© MEN
DREAM.CO.ID - Pertanyaan ini sudah diperdebatkan selama lebih dari seribu tahun, melintasi generasi ulama tafsir, orientalis Barat, hingga peneliti modern. Sosok Iskandar Zulkarnain, atau dalam bahasa Arab disebut Dzul-Qarnayn, " yang memiliki dua tanduk" , muncul dalam Surah Al-Kahf ayat 83 hingga 101 sebagai penguasa saleh yang diberi kekuasaan oleh Allah untuk menjelajahi bumi dari ujung barat hingga timur, bahkan membangun tembok raksasa untuk mengurung Ya'juj dan Ma'juj. Pertanyaannya: apakah sosok ini benar-benar Alexander Agung, penakluk Makedonia yang terkenal dalam sejarah dunia Barat?
Dilansir dari kajian akademik Peter Townsend, " Alexander with Two Horns: Dhul-Qarnayn and the Qur'an's Debt to Antiquity" , identifikasi Dzul-Qarnayn dengan Alexander Agung bukanlah gagasan baru dari kalangan orientalis, melainkan bacaan paling umum di kalangan ulama tafsir sejak masa formatif Islam. Dzul-Qarnayn diidentifikasi sebagai Alexander dalam tafsir Muqatil ibn Sulaiman pada abad kedelapan, juga dalam tafsir al-Zamakhsyari, al-Qurthubi, dan Tafsir al-Jalalayn. Bahkan Sirah karya Ibnu Ishaq mencatat riwayat bahwa Dzul-Qarnayn adalah orang Yunani dengan keterkaitan Mesir, deskripsi yang cukup sesuai dengan Alexander yang berasal dari Makedonia dan menaklukkan Mesir serta mendirikan kota Alexandria di sana.
Di era modern, salah satu ulama paling terkemuka yang membela identifikasi ini adalah Abdullah Yusuf Ali, penerjemah Al-Qur'an yang karyanya banyak dirujuk di seluruh dunia. Dilansir dari WikiIslam, dalam lampiran tafsirnya, Yusuf Ali menegaskan secara pribadi bahwa ia sama sekali tidak ragu Dzul-Qarnayn merujuk pada Alexander Agung, sosok historis yang sesungguhnya, bukan Alexander legendaris yang dibumbui mitos. Ia menjelaskan bahwa jabatan pertamanya setelah lulus kuliah adalah sebagai dosen sejarah Yunani, sehingga ia telah mempelajari detail kepribadian luar biasa Alexander lewat berbagai sumber sejarawan Yunani maupun penulis modern.
Di sisi lain, kalangan sarjana Barat juga lama memperdebatkan asal-usul kisah ini. Sejumlah orientalis abad kesembilan belas mengajukan teori identitas alternatif: Redslob mengaitkan Dzul-Qarnayn dengan Koresh Agung dari Persia berdasarkan nubuat Kitab Daniel, Beer berpendapat sosok itu adalah mesias Yahudi yang dinanti-nantikan, sementara Geiger mencoba menghubungkannya dengan Nabi Musa.
Perdebatan ini akhirnya dianggap tuntas oleh sarjana Theodor Noldeke, yang menegaskan bahwa Dzul-Qarnayn tidak lain adalah Alexander, dengan sumber narasi Al-Qur'an berasal dari legenda Kristen Suriah yang dinisbatkan kepada Yakub dari Sarug, seorang teolog yang wafat pada 521 masehi. Kajian lanjutan oleh peneliti bernama Wheeler bahkan menunjukkan bahwa yang mengadopsi kisah-kisah Alexander sebenarnya adalah tafsir-tafsir Al-Qur'an, bukan Al-Qur'an itu sendiri, untuk menjelaskan ayat-ayat terkait Dzul-Qarnayn.
Meski identifikasi dengan Alexander begitu dominan sejak masa awal Islam, sejumlah ulama, terutama di era modern, mulai mempertanyakannya. Muncul persoalan teologis yang cukup mendasar: Alexander Agung dalam sejarah dikenal sebagai penganut politeisme yang bahkan mengklaim dirinya sebagai keturunan dewa. Pertanyaannya, bagaimana mungkin Al-Qur'an memuji tokoh semacam itu sebagai seorang mukmin yang saleh dan bertauhid?
Karena keberatan teologis inilah, sebagian ulama modern menolak kaitan ini dan mengajukan alternatif lain, seperti Koresh Agung, penguasa Persia yang monoteis dalam sebagian tafsir; seorang raja Himyar asal Yaman bergelar Tubba'; atau bahkan menafsirkan Dzul-Qarnayn secara simbolis semata, sebagai representasi kekuasaan yang saleh dan menahan kekacauan, bukan merujuk pada satu sosok historis tertentu.
Terlepas dari perdebatan identitasnya, kisah Alexander sebagai Dzul-Qarnayn terus berkembang dan melahirkan tradisi sastra tersendiri di dunia Islam. Dilansir dari Wikipedia, ada naskah anonim berbahasa Arab-Andalusia berjudul Hadith Dzulqarnain, juga dikenal sebagai Leyenda de Alejandro, yang berasal dari abad kelima belas. Naskah ini merupakan bagian dari tradisi Alexander Romance yang lebih luas, menceritakan perjalanan Alexander mengelilingi dunia, termasuk pertemuannya dengan raja Tiongkok, hubungannya dengan sosok mistis Nabi Khidir, dan penggambaran kesalehan tokoh utamanya.
Menariknya, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Verbum et Ecclesia menunjukkan bahwa naskah serupa bahkan ditemukan sejauh Timbuktu, Mali, membuktikan betapa luasnya penyebaran kisah Alexander sebagai Dzul-Qarnayn ke berbagai penjuru dunia Islam, dari Timur Tengah hingga Afrika Barat.
Advertisement

Tak Peduli Laki-Laki atau Perempuan, Ini Alasan Mengapa Setiap Orang Harus Bisa Memasak

Mengapa Orang Bersepeda Lebih Banyak Menggunakan Pakaian yang Ketat?

Budaya Ngopi di Indonesia Serta Sejarah Masuk Minuman Hitam Nan Nikmat Ini
7 Makanan yang Sering Dikira Ultra-Processed Food, Padahal Belum Tentu

Tak Hanya Indonesia, Ini Negara yang Juga Merayakan 17 Agustus sebagai Hari Kemerdekaan

Penelitian Ungkap Kebiasaan Screen Time Menggunakan Media Sosial Bisa Sebabkan Jerawat pada Remaja

6 Cara Menciptakan Rumah yang Tenang untuk Membantu Mengurangi Stres