STOVIA dan Masa-Masa Awal Kesadaran Persatuan Indonesia
© Stovia
Reporter : Abidah
STOVIA adalah sekolah pendidikan dokter bumiputera yang melahirkan banyak pejuang kemerdekaan Indonesia.
DREAM.CO.ID - Sebelum ada Sumpah Pemuda, sebelum ada kata "Indonesia" dipakai sebagai identitas politik, ada sebuah bangunan pendidikan kedokteran di kawasan Weltevreden, Batavia, tempat para pemuda dari berbagai suku dan pulau berkumpul, belajar bersama, dan tanpa disadari mulai menyemai benih kesadaran bahwa mereka sesungguhnya satu bangsa. Bangunan itu adalah STOVIA, dan dari sanalah pergerakan nasional Indonesia modern pertama kali mengambil bentuk organisasinya.
Ironisnya, cikal bakal kesadaran nasional Indonesia justru lahir dari persoalan kesehatan masyarakat, bukan dari niat politik apa pun. Pada akhir abad ke-19, Pulau Jawa dilanda berbagai wabah penyakit, dan pemerintah kolonial Belanda kesulitan mengatasinya. Latar belakang pendirian Sekolah Dokter Djawa sendiri mulanya bahkan lebih spesifik lagi: sebagai pertimbangan mendirikan sekolah khusus petugas vaksin untuk menangani wabah cacar di sepanjang pantai utara Pulau Jawa dan wilayah karesidenan Banyumas.
Dari kebutuhan mendesak inilah pendidikan kedokteran didirikan pada 1851. Dalam pandangan Belanda, mendatangkan dokter dari Eropa membutuhkan biaya tinggi, sehingga muncul gagasan mendidik kaum pribumi menjadi mantri kesehatan. Sekolah ini terus berkembang, hingga pada Maret 1902 resmi dibuka dengan nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, disingkat STOVIA, yang berarti Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera.
Fasilitas Menggiurkan yang Menarik Pemuda dari Seluruh Nusantara
Untuk menarik minat pemuda pribumi masuk sekolah dokter, pemerintah kolonial memberi fasilitas yang cukup menggiurkan pada masanya: mahasiswa dibebaskan dari kewajiban militer, mendapat alat-alat kuliah, seragam gratis, bahkan menerima uang saku sebesar 15 gulden per bulan. Fasilitas semacam ini mendongkrak minat para pemuda dari berbagai daerah untuk mendaftar, menciptakan komposisi murid yang jauh lebih beragam secara kesukuan dibanding sekolah-sekolah kolonial lainnya pada masa itu.
Masa studi di STOVIA pada 1902 berlangsung tujuh tahun, terbagi menjadi jurusan persiapan selama tiga tahun dan jurusan kedokteran yang kemudian berkembang menjadi tujuh tahun. Pada awal dibuka, STOVIA hanya menerima siswa dari kalangan priyayi Jawa dan lulusan Europeesche Lagere School, meski seiring waktu cakupannya melebar ke berbagai daerah di Nusantara.
Pertemuan Antar-Suku yang Melahirkan Kesadaran Baru
Yang membuat STOVIA begitu istimewa dalam sejarah Indonesia bukan sekadar kurikulum kedokterannya, melainkan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Keberadaan STOVIA dikenal sangat berperan penting dalam perkembangan nasionalisme di Indonesia, lewat pendidikan yang menanamkan disiplin tinggi dan mampu menyatukan pelajar dari berbagai suku bangsa.
Para pelajar STOVIA, yang kebanyakan berasal dari kota-kota kecil, memperoleh dorongan intelektual dari kota besar dan modern di lingkungan sekolahnya. Batavia saat itu menjadi kediaman suatu kelompok intelektual non-politik pribumi yang meski belum besar, tengah tumbuh pesat. Wajar jika para pelajar STOVIA yang bergaul dengan kalangan intelektual ini pada akhirnya terpengaruh oleh gagasan-gagasan mereka, sebuah proses pertukaran ide yang perlahan menumbuhkan kesadaran baru soal identitas bersama, melampaui sekat kesukuan dan kedaerahan yang selama ini memisahkan mereka.
