© Pexels.com/Michael Burrows
DREAM.CO.ID - Bagi sebagian orang Indonesia, secangkir kopi hitam yang diminum pagi hari harus punya satu kualitas penting: " nendang." Karena itu, tidak sedikit yang heran ketika melihat budaya minum kopi di Korea Selatan.
Dalam drama Korea maupun video perjalanan, orang-orang tampak sering membawa gelas besar iced Americano. Bahkan, beberapa menu menggunakan beberapa shot espresso sekaligus. Namun, ketika diminum, kopi tersebut justru dianggap sebagian netizen Indonesia terasa lebih encer dan tidak sekuat kopi hitam yang biasa mereka minum.
Apakah kopi Korea memang lebih encer? Dan apakah jumlah shot selalu menentukan seberapa tinggi kandungan kafein dalam secangkir kopi?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Kopi Hitam Tidak Selalu Memiliki Kafein yang Sama
Pertama-tama, perlu dipahami bahwa istilah kopi hitam menggambarkan minuman tanpa tambahan susu atau krimer, bukan ukuran pasti kandungan kafeinnya.
Kandungan kafein dalam kopi dapat berbeda-beda tergantung jenis biji, ukuran sajian, metode penyeduhan, jumlah kopi yang digunakan, hingga formulasi minuman. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), misalnya, mencatat kopi seduh reguler dapat mengandung sekitar 113–247 miligram kafein dalam satu sajian 12 ons. Rentang yang lebar tersebut menunjukkan bahwa dua cangkir kopi dengan tampilan sama-sama hitam belum tentu memberikan jumlah kafein yang sama.
Dengan demikian, warna pekat bukan indikator pasti kandungan kafein. Kopi yang rasanya pahit dan sangat kuat belum tentu memiliki kafein lebih banyak dibandingkan kopi yang terasa ringan.
Lalu, Apa Hubungannya dengan Jumlah Shot?
Pada minuman seperti Americano, kafein terutama berasal dari shot espresso yang digunakan sebagai bahan dasarnya. Air kemudian ditambahkan untuk memperpanjang minuman.
Artinya, jika satu gelas menggunakan dua shot dan gelas lain menggunakan tiga shot dari kopi yang sama, secara umum gelas dengan tiga shot akan membawa lebih banyak kafein. Namun, jumlah air yang ditambahkan tidak menghilangkan kafein.
Air hanya membuat kafein tersebar dalam volume minuman yang lebih besar.
Inilah yang kadang membuat orang keliru. Secangkir Americano berukuran besar dapat terasa lebih encer dibandingkan espresso atau kopi tubruk, tetapi belum tentu kandungan kafeinnya rendah.
Sebagai gambaran, sejumlah kafe di Indonesia meracik iced Americano menggunakan dua shot espresso, yang dapat menghasilkan sekitar 94–150 mg kafein per gelas. Ada pula menu yang menggunakan tiga shot, seperti Americano ukuran tertentu di Starbucks, dengan kandungan yang dilaporkan mencapai 225 mg.
Jadi, " encer" dan " rendah kafein" adalah dua hal berbeda.
Budaya kopi Korea Selatan memang menarik. Iced Americano atau yang sering disingkat Ah-Ah—aah-aah, atau Americano dingin—telah menjadi salah satu minuman yang sangat identik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea.
Popularitasnya bahkan begitu kuat sehingga muncul istilah " eoljuk-a" , kependekan dari ungkapan yang kurang lebih berarti " meskipun membeku sampai mati, tetap minum iced Americano" . Minuman ini dikonsumsi sepanjang tahun, termasuk ketika musim dingin.
Yang menarik, budaya tersebut bukan semata-mata mengenai kenikmatan menikmati kopi. Iced Americano juga dipandang sebagai cara yang praktis untuk memperoleh kafein dengan cepat. Korea JoongAng Daily mencatat bahwa banyak orang Korea melihat Americano lebih sebagai minuman fungsional untuk mendapatkan kafein daripada minuman untuk bersantai. Hal ini juga dikaitkan dengan budaya ppalli-ppalli atau " cepat-cepat" yang sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat Korea.
