© Pexels.com/Cottonbro Studio
DREAM.CO.ID -Bertahun-tahun mengajar berbagai kelas soal kreativitas, Art Markman pernah suatu kali ditanya seorang murid: apakah kreativitasnya akan meningkat kalau setiap hari mengambil rute berbeda menuju kantor? Dilansir dari Fast Company, jawabannya justru mengungkap satu prinsip penting soal energi mental manusia.
Mengubah lingkungan sekitar memang bisa memicu pertemuan tak terduga dengan hal-hal yang mendorong ide baru, tapi mengubah rute perjalanan harian justru kebanyakan hanya menghabiskan waktu dan tenaga untuk memikirkan cara sampai ke kantor, padahal waktu itu bisa dipakai untuk hal lain yang lebih berguna.
Secara umum, setiap orang punya jatah energi harian yang terbatas untuk fokus dan benar-benar menghasilkan kerja produktif. Energi itu sebaiknya dihabiskan untuk hal-hal yang penting, bukan hal-hal yang tidak penting.
Apa Sebenarnya Kelelahan Mengambil Keputusan Itu
Konsep " decision fatigue" atau kelelahan mengambil keputusan mungkin sudah pernah didengar banyak orang, yakni kondisi ketika harus terus-menerus mengambil keputusan sepele hingga akhirnya seseorang merasa mentalnya tidak berguna lagi. Tidak ada yang istimewa dari sekadar memilih satu tindakan dari sekumpulan opsi.
Yang sebenarnya terjadi adalah penggunaan cadangan energi harian secara tidak produktif. Mengevaluasi serangkaian opsi, membayangkan konsekuensi dari memilih salah satu opsi tersebut, lalu benar-benar memilih, membutuhkan banyak usaha, sehingga proses ini jadi cara yang sangat efektif untuk menguras " baterai" mental seseorang.
Berikut tiga langkah yang bisa membantu menjaga energi tersebut tetap terjaga.
Pertama, penting diingat bahwa sebagian besar tindakan sehari-hari sebenarnya tidak perlu melibatkan pengambilan keputusan sama sekali. Alasan seseorang mengambil rute yang sama menuju kantor setiap hari adalah karena seluruh rutinitasnya, mulai dari keluar rumah hingga tiba di kantor, sebagian besar bisa diotomatisasi.
Ketika seseorang mengulang suatu tindakan dalam konteks yang sama secara rutin, pada akhirnya tindakan itu berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan semacam ini bisa dijalankan tanpa menyerap sumber daya mental, sehingga membebaskan pikiran untuk memikirkan hal-hal yang lebih menarik, tanpa mengurangi cadangan energi mental harian yang dibutuhkan untuk kerja produktif.
Bersikaplah strategis. Jika ada situasi dalam kehidupan kerja maupun pribadi yang sering terjadi berulang dan bisa dibuat rutin atau terjadwal tanpa menimbulkan masalah, lakukanlah. Tidak perlu sampai meniru gaya Steve Jobs yang memakai pakaian sama setiap hari ke kantor, tapi jumlah hal yang membutuhkan pengambilan keputusan setiap harinya bisa dipersempit secara signifikan.
Selain itu, penting menghormati adanya trade-off antara usaha dan akurasi. Semakin besar usaha yang dicurahkan untuk sebuah pilihan, semakin besar pula kemungkinan mencapai keputusan yang ideal.
Tapi apakah seseorang benar-benar perlu memilih opsi yang paling ideal, itu sangat bergantung pada konsekuensi dari keputusan yang buruk. Jika sedang memilih menu makan siang, cukup pilih sesuatu yang layak (istilah yang oleh peraih Hadiah Nobel sekaligus psikolog Herb Simon disebut sebagai " satisficing" ).
Habiskan waktu secukupnya dengan pilihan-pilihan itu hingga mencapai titik di mana hasilnya sudah cukup memuaskan. Ada kasus-kasus langka, misalnya pekerjaan untuk klien penting, yang benar-benar membutuhkan usaha terbaik. Jika seseorang cenderung berlama-lama mempertimbangkan bahkan hal-hal kecil sekalipun, pada akhirnya justru menurunkan kualitas pekerjaan penting lain yang sebenarnya membutuhkan versi terbaik dari dirinya.
Jika seseorang diminta mengambil banyak keputusan setiap hari, ada kemungkinan ia sedang melakukan micromanaging terhadap orang lain. Keahlian seseorang tidak harus diterapkan pada setiap keputusan yang memengaruhi lingkup pekerjaannya. Namun jika tidak percaya orang-orang di sekitarnya akan melakukan hal yang tepat, seseorang bisa merasa harus terlibat dalam setiap detail proyek.
Sebagai gantinya, bekerjalah bersama anggota tim untuk mengajarkan pendekatan pengambilan keputusan yang dipakai. Bantu mereka memahami kriteria apa saja yang dianggap penting untuk keputusan-keputusan besar. Pengawasan bisa dilakukan beberapa kali hingga merasa yakin mereka sudah mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.
Meski proses pelatihan ini mungkin memakan waktu sedikit lebih lama dibanding mengambil semua keputusan itu sendiri, hasilnya terbayar dalam jangka panjang. Dengan begitu, seseorang bisa merasa lebih aman mendelegasikan tanggung jawab atas sejumlah besar keputusan kepada orang lain, dan hanya turun tangan pada sejumlah kecil situasi yang benar-benar penting.
Strategi ini bukan hanya membantu menjaga kapasitas mental untuk pekerjaan penting, tapi juga memastikan lahirnya generasi pemimpin unggul berikutnya di belakang diri sendiri.
Advertisement

Cara Mendidik Anak agar Menjadi Pekerja Keras dan Tidak Mudah Menyerah

Benarkah Setiap Kopi Hitam Memiliki Kandungan Kafein Berbeda-beda? Ini Alasannya

Suku Vandal dari Eropa dan Asal-Usul Kata “Vandalisme” untuk Mengartikan Kekerasan

Lebih Baik Menggunakan Pakaian Longgar atau Ketat Saat Berolahraga?

Fakta di Balik Kemampuan Orang Bajo Melihat Lebih Jelas saat Berada di Bawah Air

Persahabatan yang Kuat Bisa Memperkuat Kesehatan Mental dan Fisik Milik Seseorang

Kerangka Berusia 3.500 Tahun dari Vietnam Mengungkap Asal-Usul Sifilis