopotan itu, Purbaya masih bertugas. Dia memimpin rapat gabungan di DPD RI.
Di tengah rapat itulah dia menerima panggilan. Paparan Purbaya disela salah satu pimpinan DPD, yang menyampaikan informasi adanya panggilan dari Menteri Sekretaris Negara.
Tayangan siaran langsung YouTube DPD RI pun terjeda. Setelah itu, paparan beralih ke Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard.
Rekaman lain menunjukkan Purbaya bercakap lewat telepon di luar ruangan. Purbaya yang berkemeja batik biru terlihat serius meladeni percakapan dengan lawan bicara di seberang telepon.
Video yang merekam momen itu viral. Banyak yang menduga itulah telepon dari Istana. Tak sedikit yang mengaitkan panggilan tersebut dengan pencopotan Purbaya.
Itu bukan satu-satunya video tentang Purbaya yang membetot perhatian publik. Sejak dilantik menggantikan Sri Mulyani pada 8 September 2025, sudah bejibun video yang jadi sorotan.
Dia membuat kontroversi setelah dilantik. Komentarnya tentang tuntutan “17+8” dari masyarakat yang menggelar unjuk rasa menuai kecaman. Purbaya pun minta maaf setelah mendapat banyak reaksi negatif.
Selama setahun menjabat Menkeu, memang banyak momen viral Purbaya. Video-video yang menjadi sorotan di media sosial itu bahkan terjadi hingga pencopotannya.
Inilah beberapa diantara momen viral tentang Purbaya Yudhi Sadewa:
1. Tuntutan 17+8
Pada 8 September 2025, setelah dilantik menggantikan Sri Mulyani, Purbaya menanggapi tuntutan 17+8 yang disuarakan masyarakat.
Kala itu dia memang mengaku belum mempelajari tuntutan itu. Meski demikian, dia berani menilai tuntutan itu datang dari sebagian kecil masyarakat yang hidupnya masih kurang.
“Itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa? mungkin sebagian ngerasa keganggu hidupnya, masih kurang ya,” kata Purbaya.
Dia mengatakan, tuntutan itu otomatis hilang jika berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi 6-7 persen. “Mereka akan sibuk mencari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo,” katanya sambil tersenyum.
Pernyataan itu memantik reaksi publik. Dia dinilai tidak peka dengan kondisi masyarakat. Hingga akhirnya Purbaya meminta maaf pada 9 September 2025.
“Kemarin salah ngomong, saya minta maaf,” kata Purbaya. Dia sadar, kalau ada masyarakat yang sampai demo itu artinya bukan sebagian kecil yang merasakan tekanan ekonomi. Dia bertekad memperbaiki kondisi ekonomi agar lebih baik.
2. Menteri Cowboy
Saat melakukan seremonial serah terima jabatan di Kementerian Keuangan 9 September 2025, Purbaya memberi sambutan. Berdiri di samping Sri Mulyani, yang digantikan.
Kala itu dia menyebut dirinya sebagai pejabat baru yang masih harus belajar.
“Ini kan saya masih pejabat baru di sini, menterinya juga menteri kagetan. Jadi kalau ngomong, katanya Bu Sri Mulyani gayanya cowboy,” kata Purbaya.
Gaya itu, menurut Purbaya, tak jadi soal saat masih menjabat di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) karena tidak ada yang memonitor. Namun, kondisi di kementerian berbeda.
“Ternyata di keuangan beda, Bu. salah ngomong dipelintir sana-sini. Jadi kemarin kalau ada kesalahan saya mohon maaf, ke depan akan lebih baik lagi,” kata dia.
3. To the Moon
Pada Rabu 26 November 2025, Purbaya semringah saat mendengar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak all-time high. IHSG sore itu ditutup memecahkan rekor baru pada level 8.602.
“To the moon, to the moon!” ujar Purbaya sambil tersenyum lebar di Kemenko Perekonomian, Jakarta.
Ia juga berseloroh, rekor baru itu tidak lepas dari kinerjanya, sambil menunjuk ke dirinya sendiri. Namun kemudian buru-buru mengatakan IHSG menghijau karena perekonomian membaik.
Purbaya juga memakai istilah to the moon pada Senin 16 Maret 2026. Kala itu IHSG terkoreksi sejak awal tahun. Pada Senin itu, misalnya, IHSG anjlok 114,92 poin atau turun 1,61 persen ke level 7.022,29.
Namun Purbaya tetap yakin pasar saham Indonesia memenuhi target ke angka 10.000.
