Hari yang Dihilangkan dalam Sejarah Manusia saat Pergantian Kalender

Reporter : Abidah
Senin, 17 Agustus 2026 10:00
Hari yang Dihilangkan dalam Sejarah Manusia saat Pergantian Kalender
Pada tahun 1582, terdapat 10 hari yang dihilangkan dari kalender sebab terjadinya pergantian kalender.

DREAM.CO.ID - Coba bayangkan ketika kita tidur di malam hari, lalu bangun keesokan paginya untuk mendapati sepuluh hari sekaligus telah lenyap dari kalender. Bukan ilusi, bukan pula kesalahan pencatatan. Ini benar-benar terjadi pada jutaan orang di Eropa pada 1582, salah satu momen paling aneh dalam sejarah pencatatan waktu manusia.

Dilansir dari Britannica, akar masalahnya bermula dari kalender Julian yang diperkenalkan Julius Caesar pada 46 SM. Kalender ini menghitung satu tahun matahari berdurasi tepat 365 hari 6 jam. Angka itu ternyata meleset sekitar 11 menit setiap tahunnya dari perhitungan astronomis sesungguhnya, selisih yang terlihat sepele namun terus menumpuk seiring waktu, kira-kira satu hari penuh setiap 128 tahun.

Kesalahan kecil ini sebenarnya sudah disadari sejak abad kedelapan masehi, namun berbagai usulan reformasi kalender yang diajukan kepada para paus di Abad Pertengahan tidak pernah benar-benar dilaksanakan. Baru pada Konsili Trente periode 1562-1563, muncul dekret resmi yang mendesak Paus untuk menyelesaikan masalah ini lewat reformasi kalender.

Bagi Gereja Katolik, ini bukan sekadar ketidaknyamanan kecil, melainkan krisis teologis yang serius. Sejak Konsili Nicea pada 325 masehi, ditetapkan bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama pasca-ekuinoks musim semi. Namun akibat penyimpangan kalender Julian yang terus menumpuk, ekuinoks musim semi yang seharusnya jatuh pada 21 Maret perlahan bergeser mundur hingga 11 Maret, sehingga perayaan Paskah pun ikut kacau dari jadwal semestinya.

1 dari 3 halaman

Sepuluh Hari yang Lenyap dari Oktober 1582

Paus Gregorius XIII akhirnya mengambil langkah tegas. Pada Februari 1582, ia menandatangani bulla kepausan yang memberlakukan kalender baru, disusun berdasarkan usulan ilmuwan Italia Luigi Lilio dengan sejumlah penyempurnaan dari astronom Jesuit Christopher Clavius. Sistem baru ini kelak dikenal sebagai kalender Gregorian.

Bagian paling dramatis dari reformasi ini terjadi pada Oktober 1582, ketika sepuluh hari sengaja dihapus dari kalender untuk mengembalikan ekuinoks musim semi kembali ke 21 Maret. Gereja memilih Oktober secara khusus karena bulan ini tidak berbenturan dengan perayaan besar dalam kalender Kristen. Maka di negara-negara yang menerapkan kalender baru ini, Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi pada 4 Oktober 1582 langsung diikuti oleh 15 Oktober, tanpa ada tanggal 5 hingga 14 Oktober sama sekali di tahun itu.

Negara-negara Katolik seperti Italia, Spanyol, Portugal, dan Polandia langsung mengadopsi perubahan ini pada Oktober 1582, disusul Prancis pada Desember tahun yang sama. Selain menghapus sepuluh hari, Paus Gregorius juga mengubah aturan tahun kabisat agar penyimpangan serupa tidak terulang di masa depan: tahun abad seperti 1700, 1800, dan 1900 tidak lagi dianggap tahun kabisat, kecuali bisa dibagi 400, seperti tahun 1600 dan 2000. Hasilnya, kalender Gregorian kini rata-rata berdurasi 365,2425 hari per tahun, cukup akurat sehingga tidak memerlukan koreksi besar lagi selama ribuan tahun ke depan.