Lahirnya Budi Utomo dari Ruang Anatomi STOVIA
Puncak dari proses ini terjadi pada 20 Mei 1908, ketika berdiri organisasi Budi Utomo, digagas dr. Sutomo bersama para mahasiswa STOVIA lainnya. Pembentukan organisasi ini berlangsung di ruang anatomi Gedung STOVIA, yang kini menjadi bagian dari Museum Kebangkitan Nasional.
Lahirnya Budi Utomo juga tak lepas dari peran Dr. Wahidin Soedirohoesodo, alumni STOVIA yang berkeliling ke kota-kota besar di Pulau Jawa untuk mengampanyekan gagasannya soal bantuan dana bagi pelajar pribumi berprestasi yang tidak mampu melanjutkan sekolah. Di antara pelopor organisasi ini tercatat nama-nama seperti dr. Sutomo, Goenawan, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Soeradji, dan RT Ario Tirtokoesoemo.
Meski awalnya Budi Utomo lebih berfokus pada aspek pendidikan dan kebudayaan ketimbang politik terbuka, kelahirannya menjadi titik tolak yang menandai peringatan Hari Kebangkitan Nasional hingga hari ini, dan menjadi organisasi pergerakan modern pertama yang dibentuk secara terorganisasi oleh kaum terpelajar pribumi.
Dari Budi Utomo, Lahir Generasi Aktivis Berikutnya
Kesadaran yang tumbuh di kalangan pelajar STOVIA rupanya tidak berhenti pada Budi Utomo saja. Sebagian pelajar STOVIA bahkan memilih bersikap lebih radikal terhadap pemerintah kolonial, merumuskan bentuk perjuangan baru untuk membebaskan rakyat dari penderitaan, sebab perjuangan-perjuangan sebelumnya masih mengalami kegagalan.
Lulusan STOVIA banyak yang aktif dalam pergerakan rakyat menuju Indonesia merdeka, mendirikan berbagai organisasi seperti Indische Partij, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon. Tokoh-tokoh yang lahir dari lingkungan STOVIA tidak hanya berasal dari Jawa, tetapi juga dari berbagai daerah lain, seperti Achmad Mochtar, A.G. Zakir, dan Mohamad Sjaaf dari Sumatera Barat, menegaskan bahwa kesadaran persatuan yang dipupuk di lingkungan STOVIA benar-benar melampaui batas kedaerahan.
Warisan yang Masih Berdiri Hingga Kini
Perkembangan STOVIA terus berjalan seiring waktu. Pada 1909, lulusannya tidak lagi bergelar "Dokter Jawa" melainkan Inlandsche Arts atau Dokter Bumiputera, dengan wewenang mempraktikkan ilmu kedokteran secara penuh termasuk kebidanan. Pada 5 Juli 1920, seluruh kegiatan pendidikan STOVIA dipindahkan ke Jalan Salemba, yang hingga kini dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sementara gedung STOVIA lama dipergunakan sebagai asrama pelajar.
Gedung bersejarah tempat Budi Utomo lahir itu kemudian diresmikan menjadi Gedung Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1974 oleh Presiden Soeharto, sebelum akhirnya resmi berubah nama menjadi Museum Kebangkitan Nasional pada 7 Februari 1984. Kini berlokasi di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh Nomor 26, Senen, Jakarta Pusat, museum ini berdiri sebagai saksi bisu bagaimana sebuah sekolah kedokteran yang lahir dari kepanikan menghadapi wabah penyakit, justru menjadi tempat lahirnya kesadaran kebangsaan yang kelak mengantar Indonesia menuju kemerdekaannya sendiri.