“To the moon tetap 10 ribu masih bisa, bisa karena memang ekonomi memang baik,” ujar Purbaya.
Namun di hari terakhir Purbaya sebagai Menkeu, IHSG malah tertekan hingga menyentuh 6.371,40 atau turun lebih dari 2,5 persen dari pembukaan.
Indeks kemudian berbalik menjelang penutupan, setelah sempat tertekan sekitar 2,5 persen. IHSG ditutup di 6.534,69 ketika Suahasil dilantik menggantikan Purbaya.
Hingga akhir pengabdian Purbaya sebagai Menkeu, IHSG gagal to the moon!
4. Selama Purbaya Masih Bisa Senyum
Ini kelakar Presiden Prabowo Subianto. Saat meresmikan operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16 Mei 2026, Prabowo menyinggung popularitas Purbaya dan meminta masyarakat tak khawatir dengan kondisi ekonomi nasional.
“Purbaya sekarang populer banget. Purbaya ini. Selama Purbaya bisa senyum? Tenang saja. Tidak usah khawatir itu,” ujar Prabowo.
Kala itu memang kondisi ekonomi jadi sorotan, terlebih nilai tukar rupiah terus merosot dibanding dolar. Sehingga pada kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung orang desa tidak pakai dolar.
“Kalian di desa-desa tidak pakai dolar. Yang pusing yang itu, yang suka keluar negeri,” tutur Prabowo.
Kala itu, rupiah memang lagi ambruk. Pada penutupan perdagangan Jumat 15 Mei 2026, sehari sebelum pidato Prabowo itu, rupiah berada pada level 17.596 per dolar AS. Pada bulan-bulan setelah pidato itu, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS.
Pada 14 September 2026, saat Purbaya diberhentikan dari jabatan Menkeu, rupiah diperdagangkan pada rentang Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS. Lebih lemah dari nilai tukar saat Prabowo menyampaikan pidato tentang “senyum Purbaya” itu.
5. Tarik Rp120 Triliun dari Danantara
Awal September 2026 Purbaya kembali menyedot perhatian. Kali ini soal rencana setoran Rp120 triliun dari Danantara ke kas negara.
Dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Kamis 3 September 2026, Purbaya mengatakan dana tersebut berasal dari sebagian keuntungan Danantara dan akan menjadi cadangan anggaran pemerintah.
“Walaupun mereka masih protes, tapi perintah Bapak Presiden sebagian keuntungan Danantara dijadikan cadangan anggaran pemerintah,” kata Purbaya.
Ketika ditanya mengenai sumber dana tersebut, Purbaya menjawab, “Dari keuntungan. Mungkin (dividen), saya nggak tahu nanti, yang janji kan Pak Rosan ke Bapak Presiden. Saya terima aja, kan enak.”
Purbaya juga menyebut angka Rp120 triliun tersebut lebih besar dibandingkan dividen BUMN yang sebelumnya masuk ke negara, sekitar Rp90 triliun per tahun. Tambahan penerimaan itu, kata Purbaya, akan memperkuat ruang fiskal pemerintah.
Namun, enam hari kemudian, pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari CEO Danantara Rosan Roeslani. Pada 9 September 2026, Rosan membantah telah ada pembahasan mengenai setoran Rp120 triliun tersebut.
“Apanya? Orang belum ada pembahasan apa-apa kok,” ujar Rosan di Jakarta.
Perbedaan ini memantik tanya: apakah keuntungan Danantara tetap dikelola untuk investasi atau sebagian dapat ditarik ke kas negara untuk memperkuat APBN.
Belum juga silang pendapat itu usai, Purbaya sudah lengser dari kursi Menkeu.
6. Kita Sudah Mati, Santai Saja
Purbaya kembali berseloroh pada 8 September 2026. Kali ini soal utang proyek kereta cepat Whoosh. Dia menjelaskan utang tersebut direstrukturisasi dengan tenor 80 tahun. Cicilan per tahun sekitar Rp1 triliun.
Alih-alih menganggap utang itu sebagai beban, Purbaya justru menanggapinya dengan guyonan. “Iya kita sudah mati, santai saja,” ujar Purbaya.
Menurut Purbaya, setelah direstrukturisasi, beban utang Whoosh tidak seseram yang sebelumnya dibayangkan. Pemerintah, kata dia, masih dapat menangani cicilan tersebut.
Belum sepekan setelah pernyataan itu, Purbaya dicopot!