Mengapa Media Sosial Bisa Membuat Anda Sedih? Ini 5 Alasannya

Stories | Kamis, 17 September 2026 10:00

Reporter : Abidah

Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan meningkatnya gejala depresi, meski para peneliti masih terus mencari tahu bagaimana hubungan tersebut terjadi.

DREAM.CO.ID - Media sosial awalnya hadir sebagai cara sederhana untuk berbagi foto, berkomunikasi, dan mengikuti kehidupan orang lain. Namun, kebiasaan membuka media sosial berkali-kali dalam sehari ternyata dapat memengaruhi suasana hati. Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dan meningkatnya gejala depresi, meski para peneliti masih terus mencari tahu bagaimana hubungan tersebut terjadi.

Salah satu penelitian yang dikutip dalam sumber menemukan bahwa pengguna media sosial mengalami peningkatan rata-rata 70 persen pada gejala depresi. Temuan tersebut bukan berarti semua orang harus berhenti menggunakan media sosial. Namun, memahami alasan di balik munculnya perasaan sedih setelah berlama-lama menggulir layar dapat membantu seseorang mengatur kebiasaan digitalnya.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu penjelasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah perbandingan sosial. Ketika membuka media sosial, seseorang biasanya tidak melihat kehidupan orang lain secara utuh, melainkan versi yang sudah dipilih, disaring, dan ditampilkan agar terlihat menarik.

Psikolog Oscar Ybarra menjelaskan bahwa aktivitas membuka media sosial dapat secara otomatis memicu perbandingan sosial, bahkan tanpa disadari pengguna. Foto liburan, pencapaian pekerjaan, hubungan romantis, penampilan, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna dapat membuat seseorang bertanya apakah kehidupannya sudah sebaik orang lain.

Masalahnya, perbandingan tersebut sering dilakukan dengan membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh persoalan dengan kehidupan orang lain yang hanya ditampilkan melalui momen terbaiknya.

2 dari 5 halaman

2. Mengalami FOMO

Media sosial juga membuat seseorang terus mengetahui kegiatan orang lain, termasuk ketika dirinya tidak ikut serta. Kondisi ini dapat memunculkan fear of missing out atau FOMO, yakni perasaan takut kehilangan pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain.

Psikolog Amy Summerville menjelaskan bahwa FOMO dapat muncul ketika seseorang melihat aktivitas orang-orang yang memiliki hubungan sosial penting dengannya. Bahkan, perasaan tersebut bisa muncul meskipun seseorang sebenarnya sengaja tidak mengikuti kegiatan tersebut.

FOMO membuat pengguna merasa seperti berada di luar lingkaran sosial, sementara orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih menyenangkan.

 

3 dari 5 halaman

3. Terjebak Doomscrolling

Kebiasaan menggulir layar tanpa henti juga dapat memperburuk suasana hati. Doomscrolling membuat seseorang terus mencari dan menyerap informasi sebanyak mungkin, sehingga akhirnya merasa kewalahan dan kehilangan kendali.

Semakin lama seseorang menggulir layar, semakin banyak pula konten yang masuk. Jika sebagian besar konten tersebut memicu kecemasan, iri hati, atau perbandingan sosial, dampaknya terhadap suasana hati bisa semakin terasa.

 

4 dari 5 halaman

4. Mengorbankan Waktu Tidur

Penggunaan media sosial dalam jumlah besar juga dapat mengurangi waktu untuk tidur. Sebuah survei pada 2015, misalnya, menemukan bahwa sebagian remaja menghabiskan sembilan jam atau lebih sehari menggunakan media sosial.

Kurangnya waktu tidur kemudian dapat membuat seseorang merasa lelah dan kekurangan energi pada siang hari. Kondisi tersebut dapat ikut memengaruhi suasana hati dan kesejahteraan secara keseluruhan.

 

5 dari 5 halaman

5. Menghadapi Cyberbullying

Berbeda dengan bentuk perundungan konvensional, media sosial memungkinkan seseorang mengalami perundungan melalui ruang digital. Survei pada 2020 yang dikutip sumber menunjukkan sekitar separuh remaja pernah mengalami cyberbullying.

Dampaknya tidak boleh dianggap ringan. Sumber juga mencatat adanya peningkatan 20 persen sejak 2009 pada remaja yang mencoba mengakhiri hidup, meskipun belum ada bukti kuat yang secara langsung menghubungkan peningkatan tersebut dengan media sosial.

Para peneliti masih belum memiliki jawaban pasti mengenai dampak jangka panjang media sosial terhadap kesehatan mental. Karena itu, penggunaan media sosial tidak otomatis harus dihentikan. Namun, jika seseorang mulai merasa lebih sedih, kesepian, lelah, atau terus-menerus membandingkan diri setelah menghabiskan waktu di media sosial, mengambil jeda mungkin layak dipertimbangkan.

Mengurangi waktu penggunaan, membatasi akun yang diikuti, dan menghindari konten yang terus memicu perbandingan dapat menjadi langkah awal untuk membuat pengalaman bermedia sosial lebih sehat.

{NATIVE VIDEO TOP}
Join Dream.co.id