Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antara Media Sosial Dan Buku - Image By AI
Reporter : Kojiro Hyu
Kebiasaan membaca mengasah critical thinking dan itu akan membawa Indonesia lebih pintar. Sayangnya, minat baca kini sudah turun dan pernyataan tentang Indonesia Emas mungkin sebatas mimpi.
Informasi kini bisa didapatkan dengan mudah melalui media sosial. Tanpa membuka buku atau membaca artikel panjang, seseorang bisa mengetahui berbagai hal hanya dengan menonton video singkat. Namun, apakah kemudahan mendapatkan informasi otomatis membuat kita lebih memahami dunia?
Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana Wardayanti Premadi, menyoroti pentingnya membangun kebiasaan membaca sejak dini. Menurutnya, kemampuan membaca tidak cukup hanya diajarkan, tetapi juga perlu terus dipupuk agar anak mampu memahami informasi dan mengembangkan pemikiran kritis.
Dalam podcast Endgame Gita Wirjawan episode 280, Premana mengungkapkan bahwa ada perubahan dalam tuntutan kemampuan membaca anak. Jika dahulu anak belajar membaca ketika masuk sekolah dasar (SD), kini mereka justru diharapkan sudah memiliki kemampuan tersebut sejak awal masuk sekolah.
Persoalannya, kemampuan membaca yang sudah dimiliki anak belum tentu dikembangkan lebih lanjut. Padahal, membaca bukan hanya soal mengenali huruf dan merangkai kata menjadi kalimat, melainkan juga memahami apa yang dibaca.
"Critical thinking jadi tidak terbentuk," ujar Premana.
Membaca Bukan Sekadar Bisa Mengenali Kata
Kemampuan membaca menjadi salah satu modal penting bagi anak untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri. Melalui bacaan, mereka dapat memahami persoalan, menghubungkan berbagai informasi, dan mencari jawaban atas pertanyaan yang muncul.
Namun, jika kemampuan tersebut tidak terus dilatih, anak berisiko kesulitan memahami informasi yang lebih kompleks. Dampaknya bukan hanya pada kemampuan mengerjakan soal di sekolah, tetapi juga pada cara mereka belajar dan memahami berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Premana menyoroti pentingnya membiasakan anak membaca agar mereka memiliki bekal untuk mencari pengetahuan berdasarkan kebutuhan dan upayanya sendiri.
Tanpa kebiasaan tersebut, seseorang bisa lebih bergantung pada informasi yang disediakan oleh orang lain. Alih-alih aktif mencari tahu, mereka cenderung menerima apa yang datang kepada mereka.
Di sinilah persoalan membaca bertemu dengan perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi.
Ketika Media Sosial Menyediakan Semua Informasi
Kehadiran media sosial membuat informasi semakin mudah dijangkau. Pengguna tidak selalu perlu mencari topik tertentu karena berbagai informasi bisa muncul dengan sendirinya di halaman rekomendasi.
Bagi Premana, kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Media sosial memungkinkan seseorang mendapatkan informasi tanpa harus membaca, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan informasi yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
"Makanya, medsos ini menjadi laku sekali. Orang gak perlu membaca sudah terima informasi yang dia perlukan. Bahkan informasi yang tidak dia perlukan juga datang. Dua-duanya datang secara bersamaan," lanjutnya.
Kemudahan ini memang membuat akses terhadap informasi terasa lebih praktis. Akan tetapi, mendapatkan informasi tidak selalu sama dengan memahami informasi tersebut.
Seseorang bisa mengetahui banyak hal dari video singkat yang ditontonnya, tetapi tetap membutuhkan kemampuan untuk menilai, menghubungkan, dan memahami informasi yang diterima. Tanpa kebiasaan membaca dan belajar secara mandiri, proses memahami sesuatu berisiko berhenti pada informasi yang disajikan di hadapannya.
Masalahnya semakin kompleks ketika kebiasaan membaca tidak lagi mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga.
Ketika Membaca Tidak Lagi Menjadi Kebiasaan di Rumah
Menurut Premana, perubahan pola konsumsi informasi juga berkaitan dengan berkurangnya kehadiran bahan bacaan di rumah. Koran dan majalah yang dahulu menjadi salah satu sumber informasi keluarga kini semakin jarang dijumpai, sementara gawai menjadi sarana yang lebih mudah diakses.
"Sekarang koran tidak terlalu hadir di rumah, majalah juga begitu. Informasi sudah ada di gawai. Berjalan dengan sistem algoritma kalau sekarang sebutannya."
Perubahan ini membuat kebiasaan membaca perlu dibangun secara sadar. Anak tidak cukup hanya dituntut bisa membaca ketika masuk sekolah, tetapi juga perlu mendapatkan lingkungan yang mendorong mereka terus melakukannya.
Ketika membaca menjadi bagian dari keseharian, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal berbagai gagasan dan mengembangkan rasa ingin tahu. Sebaliknya, jika aktivitas tersebut semakin jarang dilakukan, kesempatan untuk melatih kemampuan memahami bacaan juga semakin terbatas.
Persoalan ini bukan semata-mata tentang memilih buku daripada gawai. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana seseorang membangun kemampuan untuk memahami informasi, alih-alih hanya menerimanya.
Gita Wirjawan Soroti Budaya Konsumsi Konten
Menanggapi pandangan Premana, Gita Wirjawan turut menyoroti kebiasaan masyarakat mengonsumsi konten di media sosial. Ia menggunakan istilah "Tiktokisme" untuk menggambarkan fenomena yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius.
"Sebenarnya Tiktokisme ini sudah jadi penyakit yang harus diobati. Tentu banyak konten yang bisa dinikmati sebagai informasi, tapi terlalu banyak konten juga yang tidak bijaksana. Dan ini diabaikan oleh para pemangku. Selama itu tidak disikapi ulang, selama nasib guru tidak diperhatikan, maka restorasi tentang keemasan Indonesia, kesalahparkirannya tidak bisa diunder estimated."
Pernyataan tersebut memperluas pembahasan dari kebiasaan individu menuju persoalan pendidikan dan peran berbagai pemangku kepentingan. Bagi Gita, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari perhatian terhadap kualitas pendidikan dan nasib guru.
Pada akhirnya, kemudahan mengakses informasi melalui media sosial bukan berarti membaca kehilangan relevansinya. Justru ketika informasi datang begitu deras, kemampuan memahami apa yang diterima menjadi semakin penting.
Membaca memberikan kesempatan bagi seseorang untuk belajar dengan lebih mendalam, mencari pengetahuan secara mandiri, dan mengembangkan cara berpikir kritis. Kemampuan ini tidak terbentuk hanya karena seseorang memiliki akses terhadap banyak informasi, tetapi juga melalui proses belajar yang terus dilakukan.
Jadi, di tengah kemudahan mendapatkan informasi melalui socmed, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kita masih perlu membaca. Lebih jauh dari itu, apakah kita masih mampu memahami informasi secara mandiri jika kebiasaan membaca tidak lagi kita rawat?