© 2026 Pexels.com - Sang Adjie
DREAM.CO.ID - Jasad seorang awak kapal yang ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan sebagai Surakman (60), salah satu dari tiga kru speedboat yang membawa lima jurnalis, yang dinyatakan hilang kontak saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026.
Kepastian itu diperoleh melalui pencocokan DNA dan dikonfirmasi Kapolda Banten Irjen Pol Hengki pada Rabu 23 September 2026. Surakman merupakan bagian dari rombongan delapan orang yang hilang kontak ketika menuju perairan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.
Temuan tersebut membawa kepastian bagi keluarga Sukarman yang selama hampir dua pekan menunggu. Namun bagi keluarga tujuh orang lainnya yang masih belum diketahui keberadaannya, temuan itu menjadi petunjuk.
Oleh karena itulah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat meminta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama tim SAR gabungan TNI dan Polri membuka kembali operasi pencarian.

“ Penemuan jasad salah satu kru kapal ini merupakan bukti otentik pertama sejak hilangnya rombongan. Ini mematahkan segala spekulasi dan menjadi petunjuk arah baru mengenai keberadaan kapal serta para penyintas lainnya,” ujar Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo.
PFI meminta lokasi ditemukannya jasad Surakman menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kembali wilayah pencarian.
PFI mendorong penyisiran dilakukan secara intensif di sekitar perairan tempat jasad ditemukan serta jalur perairan yang menghubungkan kawasan Selat Sunda dengan Pulau Enggano.
Operasi pencarian sebelumnya dihentikan setelah berlangsung selama 10 hari, pada 17 September 2026. Saat itu, keberadaan speedboat Arupadhatu I dan delapan orang di atasnya belum ditemukan. Tim SAR telah melakukan pencarian melalui jalur laut, udara, dan darat di sejumlah sektor Selat Sunda.

Sejumlah benda sempat ditemukan selama pencarian, tetapi setelah diperiksa tidak ada yang dapat dipastikan berkaitan dengan Arupadhatu I. Basarnas, misalnya, memastikan terpal berukuran sekitar 10 x 10 meter yang ditemukan di laut bukan bagian dari perlengkapan kapal tersebut.
Saat operasi dihentikan, otoritas SAR menyatakan pemantauan informasi tetap dilakukan dan operasi dapat kembali dibuka apabila ditemukan petunjuk baru mengenai keberadaan kapal atau para penumpangnya.
PFI meminta komitmen itu diwujudkan setelah jasad Surakman berhasil diidentifikasi.
“ Harapan kami dan pihak keluarga sama sekali belum padam. Kami meminta negara hadir secara maksimal untuk melacak keberadaan lima rekan jurnalis kami dan dua kru kapal lainnya yang masih berstatus hilang. Waktu sangat berharga, dan setiap detiknya berarti bagi keselamatan mereka,” kata Dwi.
Lima jurnalis yang masih belum diketahui keberadaannya adalah Yudistiro Pranoto dari iNews, Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas, Arie Basuki dari Merdeka.com, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Muhammad Bagus Khoirunas dari LKBN Antara. Selain mereka, dua kru Arupadhatu I lainnya juga masih hilang.
Advertisement

Mengapa Rutinitas Harian Penting Saat Hidup Penuh Stres dan Ketidakpastian?

Mengapa Kita Ragu Menghubungi Teman Lama? Ini Alasan Psikologis dan Risikonya


Kebiasaan Sebelum Tidur Ini Bisa Bikin Anda Makin Sulit Terlelap



PAZZION Buka Toko Pertama di Pekanbaru, Perluas Kehadiran Merek Alas Kaki Singapura di Indonesia