Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Bakar Sampah Sembarangan Sangat Berbahaya/ Foto: Unsplash
Reporter : Mutia Nugraheni
Survei Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2023, sekitar 57% hingga 57,2% rumah tangga di Indonesia masih mengelola sampah dengan cara dibakar.
DREAM.CO.ID - Masih banyak orang menganggap kalau membakar sendiri sampah rumah tangga jadi solusi praktis dan minim biaya. Mungkin bagi mereka yang melakukannya, membakar sampah adalah hal biasa dan tak merugikan.
Sudah banyak di media sosial insiden membakar sampah sendiri di area pemukiman, berujung konflik. Sampai petugas RT hingga pihak keamanan harus turun tangan dan jadi viral. Tak dipungkiri kalau beberapa orang belum tahu bahaya dan efeknya membakar sampah rumah tangga sendiri di sekitar tempat tinggal.
Mereka cenderung hanya mencari cara cepat agar tumpukan sampah tidak ada lagi atau tak mau membayar petugas pengangkut sampah seara rutin. Kondisi ini memang sangat memprihatinkan dan perlu edukasi secara terus-menerus pada masyarakat soal bahaya membakar sampah sendiri.
Faktanya, menurut survei Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2023, sekitar 57% hingga 57,2% rumah tangga di Indonesia masih mengelola sampah dengan cara dibakar. Membakar sampah di area rumah bukan hanya soal memicu masalah pernapasan tapi juga jadi polusi mikroplastik yang dapat berkembang penyakit berbahaya jangka panjang.
Kemasan plastik mengandung senyawa kimia yang berbahaya, dan saat terlepas ke udara melalui pembakaran bisa menghasilkan nitrogen oksida, sulfur dioksida, serta VOC (Volatile Organic Compounds) atau kelompok bahan kimia berbasis karbon dan mudah menguap. Lalu, pembakaran juga membuat sampah plastik melebur menjadi mikroplastik dan mencemari area sekitar.
Mikroplastik di Udara
Paparan mikroplastik di lingkungan saat ini sedang jadi isu karena levelnya sudah mengkhawatirkan. Mikroplastik sendiri, dikutip dari Kemkes.go.id, adalah partikel atau fragmen plastik berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 5 milimeter hingga 1 mikrometer.
Meskipun plastik dipasarkan sebagai produk sekali pakai, penting untuk dipahami bahwa plastik tidak musnah begitu saja saat dibuang. Sebaliknya, plastik tersebut terurai menjadi partikel-partikel yang semakin kecil, salah satunya lewat pembakaran sampah plastik sembarangan.
Dikutip dari IPB menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, SSi, MBiomed, pembakaran sampah plastik dapat mengontaminasi area di sekitar.
“Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan,” ujar Diah.
Jadi jika kita sembarangan membakar sampah plastik, bukan hanya membuat udara di sekitar jadi berkualitas sangat buruk, tapi juga meningkatkan level mikroplastik. Tentunya menghirup mikroplastik, ditambah polusi udara, akan sangat buruk bagi kesehatan.
Meskipun ada banyak cara mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia, terhirup merupakan salah satu jalur utama paparan. "Terdapat berbagai penelitian yang mendokumentasikan bahwa kita menghirup plastik dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada perkiraan berdasarkan studi toksikologi sebelumnya mengenai partikel di udara, hal ini mengkhawatirkan," ujar dr. Rebecca Florsheim, Clinical Associate Professor, di Department of Medicine di NYU Grossman School of Medicine dikutip dari Lung.org.
Penelitian telah menemukan bahwa mikroplastik dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan mencapai alveoli. Sangat mengkhawatirkan.
Risiko Kesehatan yang Mengintai
Mikroplastik, dikutip dari Tirta.co.id dapat terhirup melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam saluran pernapasan. Partikel-partikel mikroplastik yang sangat kecil ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru, menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan memicu peradangan kronis.
Benekdita dari IPB juga menjelaskan kalau secara biomedis, zat dioksin dan furan yang muncul dari pembakaran sampah plastik termasuk dalam kelompok polutan organik persisten yang dapat bertahan sangat lama di dalam tubuh manusia.
"Paparan zat tersebut dalam jangka panjang bersifat genotoksik karena mampu merusak DNA. Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker," ungkapnya dikutip dari IPB.ac.id.
Penelitian juga menunjukkan bahwa mikroplastik yang terhirup dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan dapat menetap di organ pernapasan. Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik di udara dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan bahkan kanker paru.
Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik yang terhirup dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan dapat menetap di organ pernapasan. Dari sekian banyak dampak buruk dari mikroplastik di udara yang mungkin muncul, mulai sekarang jangan pernah bakar sampah plastik sembarangan.