Top 3 Sustainable Fashion Brand Tanah Air dengan Desain Khas Berkelas

Lifestyle | Jumat, 11 September 2026 16:13

Reporter : Mutia Nugraheni

Faktanya, 66% masyarakat dewasa di Indonesia membuang sedikitnya satu pakaian mereka, 25% diantaranya membuang lebih dari 10 pakaian mereka dalam setahun.

Jakarta - Tren dan model pakaian berubah dengan sangat cepat. Outfit yang kamu pakai tahun ini, dalam dua atau bahkan satu tahun mendatang, bisa jadi tak lagi sesuai dengan tren. Sayangnya, banyak orang yang hanya sekadar mengikuti tren saat memilih pakaian, dan hal tersebut membuat koleksi pakaian jadi sangat bertumpuk di rumah.

Coba tengok lemari pakaian kamu, apakah pakaian lama memenuhi walk-in closet, laci dan menumpuk di kamar? Jika jawabannya iya, berarti cukup banyak limbah fashion yang ada di rumah. Apalagi ada yang punya kebiasaan hanya pakai outfit satu hingga dua kali saja, kemudian langsung 'dipensiunkan'. Penelitian YouGov, dikutip dari Waste4Change.com mencatat bahwa 66% masyarakat dewasa di Indonesia membuang sedikitnya satu pakaian mereka, 25% diantaranya membuang lebih dari 10 pakaian mereka dalam setahun. 

Limbah pakaian ini sedang banyak dibicarakan dan jadi isu global. Faktanya, industri fashion termasuk salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Menurut Komisi Ekonomi Eropa PBB, setiap tahunnya industri fashion dunia menyumbang sekitar 10% emisi karbondioksida di bumi dan 20% limbah air bumi.

Berbagai cara dilakukan untuk meredam limbah fashion ini. Salah satunya dengan membuatnya jadi lebih bernilai, berkelas dan membuat umur pemakaiannya jadi lebih lama.

 

2 dari 5 halaman

Desain Khas Berkelas

Saat ini bermunculan brand fashion ramah lingkungan atau memiliki konsep berkelanjutan (sustainable). Banyak brand lokal dan internasional yang menganut konsep sustainable ini. 

Ada brand yang mendapatkan material bahan untuk membuat koleksinya dengan memanfaatkan limbah fashion. Lewat proses dan teknik tertentu, limbah-limbah fashion yang sebelumnya banyak memenuhi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, dan jadi polusi, dipilah dan diproses jadi material utama untuk membuat busana-busana cantik.

Beberapa brand dan desainer Indonesia juga begitu selektif memilih material bahan untuk dijadikan busana. Hanya menggunakan bahan yang bersertifikasi ramah lingkungan dan dalam pembuatannya menerapkan konsep berkelanjutan (sustainability). 

Desainer pun tak sekadar mengolah material tersebut jadi busana siap pakai, tapi juga memiliki desain berkelas, bernilai ekonomis tinggi, yang ternyata diterima dengan sangat baik oleh para pecinta fashion Tanah Air. Hal ini terbukti dari beberapa peluncuran beberapa brand fashion tak butuh waktu lama untuk terjual habis.

Dengan desainnya yang khas, bernilai seni, memiliki identitas yang sangat 'Indonesia' serta ramah lingkungan, brand fashion lokal ini juga laris manis ketika dijual kembali. Ada juga yang jadi favorit outfit di gerai-gerai penyewaaan busana karya desainer. Penasaran apa saja?

 

3 dari 5 halaman

Sejauh Mata Memandang (SMM)

Brand fashion ini memiliki desain yang begitu khas Indonesia dengan sentuhan modern. Dibangun oleh Chitra Subyakto pada 2014, brand Sejauh Mata Memandang sejak awal dibuat sudah menganut konsep sustainibility dan circular fashion. Material yang digunakan Chitra untuk membuat koleksinya dengan warna-warna indigo antara lain linen, katun organik dan tencel.

Dikutip Sejauh.com, SMM berfokus pada upaya mencegah limbah dan mengurangi dampak lingkungan dengan menerapkan prinsip-prinsip sirkularitas. Pendekatan tersebut menciptakan siklus berkelanjutan di mana material digunakan selama mungkin.

Setiap produknya juga dirancang agar dapat digunakan kembali, diperbaiki, terurai secara alami, dan didaur ulang, tanpa mengesampingkan keindahannya.

Dengan kreativitas Chitra, brand fashion ini bisa dibilang saat ini jadi top tier dalam hal green fashion di Indonesia. Bukan hanya karena konsepnya tapi juga desainnya yang begitu khas dan artsy. 

 

4 dari 5 halaman

Adrie Basuki

Perancang busana Adrie Basuki juga salah satu insan fashion Tanah Air yang fokus mengolah limbah fashion. Ia membuat kain Marmer, inovasi material yang mengubah pakaian bekas dan limbah tekstil menjadi lembaran baru dengan karakter visual menyerupai motif marmer alami. 

Banyak pendekatan daur ulang tekstil lain yang fokus pada katun yang relatif mudah diproses kembali menjadi benang, sementara kain marmer mengolah material limbah fashion tanpa harus mengembalikannya menjadi benang. Kain tersebut kemudian bisa diolah menjadi karya-karya outfit yang anggun.

Adrie, dikutip dari Liputan6.com, bersama timnya mentransformasi 6.689 potong pakaian bekas, mengolah 949 kilogram limbah tekstil, menghasilkan 779 meter kain marmer, serta menciptakan 906 produk fashion yang mencakup busana siap pakai, couture, aksesori, karya seni, serta berbagai eksplorasi desain lainnya.

 

5 dari 5 halaman

Sare Studio

Kali ini sustainable fashion brand datang dari koleksi piyama atau baju tidur yaitu Sare Studio. Merek piyama lokal ini didirikan pada 2015  Cempaka Asriani dan Putri Andam Dewi. SARE Studio konsisten menggunakan serat kain alami premium yang diperoleh dari sumber berkelanjutan seperti Tencel, dan LENZING™ ECOVERO™.  

Brand ini juga sering membuat green program untuk para konsumennya seperti re-Sare, di mana konsumen dapat mengembalikan pakaian tidur bekas untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali dan diproses menjadi insulator, peredam suara dan juga benang.

 

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id