 

2 dari 3 halaman

Inggris Menyusul 170 Tahun Kemudian dengan Sebelas Hari

Tidak semua negara mengadopsi kalender baru ini secara serentak. Negara-negara Protestan dan Ortodoks menolak keras mengikuti perintah Paus, sehingga selama bertahun-tahun, Eropa terbelah dalam dua sistem penanggalan berbeda, dengan negara-negara Katolik " melompat" sepuluh hari lebih maju dibanding tetangga mereka yang masih memakai kalender lama.

Inggris baru menyusul mengadopsi kalender Gregorian pada 1752, jauh setelah negara-negara Katolik Eropa lainnya. Undang-Undang Kalender (New Style) 1750 memberlakukan kalender Gregorian di Inggris dan seluruh wilayah kekuasaannya. Kali ini, penyimpangan yang harus dikoreksi sudah bertambah menjadi sebelas hari, bukan sepuluh seperti pada 1582. Diputuskan bahwa Rabu, 2 September 1752, akan langsung diikuti oleh Kamis, 14 September 1752.

Cerita populer menyebutkan kerumunan warga Inggris sempat mengamuk di jalanan, berteriak menuntut " Give us back our 11 days" atau " kembalikan sebelas hari kami" , karena mengira upah dan hidup mereka ikut terpotong akibat perubahan kalender ini. Namun para sejarawan modern kini meyakini kerusuhan besar-besaran semacam itu sebagian besar hanyalah mitos yang berlebihan, kemungkinan besar berakar dari sebuah lukisan satir karya William Hogarth berjudul " An Election Entertainment" pada 1755, yang menampilkan spanduk bertuliskan slogan tersebut dalam konteks sindiran politik pemilu, bukan bukti kerusuhan nyata.

Meski begitu, kekhawatiran masyarakat saat itu memang nyata, terutama terkait tanggal pembayaran upah, bunga, dan kontrak yang tiba-tiba bergeser akibat sebelas hari yang hilang. Bahkan Benjamin Franklin, tokoh Amerika yang saat itu masih di bawah kekuasaan Inggris, justru menyambut perubahan ini dengan gembira, menulis bahwa menyenangkan rasanya bagi orang tua untuk bisa tidur pada 2 September dan tidak perlu bangun sampai 14 September.

3 dari 3 halaman

Penyesuaian yang Berlangsung Berabad-abad

Adopsi kalender Gregorian ternyata bukan proses yang selesai dalam semalam bagi seluruh dunia. Dilansir dari Omnes, Swedia baru mengikuti perubahan ini pada 1753, Jepang pada 1873, Tiongkok pada 1912, Rusia pada 1918, Yunani pada 1923, dan Turki baru menyusul pada 1927, masing-masing dengan jumlah hari yang harus dihapus berbeda-beda tergantung seberapa jauh kalender lama mereka sudah menyimpang dari perhitungan astronomis yang benar.

Dilansir dari IFLScience, bahkan Alaska baru beralih ke kalender Gregorian pada 1867, tepat saat wilayah itu berpindah kepemilikan dari Rusia ke Amerika Serikat, menunjukkan betapa panjangnya proses transisi global ini berlangsung, tersebar dalam rentang waktu hampir tiga setengah abad sejak pertama kali diberlakukan di Eropa pada 1582.

Hari ini, kalender Gregorian sudah menjadi standar internasional yang dipakai hampir seluruh dunia untuk urusan sipil dan administratif, meski beberapa negara dan tradisi keagamaan tetap mempertahankan kalender lain untuk kepentingan tertentu. Peristiwa hilangnya sepuluh hingga sebelas hari dari catatan sejarah manusia ini menjadi pengingat unik bahwa bahkan sesuatu yang terasa sekonstan waktu pun sesungguhnya adalah konstruksi manusia, yang bisa dan pernah benar-benar diubah demi menyelaraskan hitungan kalender dengan pergerakan alam semesta yang sesungguhnya.

Beri Komentar