Vrindavan di Mulut Netizen, Bharat di Konstitusi: Dua Cara Berbeda Menyebut Negeri India

Reporter : Abidah
Minggu, 23 Agustus 2026 10:00
Vrindavan di Mulut Netizen, Bharat di Konstitusi: Dua Cara Berbeda Menyebut Negeri India
Orang Indonesia cenderung mengejek India dengan nama Vrindavan sementara itu pemerintah India sendiri menyebut negara mereka sebagai Bharat.

DREAM.CO.ID - Warganet Indonesia punya sebuah kebiasaan unik: menyebut India sebagai " Vrindavan" di kolom komentar media sosial, biasanya sambil bercanda soal kelakuan-kelakuan viral warga negara tersebut. Sementara di sisi lain dunia, orang India sendiri semakin sering menyebut negaranya " Bharat" , bahkan lewat undangan resmi kenegaraan. Dua sebutan yang sama sekali berbeda, untuk satu negara yang sama, dengan latar belakang yang jauh lebih dalam dari sekadar tren media sosial semata.

Vrindavan sebenarnya merujuk pada sebuah kota nyata di negara bagian Uttar Pradesh, India utara. Kota ini terletak di tepi barat Sungai Yamuna, tepat di utara Mathura, tempat suci Dewa Krishna dalam kepercayaan Hindu. Nama Vrindavan sendiri berasal dari kata " Vrinda" atau Brinda, merujuk pada tanaman Tulsi atau kemangi suci yang dipersembahkan dalam pemujaan, dan " Vana" , kata Sanskerta untuk hutan. Secara harfiah, Vrindavan berarti " Hutan Tulasi" .

Kota ini punya kedudukan sangat penting dalam mitologi Hindu, karena diyakini sebagai tempat Dewa Krishna menghabiskan sebagian besar masa muda dan dewasanya, menggembala sapi, memainkan seruling, dan melakukan tarian suci Rasa Lila bersama Radha dan para gopi.

Lalu, bagaimana nama kota suci ini bisa menjadi sebutan bercanda bagi seluruh India di kalangan warganet Indonesia? Fenomena ini bermula dari popularitas serial kartun " Little Krishna" yang tayang di televisi lokal Indonesia, dengan latar cerita berlokasi di Vrindavan. Dari sanalah, warganet mulai mengadopsi nama tersebut untuk menyebut orang India secara umum dalam konten humor di media sosial, terutama saat video atau foto viral dari India beredar luas.

Menariknya, meski dipakai untuk bercanda, istilah ini secara linguistik tidak bersifat SARA sebab hanya merujuk pada nama sebuah kota, bukan kelompok etnis atau agama tertentu. Namun penggunaannya tetap memicu perdebatan, karena sebagian pihak menganggap memakai nama kota suci sebagai bahan lelucon kurang menghormati nilai budaya dan keagamaan yang melekat padanya.

1 dari 2 halaman

Bharat, Nama yang Jauh Lebih Tua dari "India"

Berbeda dari Vrindavan yang lahir dari fenomena media sosial, " Bharat" adalah nama dengan akar sejarah yang jauh lebih tua, bahkan lebih tua dari nama " India" itu sendiri. Nama Bharat berasal dari bahasa Sanskerta, merujuk pada kaisar legendaris Bharata yang disebutkan dalam epos Hindu, Mahabharata. Perdana Menteri pertama India, Jawaharlal Nehru, bahkan pernah menulis pada 1927 bahwa " India adalah Bharata, tanah suci umat Hindu" .

Nama " India" sendiri sebenarnya merupakan hasil anglikanisasi Inggris dari kata Sanskerta untuk Sungai Indus, yakni " Sindhu" . Nama ini mulai populer digunakan sejak era Kesultanan Inggris di India pada 1858 hingga 1947. Ada pula nama ketiga, " Hindustan" , yang berarti " tanah Indus" dalam bahasa Persia, populer digunakan sejak era Kesultanan Mughal.

Ketika India merdeka dari Inggris pada 1947, para pendiri negara memutuskan mengakomodasi kedua nama sekaligus dalam konstitusi mereka. Pasal 1 Konstitusi India secara eksplisit menyatakan, " India, yaitu Bharat, akan menjadi Persatuan Negara-Negara" , sebuah langkah kompromi untuk mempertahankan sejarah dan budaya dari kedua nama tersebut secara bersamaan.

2 dari 2 halaman

Dua Nama, Dua Cerita yang Sangat Berbeda

" Vrindavan" dan " Bharat" mewakili dua cara yang sangat kontras dalam memandang satu negara yang sama. Vrindavan lahir dari budaya pop dan kebiasaan bercanda warganet Indonesia di era media sosial, memanfaatkan nama sebuah kota suci untuk membangun humor internet yang viral. Sementara itu, Bharat adalah identitas resmi yang berakar pada mitologi kuno, dipertahankan dalam konstitusi sejak kemerdekaan India, dan kini menjadi bagian dari perdebatan politik serta identitas nasional yang jauh lebih serius di negeri asalnya sendiri.

Keduanya sama-sama menunjukkan betapa satu bangsa bisa disebut dengan berbagai nama berbeda, tergantung siapa yang menyebutnya, dari mana konteksnya berasal, dan tujuan apa yang melatarbelakangi penyebutan itu, baik sekadar untuk tertawa bersama di linimasa, maupun untuk menegaskan kembali identitas dan kedaulatan sebuah peradaban kuno di panggung dunia.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More