Dua Badak Paling Langka di Dunia Masih Bertahan di Indonesia

Stories | Kamis, 24 September 2026 11:00

Reporter : Okti Nur

Dua badak paling langka di dunia kini hanya tersisa puluhan ekor di Indonesia—dan masa depan mereka bergantung pada apakah manusia mampu menyelamatkan rumah terakhirnya.

DREAM.CO.ID - Hanya puluhan. Itu kira-kira jumlah badak Jawa dan badak Sumatera yang masih bertahan di Indonesia, rumah terakhir dua spesies badak paling langka di dunia.

Badak Jawa atau Rhinoceros sondaicus diperkirakan tersisa sekitar 50 ekor. Sementara badak Sumatera atau Dicerorhinus sumatrensis diperkirakan hanya 34 hingga 47 ekor.

Jumlah yang sangat kecil itu membuat ancaman kepunahan bukan lagi persoalan yang jauh. Bagi kedua spesies tersebut, keberlangsungan habitat, kemampuan berkembang biak, hingga perlindungan dari berbagai ancaman menjadi penentu apakah mereka masih akan ada pada masa mendatang.

Persoalan itulah yang kembali mendapat perhatian dunia dalam “A Breakfast for Indonesia’s Rhino” yang digelar Edge Group Conservation dan Re:Wild di New York, Amerika Serikat, Selasa 22 September 2026.

Agenda tersebut mempertemukan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo; CEO Edge Group Conservation Niall McCann; Executive Vice President Re:Wild, Penny Langhammer; CEO Space Intelligence, Murray Collins; mantan Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake; pejabat Kementerian Kehutanan RI, para konservasionis, serta mitra dari berbagai kalangan.

Pertemuan itu menegaskan satu pesan penting: Indonesia merupakan rumah terakhir bagi dua spesies badak paling langka di dunia.

Karena itu, menjaga keberadaan badak Jawa dan badak Sumatera bukan hanya kepentingan nasional, tetapi bagian dari tanggung jawab Indonesia terhadap dunia.

“Indonesia memiliki tanggung jawab sekaligus kesempatan untuk menunjukkan bahwa konservasi alam dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Indroyono dalam forum konservasi di New York.

Dua Spesies, Dua Persoalan

Badak Jawa kini hanya bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Seluruh populasi badak Jawa yang tersisa berada dalam satu kawasan yang sama.

Kondisi itu membuat keberlangsungan hidup spesies tersebut sangat bergantung pada perlindungan habitat, pengawasan yang kuat, pencegahan penyakit, pemantauan ilmiah, serta perencanaan jangka panjang untuk mengurangi risiko kepunahan.

Taman Nasional Ujung Kulon juga merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Rumah terakhir badak Jawa tersebut menjadi titik penting dalam upaya penyelamatan spesies. Gangguan terhadap kawasan itu berarti ancaman terhadap seluruh populasi yang tersisa.

Kerja sama dengan lembaga konservasi internasional menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan tersebut.

Edge Group Conservation menempatkan badak Jawa sebagai fokus awal untuk membangun sistem pencegahan kepunahan yang lebih kuat.

Sementara Re:Wild bekerja bersama mitra Indonesia untuk melindungi badak Jawa sekaligus memperkuat kemungkinan terbentuknya populasi kedua.

Persoalan badak Sumatera sedikit berbeda. Populasinya tersebar dalam kelompok-kelompok kecil dan terpisah di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Di Sumatera, kantong habitat penting badak Sumatera berada di Lanskap Pegunungan Leuser di Aceh, Taman Nasional Way Kambas di Lampung, serta Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Di Kalimantan, masih terdapat populasi kecil di wilayah Kalimantan Timur.

Fragmentasi populasi menjadi tantangan serius karena membuat badak semakin sulit bertemu pasangan dan berkembang biak.

Karena itu, konservasi badak Sumatera tidak cukup hanya dengan menjaga hutan yang tersisa. Diperlukan ruang hidup yang aman, dukungan terhadap reproduksi, serta program penyelamatan dan pengembangbiakan yang dikelola secara baik.

Re:Wild bekerja bersama mitra Indonesia untuk membantu penyelamatan dan pengembangbiakan badak Sumatera yang populasinya masih terisolasi.

Agar Tak Berakhir di Buku Sejarah

Kedua spesies tersebut berada dalam status kritis dengan tingkat ancaman kepunahan yang sangat tinggi.

Karena itu, perlindungan badak memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar pelestarian satwa. Ada keberlanjutan ekosistem, kekayaan biodiversitas, serta warisan alam untuk generasi mendatang yang ikut dipertaruhkan.

Komitmen Indonesia diperkuat melalui Keputusan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2026 yang membentuk Satgas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional.

Satgas tersebut diarahkan untuk menyiapkan strategi pembiayaan konservasi periode 2026–2030. Pemerintah juga telah menetapkan 13 taman nasional sebagai proyek percontohan pengembangan kawasan konservasi berstandar internasional, termasuk Taman Nasional Ujung Kulon.

Namun, penyelamatan badak tidak bisa dikerjakan sendirian. Pemerintah, lembaga konservasi, dunia usaha, filantropi, ilmuwan, masyarakat, dan mitra internasional dibutuhkan untuk memastikan dua spesies tersebut tetap memiliki ruang untuk bertahan dan berkembang biak.

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari berapa banyak badak yang tersisa hari ini.

Yang lebih penting adalah memastikan generasi mendatang tidak hanya mengenal badak Jawa dan badak Sumatera melalui foto, museum, atau buku sejarah.

Mereka harus tetap memiliki kesempatan untuk menyaksikan dua satwa langka itu hidup di habitat alaminya.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id