Karena itu, gelas besar berisi es, air, dan beberapa shot espresso bukan sesuatu yang aneh.
Di sinilah pengalaman netizen Indonesia menjadi menarik. Ada orang yang terbiasa dengan kopi tubruk, kopi saring dengan rasio kopi-air yang relatif pekat, atau kopi dengan karakter roasty kuat. Ketika mereka mencoba iced Americano ala Korea yang berisi banyak es dan air, kesan pertama yang muncul bisa saja: " Kok encer?"
Kesan tersebut masuk akal dari sisi rasa.
Ketika espresso dituangkan ke dalam air dan es dalam jumlah besar, konsentrasi senyawa rasa dalam setiap tegukan menjadi lebih rendah. Minuman terasa lebih ringan dan mudah diminum, meskipun total kafeinnya tetap dapat cukup tinggi.
Sejumlah diskusi komunitas daring juga menunjukkan pengalaman serupa dari orang yang mencoba Americano di Korea dan merasa minumannya lebih encer dibandingkan standar yang mereka kenal. Namun, pengalaman tersebut bersifat subjektif dan tidak bisa dijadikan ukuran bahwa semua kedai kopi Korea membuat Americano dengan cara yang sama.
Dengan kata lain, lidah kita sedang menilai konsentrasi rasa, sedangkan tubuh menerima total kafein.
Ada satu hal lagi yang sering membuat orang keliru: rasa pahit dan sensasi " nendang" bukan ukuran langsung jumlah kafein. Karakter rasa kopi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis dan tingkat sangrai biji, ukuran gilingan, rasio kopi dan air, suhu, hingga teknik ekstraksi. Kafein hanyalah salah satu komponen dalam kopi.
Itulah sebabnya kopi yang sangat pahit dapat terasa lebih " keras" , sementara Americano yang lebih ringan dapat tetap memberikan asupan kafein yang signifikan. Bahkan, jika tujuan seseorang adalah mendapatkan efek kafein, menilai kopi hanya berdasarkan rasa bisa menyesatkan.
Jadi, Mana yang Lebih Kuat?
Jawabannya: tergantung cara mendefinisikan " kuat" .
Jika yang dimaksud adalah rasa, kopi dengan konsentrasi lebih tinggi biasanya terasa lebih pekat, pahit, atau intens.
Jika yang dimaksud adalah kandungan kafein, faktor utamanya antara lain jumlah kopi yang digunakan dan karakter bahan bakunya. Pada Americano, jumlah shot merupakan petunjuk penting, tetapi ukuran shot dan kandungan kafein espresso yang digunakan juga dapat berbeda.
Karena itu, sebuah iced Americano Korea yang terlihat seperti segelas air berwarna cokelat muda bukan berarti " kopi palsu" atau tidak mengandung banyak kafein. Bisa saja minuman tersebut menggunakan dua atau lebih shot espresso, kemudian diencerkan dengan air dan es agar menjadi minuman yang panjang, ringan, dan mudah diteguk.
Jadi, kalau orang Indonesia mengatakan kopi Korea " encer dan kurang nendang" , bisa jadi yang berbeda bukan jumlah kafeinnya, melainkan konsentrasi rasa dan kebiasaan lidah dalam menikmati kopi. Gelas yang terasa ringan belum tentu memberikan efek kafein yang ringan pula.
Advertisement

Sering Dikira Makanan Sehat, Sejumlah Makanan dan Minuman Ini Ternyata Makanan Olahan

Apa Sebenarnya Wangi Musk? Mengapa Aroma Ini Tengah Digemari?

Vrindavan di Mulut Netizen, Bharat di Konstitusi: Dua Cara Berbeda Menyebut Negeri India

Pentingnya Menunjukkan kepada Anak seperti Apa Pekerjaan Orang Tua

Cara Mendidik Anak agar Menjadi Pekerja Keras dan Tidak Mudah Menyerah

Mengenal Hypersensitivity Pneumonitis, Radang Paru-Paru akibat Paparan Debu dan Jamur

Ketika Matahari Seolah Menghilang: Tahun Tanpa Musim Panas yang Pernah Mengubah Dunia