© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
DREAM.CO.ID - Bagi orang yang terbiasa membaca alfabet Latin, belajar bahasa baru dengan aksara berbeda bisa terasa seperti kembali belajar membaca dari awal. Ketika membuka buku bahasa Arab, misalnya, huruf-hurufnya tampak menyambung dan bergerak dari kanan ke kiri.
Saat belajar bahasa Jepang, pembelajar harus berkenalan dengan hiragana, katakana, dan kanji. Sementara itu, bahasa Korea memiliki Hangul dengan bentuk blok suku kata yang sekilas terlihat rumit. Tantangannya bukan hanya menghafalkan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga membangun kebiasaan baru agar mata dan otak mengenali simbol yang sebelumnya terasa asing.
Pahami Sistem Tulisan
Meski demikian, belajar aksara baru sebenarnya tidak harus dimulai dengan menghafalkan puluhan atau bahkan ratusan karakter sekaligus. Langkah pertama yang lebih penting adalah memahami cara kerja sistem tulisannya.
Cari tahu terlebih dahulu apakah bahasa tersebut menggunakan alfabet, abjad, abugida, atau sistem logografis. Perhatikan pula arah penulisannya, cara huruf dibentuk, dan apakah bentuk sebuah huruf berubah ketika berada di posisi tertentu. Pemahaman ini membuat simbol-simbol yang awalnya terlihat seperti gambar acak menjadi sebuah sistem yang memiliki aturan.
Hafalkan Karakter Paling Dasar
Setelah memahami sistemnya, mulailah dari jumlah karakter yang paling dasar. Jangan langsung mengejar kemampuan membaca teks panjang. Jika belajar Hangul, misalnya, kuasai bentuk dasar konsonan dan vokal terlebih dahulu sebelum mempelajari aturan perubahan bunyi.
Jika belajar bahasa Jepang, hiragana dan katakana dapat menjadi fondasi sebelum masuk ke kanji. Untuk bahasa Arab, pembelajar dapat memulai dari bentuk huruf dan hubungan antarkarakter sebelum beralih ke teks yang lebih kompleks. Prinsipnya sederhana: buat otak berkenalan dengan sedikit simbol secara berulang sebelum menambahkan simbol baru.
Jangan Andalkan Hafalan Visual Saja
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah mengandalkan hafalan visual semata. Karakter mungkin tampak sudah familiar ketika dilihat, tetapi tiba-tiba sulit ditulis atau dibaca ketika muncul dalam kata yang berbeda. Karena itu, gunakan beberapa indera sekaligus.
Ucapkan bunyinya ketika melihat karakter, tulis kembali dengan tangan, lalu cari contoh penggunaannya dalam sebuah kata. Jika belajar bahasa Jepang, misalnya, jangan hanya menghafalkan bahwa 「あ」 berbunyi a. Gunakan karakter tersebut dalam kata sederhana sehingga otak menghubungkan bentuk, bunyi, dan makna sekaligus.
Ulangi Secara Berjeda
Teknik lain yang cukup membantu adalah spaced repetition atau pengulangan berjeda. Daripada menghafalkan 30 karakter dalam satu malam kemudian tidak membukanya lagi selama seminggu, lebih baik belajar dalam sesi pendek tetapi berulang.
Karakter yang baru dipelajari dapat diulang pada hari yang sama, kemudian sehari setelahnya, beberapa hari kemudian, dan kembali pada minggu berikutnya. Aplikasi kartu pengingat dapat membantu, tetapi sebenarnya kartu kertas pun sudah cukup. Yang terpenting adalah memberi jarak di antara sesi belajar agar otak memiliki kesempatan memperkuat ingatan.
Baca dari Teks Sederhana
Pembelajar juga sebaiknya mulai membaca teks yang sangat sederhana sedini mungkin. Tidak perlu menunggu sampai menguasai seluruh karakter. Setelah mengetahui beberapa huruf, carilah kata pendek, nama tempat, label makanan, judul lagu, atau kalimat sederhana.
Tujuannya bukan langsung memahami seluruh isi teks, tetapi membiasakan mata mengenali karakter dalam konteks nyata. Pada tahap ini, membaca perlahan justru lebih bermanfaat daripada memaksakan kecepatan. Lama-kelamaan, bentuk karakter yang sebelumnya harus dieja satu per satu akan mulai dikenali secara otomatis.
Ikuti Arah Teks
Untuk aksara yang memiliki arah penulisan berbeda, seperti Arab yang bergerak dari kanan ke kiri, latih gerakan mata sekaligus tangan. Jangan hanya memindahkan kebiasaan membaca alfabet Latin ke sistem baru.
Biasakan mengikuti arah teks yang benar sejak awal. Hal serupa berlaku untuk bahasa Jepang dan Mandarin yang menggunakan penulisan vertikal dalam konteks tertentu. Memahami arah tulisan membantu mengurangi kebingungan ketika membaca kalimat yang lebih panjang.
Jangan Mencampur Terlalu Banyak Target
Yang tidak kalah penting, jangan mencampur terlalu banyak target dalam satu waktu. Seseorang yang baru belajar bahasa Jepang tidak harus sekaligus menghafalkan seluruh hiragana, katakana, ratusan kanji, tata bahasa, dan ribuan kosakata.
Tetapkan target kecil, misalnya mengenali sepuluh karakter baru dalam satu minggu dan menggunakannya untuk membaca sejumlah kata. Kemajuan kecil yang konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan daripada belajar berjam-jam dalam satu hari lalu berhenti karena merasa kewalahan.
Belajar bahasa dengan aksara berbeda bukan sekadar kegiatan menghafalkan bentuk huruf. Pembelajar sedang melatih otak untuk menggunakan sistem membaca yang baru. Karena itu, rasa lambat atau sering tertukar pada tahap awal merupakan hal yang wajar. Semakin sering karakter dilihat, ditulis, diucapkan, dan digunakan dalam konteks nyata, semakin cepat otak membangun pola pengenalan.
Tidak perlu terburu-buru mengejar jumlah karakter. Mulailah dari sedikit, ulangi secara teratur, gunakan dalam kata dan kalimat, kemudian tingkatkan kesulitannya secara bertahap. Dengan cara tersebut, aksara yang awalnya terlihat asing perlahan berubah menjadi sesuatu yang dapat dibaca tanpa harus berpikir terlalu keras.
Advertisement

Miliki Nama Sama, Apa Bedanya Suku Baduy di Sunda dan di Jazirah Arab?


Mengapa Cara Membaca Aksara di Tiap Budaya Bisa Berbeda-beda?

Deretan Musisi Luar Negeri yang Akan Mengunjungi Indonesia pada Agustus 2026

Mengapa Kekaisaran Romawi Pernah Memindahkan Pusatnya ke Konstantinopel dan Pecah Menjadi Dua


Punya Badan Sebesar Beruang, Benarkah Panda Hanya Makan Bambu?