© Henle.de
DREAM.CO.ID - Di sudut Paris, tahun 1889, dunia sedang merayakan seratus tahun Revolusi Prancis lewat pameran akbar bernama Exposition Universelle. Menara Eiffel yang baru saja rampung dibangun menjulang sebagai simbol kemegahan acara itu.
Namun di antara riuh rendah pameran dari seluruh penjuru dunia, ada satu suara yang justru mengubah arah musik klasik Barat selamanya: dentingan gamelan Jawa yang mengalun dari sebuah paviliun kecil, dan seorang komposer muda berusia dua puluh tujuh tahun yang terpaku mendengarkannya.
Pertemuan yang Tak Terduga di Paviliun Jawa
Dilansir dari College Music Symposium, Claude Debussy yang saat itu berusia 27 tahun kerap berkeliling mengunjungi berbagai paviliun pameran dari seluruh dunia, dan ia begitu terpesona oleh musik gamelan serta tarian yang mengiringinya di paviliun Jawa. Pengalaman itu kelak menginspirasinya untuk menangkap suara gamelan dalam komposisi piano tahun 1903 berjudul " Pagodes" .
Menariknya, ada kemungkinan Debussy sebenarnya sudah mengenal gamelan lebih awal dari itu. Dilansir dari sebuah kajian akademik Canadian Federation of Music Teachers' Associations, Conservatoire de Paris ternyata sudah memiliki satu set gamelan kecil dua tahun sebelum pameran 1889 berlangsung, dan sebagian sejarawan meyakini inilah pertemuan pertama Debussy dengan instrumen tersebut. Kepemilikan gamelan oleh Conservatoire memberi keuntungan besar, sebab para murid bisa langsung mencoba berbagai tangga nada dan mengeksplorasi ragam warna suara yang dihasilkan instrumen tersebut secara langsung, sesuatu yang mustahil didapat tanpa benar-benar berkunjung ke Bali atau Jawa.
Debussy tidak berhenti sampai di situ.Ia akhirnya menyaksikan ansambel gamelan lengkap pada Exposition Universelle berikutnya, tahun 1900. Paparan terhadap gamelan Jawa ini menjadi salah satu katalisator penting dalam pematangan gaya khas Debussy, meninggalkan jejak yang jauh lebih luas dan mendalam pada karyanya dibanding yang selama ini banyak diduga orang.
Yang membuat ketertarikan Debussy pada gamelan berbeda dari komposer-komposer Romantik sebelumnya adalah caranya memandang musik tersebut. Ia umumnya tidak menyukai orientalisme ala komposer Romantik terdahulu, namun ia menemukan inspirasi luar biasa dalam musik gamelan, bukan pada eksotisme permukaannya, melainkan pada detail struktur, tekstur, dan modalitasnya.
Ia bukan satu-satunya musisi Paris yang terpukau. Dilansir dari kajian musik Dena Marie Andrews, musik gamelan sempat memukau sejumlah musisi Paris terkemuka, termasuk Camille Saint-Saëns, yang secara terkenal menggambarkannya sebagai " musik mimpi yang benar-benar menghipnotis orang" .
Para jurnalis saat itu bahkan berusaha keras menyampaikan kebaruan musik ini kepada pembacanya, ada yang menggambarkan ansambel itu sebagai " piano-piano sederhana dengan suara sengau dan monoton" , ada pula yang membandingkannya dengan bunyi lonceng sapi yang terdengar di pegunungan Alpen.
Tantangan terbesar bagi Debussy adalah menerjemahkan suara gamelan, yang berasal dari instrumen perkusi logam dengan sistem penalaan berbeda dari musik Barat, ke dalam medium yang sepenuhnya berbeda: piano. Dilansir dari Piano Inspires, dalam " Pagodes" , pengaruh suara gamelan terdengar lewat penggunaan tangga nada pentatonik dan pola ritme berulang yang khas.
Debussy juga memakai interval nada yang berdekatan, berjarak satu atau dua semitone, sebagai upaya meniru sistem penalaan unik gamelan yang tidak sepenuhnya cocok dengan sistem penalaan Barat. Dengan bantuan pedal damper pada piano, ia menciptakan gugusan nada yang samar dan ambigu, menyerupai karakter suara gamelan yang sulit dipisahkan secara tegas nada per nada.
Dalam menggunakan bunyian dari gamelan, Debussy menggunakan teknik pentatonik, pedal-tone, dan tekstur polifonik untuk meniru suara instrumen gamelan Jawa. Teknik serupa juga muncul dalam karya-karyanya yang lain, seperti Prelude dari suite " Pour Le Piano" dan komposisi " Et la lune descend sur le temple qui fut" , yang judulnya sendiri sudah menyiratkan nuansa oriental yang terinspirasi dari pengalamannya menyaksikan gamelan.
Ada alasan khusus mengapa Debussy memilih piano, bukan orkestra, sebagai medium untuk menerjemahkan pengalaman mendengarkan gamelan itu. Hal yang dilakukannya ini bukan pilihan sembarangan, sebab Debussy sendiri adalah seorang pianis ulung, terlatih dalam repertoar konser tradisional semasa masih menjadi mahasiswa di Paris Conservatory.
Dengan penguasaan teknis yang mendalam terhadap instrumen ini, Debussy mampu mengeksploitasi kemampuan piano secara maksimal, dari penggunaan pedal untuk menciptakan resonansi mengambang, hingga permainan register nada yang menyerupai lapisan-lapisan suara instrumen gamelan yang saling bertumpuk, sesuatu yang sulit dicapai dengan instrumen orkestra konvensional pada masanya.
Pengaruh gamelan pada Debussy tidak berhenti pada satu komposisi saja. Pertemuannya dengan gamelan Jawa di Exposition Universelle 1889 secara mendalam memengaruhi pendekatannya terhadap harmoni dan warna suara, menginspirasi penggunaan tangga nada whole-tone yang inovatif serta sonoritas eksotis yang kelak menjadi ciri khas gaya musik impresionisnya.
Debussy bukan satu-satunya komposer yang terpengaruh gamelan pada masa itu. Komposer Polandia-Amerika Leopold Godowsky bahkan langsung mengunjungi Indonesia dan berupaya merekreasi pengalaman perjalanannya lewat musik, menghasilkan rangkaian komposisi piano solo berjudul " Java Suite" pada 1925, sekitar dua dekade setelah eksperimen Debussy dengan gamelan pertama kali menggemparkan dunia musik klasik Eropa.
Lebih dari seratus tiga puluh tahun kemudian, sentuhan gamelan yang ia dengar di Paris masih terus bergema dalam setiap dentingan " Pagodes" yang dimainkan pianis di seluruh dunia, sebuah bukti nyata bagaimana pertemuan lintas budaya bisa mengubah selamanya arah sebuah tradisi seni.
Advertisement

Raden Saleh, Pelukis Jenius dari Nusantara yang Diakui di Eropa

Aroma yang Cocok Digunakan di Negara Tropis seperti Indonesia


Ini yang Terjadi pada Otak Setelah Berhenti Konsumsi Gula Tambahan Selama Sebulan


Pandangan Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram untuk Ketenangan Jiwa di Masa Modern

Bukan IQ, Ini Jenis Kepintaran yang Lebih Penting dan Menentukan Kesuksesan