Mengapa Cara Membaca Aksara di Tiap Budaya Bisa Berbeda-beda?

Reporter : Abidah
Minggu, 16 Agustus 2026 08:00
Mengapa Cara Membaca Aksara di Tiap Budaya Bisa Berbeda-beda?
Sejumlah bahasa dan budaya yang berbeda memiliki sistem huruf atau aksara yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini juga terkait pada arah membacanya.

DREAM.CO.ID - Bayangkan seseorang yang terbiasa membaca buku dari kiri ke kanan tiba-tiba membuka manuskrip Arab. Matanya mungkin secara spontan mencari awal kalimat di sisi kiri halaman, tetapi teks justru bergerak dari kanan ke kiri. Situasi yang sama terjadi ketika seseorang berhadapan dengan teks tradisional Tiongkok atau Jepang yang ditulis dalam lajur vertikal: bacaan bergerak dari atas ke bawah, sementara lajur berikutnya dibaca dari kanan ke kiri.

Bagi pembaca modern, arah tersebut mungkin terasa “ terbalik”. Namun, bagi penutur bahasa yang bersangkutan, tidak ada yang aneh. Arah membaca bukanlah aturan alamiah tentang bagaimana mata manusia seharusnya bergerak, melainkan hasil perjalanan panjang sebuah sistem tulisan di dalam kebudayaan tertentu.

Secara sederhana, arah tulisan adalah konvensi. Artinya, masyarakat menyepakati cara simbol-simbol bahasa disusun dan dibaca agar komunikasi dapat berlangsung secara konsisten. Karena sistem tulisan berkembang di tempat, zaman, dan lingkungan budaya yang berbeda, tidak mengherankan jika cara penggunaannya juga beragam.

Bahasa Arab, misalnya, menggunakan aksara Arab yang umumnya ditulis dari kanan ke kiri. Bahasa Indonesia menggunakan alfabet Latin yang ditulis dari kiri ke kanan. Sementara itu, dalam tradisi tulisan Tiongkok, karakter secara historis dapat disusun secara vertikal dari atas ke bawah, dengan kolom bergerak dari kanan ke kiri. Tradisi Jepang juga mengenal penulisan vertikal, meskipun tulisan horizontal dari kiri ke kanan kini sangat umum digunakan.

1 dari 2 halaman

Disebabkan Perkembangan Media Tulis

Perbedaan tersebut sebagian berkaitan dengan sejarah perkembangan media tulis. Sebelum kertas dan mesin cetak modern menjadi umum, manusia menulis pada berbagai media, seperti batu, lempengan tanah liat, papirus, kulit, bambu, kayu, dan lembaran lainnya. Cara sebuah sistem tulisan berkembang tidak dapat dilepaskan dari karakteristik media yang digunakan serta kebiasaan masyarakat yang menggunakannya.

Mesopotamia kuno, misalnya, mengenal tulisan paku atau cuneiform yang ditekan menggunakan alat berbentuk baji pada lempengan tanah liat. Sistem tersebut berkembang melalui proses panjang dan tidak dapat begitu saja disamakan dengan tradisi alfabet yang muncul kemudian.

Sejarah alfabet juga memperlihatkan bagaimana satu sistem tulisan dapat mengalami perubahan arah. Alfabet Fenisia, yang berkembang di kawasan Mediterania Timur sekitar milenium pertama sebelum Masehi, umumnya ditulis dari kanan ke kiri. Sistem ini kemudian memengaruhi alfabet Yunani.

Pada periode awal, tulisan Yunani tidak selalu menggunakan satu arah. Salah satu bentuknya adalah boustrophedon, istilah yang secara harfiah berarti “ seperti cara sapi membajak sawah”. Baris pertama bergerak dari kiri ke kanan, baris berikutnya berbalik dari kanan ke kiri, kemudian kembali lagi ke arah sebelumnya. Seiring waktu, bahasa Yunani menetapkan arah kiri ke kanan sebagai standar, dan tradisi ini kemudian diteruskan oleh alfabet Latin yang digunakan dalam bahasa Indonesia dan banyak bahasa Eropa.

2 dari 2 halaman

Aksara Asia Timur dan Jazirah Arab

Sementara itu, tradisi aksara yang berkembang di Asia Timur memiliki sejarah berbeda. Sistem tulisan Tiongkok sejak masa awal menggunakan karakter yang secara tradisional dapat disusun dalam lajur vertikal. Dalam format tersebut, karakter ditulis dari atas ke bawah, kemudian lajur berikutnya bergerak dari kanan ke kiri.

Penggunaan bentuk vertikal sangat sesuai dengan format gulungan dan lembaran yang digunakan dalam tradisi tulis Asia Timur. Ketika teknologi percetakan dan kemudian mesin tik serta komputer berkembang, penulisan horizontal menjadi semakin praktis. Karena itu, bahasa seperti Mandarin dan Jepang saat ini dapat ditemukan dalam format horizontal maupun vertikal, tergantung kebutuhan dan konteks.

Lalu mengapa bahasa Arab tetap menggunakan arah kanan ke kiri? Jawabannya berkaitan dengan sejarah dan perkembangan aksara Arab itu sendiri. Aksara Arab merupakan bagian dari keluarga aksara Semitik yang memiliki tradisi penulisan dari kanan ke kiri.

Bahasa Ibrani juga mempertahankan arah tersebut. Jadi, ketika seseorang membaca teks Arab dari kanan ke kiri, ia sebenarnya sedang mengikuti konvensi yang telah diwariskan melalui sejarah panjang sistem tulisan tersebut, bukan menggunakan cara membaca yang secara biologis berbeda.

Menariknya, otak manusia sebenarnya mampu beradaptasi dengan berbagai arah tulisan. Anak yang tumbuh menggunakan bahasa dengan sistem kiri ke kanan akan terbiasa mengenali pola tersebut, sementara anak yang belajar bahasa dengan sistem kanan ke kiri akan mengembangkan kebiasaan visual yang berbeda. Penelitian mengenai membaca menunjukkan bahwa sistem tulisan dan pengalaman membaca dapat memengaruhi bagaimana mata bergerak saat mengikuti teks. Namun, bukan berarti manusia dilahirkan dengan “ arah membaca” tertentu. Bayi tidak memiliki kecenderungan bawaan untuk membaca dari kiri ke kanan atau kanan ke kiri karena kemampuan tersebut berkembang melalui proses belajar.

Perbedaan arah membaca juga mengingatkan kita bahwa aksara bukan sekadar kumpulan simbol, melainkan bagian dari kebudayaan. Cara sebuah masyarakat menulis mencerminkan sejarah, teknologi, kebiasaan, dan hubungan antargenerasi yang membentuknya. Itulah sebabnya satu halaman buku dapat mengajarkan lebih dari sekadar bunyi dan makna kata. Arah teks di dalamnya juga menyimpan jejak perjalanan manusia dalam menemukan cara untuk merekam bahasa dan menyampaikannya kepada orang lain.

Hari ini, layar ponsel dan komputer memang membuat berbagai sistem tulisan berada dalam satu ruang yang sama. Kita dapat membaca bahasa Indonesia dari kiri ke kanan, bahasa Arab dari kanan ke kiri, dan teks Jepang secara vertikal dalam perangkat yang sama.

Perbedaan itu tidak menunjukkan bahwa salah satunya lebih benar atau lebih mudah daripada yang lain. Setiap arah membaca merupakan hasil kesepakatan budaya yang terbentuk melalui sejarah panjang, dan keberagaman tersebut justru memperlihatkan betapa kreatifnya manusia dalam mengembangkan cara untuk menyimpan dan menyampaikan bahasa.

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More