Miliki Nama Sama, Apa Bedanya Suku Baduy di Sunda dan di Jazirah Arab?

Reporter : Abidah
Minggu, 16 Agustus 2026 06:00
Miliki Nama Sama, Apa Bedanya Suku Baduy di Sunda dan di Jazirah Arab?
Nama Baduy atau Badui yang diberikan pada Urang Kanekes ternyata diambil dari nama suku yang berasal dari Jazirah Arab.

DREAM.CO.ID - Sepintas, siapa pun yang mendengar nama " Baduy" dan " Badui" mungkin mengira keduanya berasal dari akar yang sama, atau bahkan satu kelompok yang sama. Faktanya, dua nama ini merujuk pada dua masyarakat yang sama sekali berbeda, di dua ujung dunia yang jauh terpisah: satu di pedalaman Banten, Jawa Barat, satu lagi di gurun pasir Jazirah Arab. Kemiripan namanya bukan kebetulan, tapi juga bukan berarti keduanya berkerabat.

Baduy di Banten: Sub-Etnis Sunda yang Menolak Modernisasi

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, suku Baduy, atau dalam bahasa Sunda disebut Urang Kanékés, merupakan sub-etnis dari suku Sunda yang tinggal di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Populasi mereka diperkirakan sekitar 26 ribu jiwa, mendiami kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.

Masyarakat ini terbagi menjadi dua kelompok utama: Baduy Dalam yang masih sangat tradisional dan menutup diri sepenuhnya dari pengaruh luar, dan Baduy Luar yang sudah lebih terbuka terhadap interaksi dengan dunia modern. Menurut kepercayaan mereka sendiri, orang Kanekes adalah keturunan Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa yang diturunkan ke bumi, dengan tugas menjaga keselarasan dunia lewat laku bertapa dan hidup sederhana. Kepercayaan ini dikenal sebagai Sunda Wiwitan, berakar pada pemujaan leluhur, namun seiring waktu turut dipengaruhi unsur Islam, Buddha, dan Hindu.

1 dari 3 halaman

Nama Baduy Diberikan oleh Orang Luar

Menariknya, nama " Baduy" sebenarnya bukan sebutan yang mereka ciptakan sendiri. Nama Baduy merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut.

Salah satu penjelasan yang paling banyak dipercaya menyebut nama ini muncul dari para peneliti Belanda yang melihat kemiripan cara hidup mereka dengan kelompok Arab Badawi di Timur Tengah, masyarakat yang dikenal hidup berpindah-pindah alias nomaden. Ada pula penjelasan alternatif yang mengaitkan nama ini dengan Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang terletak di bagian utara wilayah tersebut.

Masyarakat Kanekes sendiri lebih senang disebut Urang Kanekes atau Urang Rawayan, sesuai nama wilayah tempat tinggal mereka, atau nama kampung asal masing-masing seperti Urang Cibeo. Nama " Baduy" bagi mereka murni sebutan dari luar, bukan identitas yang mereka pilih sendiri.

2 dari 3 halaman

Badui di Arab: Nomaden Sejati dari Gurun Timur Tengah

Di sisi lain dunia, jauh sebelum istilah " Baduy" menempel pada masyarakat Kanekes, nama " Badui" atau Bedouin sudah lama digunakan untuk merujuk pada kelompok nomaden Arab. Dilansir dari Encyclopædia Britannica, komunitas Badui secara tradisional mendiami kawasan gurun di Timur Tengah, mencakup Afrika Utara, Jazirah Arab, Mesir, Israel, Irak, Suriah, dan Yordania. Mereka adalah kelompok berbahasa Arab yang hidup nomaden, dengan mayoritas berprofesi sebagai penggembala hewan yang berpindah ke gurun saat musim hujan tiba dan kembali ke lahan pertanian saat musim kemarau.

Secara tradisional, suku-suku Badui diklasifikasikan berdasarkan jenis hewan ternak yang menjadi sumber penghidupan mereka. Pengembara unta menempati wilayah luas dan terorganisasi dalam suku-suku besar di gurun Sahara, Suriah, dan Arab. Pengembara domba dan kambing memiliki wilayah jelajah lebih sempit, umumnya di dekat kawasan bercocok tanam di Yordania, Suriah, dan Irak. Sementara pengembara ternak sapi lebih banyak ditemukan di Arab Selatan dan Sudan.

Masyarakat Badui hidup dalam struktur sosial patriarkal, terorganisasi dalam keluarga besar yang dipimpin seorang kepala suku bergelar sheikh, dibantu oleh dewan tetua laki-laki. Selain beternak, sebagian kelompok Badui juga bercocok tanam kurma dan tanaman lain, meski biasanya mempekerjakan orang lain untuk mengerjakan lahan pertanian mereka.

Setelah Perang Dunia I, suku-suku Badui berangsur tunduk pada kendali pemerintah negara-negara tempat wilayah pengembaraan mereka berada, dan mulai meninggalkan tradisi perseteruan antarklan serta penyerbuan desa demi hubungan komersial yang lebih damai. Memasuki paruh kedua abad ke-20, banyak dari mereka mulai menetap seiring pemerintah setempat menasionalisasi lahan pengembalaan dan menerapkan berbagai program pemukiman.

3 dari 3 halaman

Kemiripan Nama, Bukan Kemiripan Asal

Jadi, apa sebenarnya yang menghubungkan kedua nama ini? Jawabannya murni soal persepsi orang luar, bukan hubungan sejarah atau genealogi. Para peneliti Belanda yang datang ke Banten pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 melihat cara hidup masyarakat Kanekes, yang menjaga jarak dari dunia luar dan hidup sesuai aturan adat ketat, lalu menyamakannya dengan citra masyarakat Badui Arab yang saat itu identik dengan kehidupan gurun yang terisolasi dan berpindah-pindah. Kemiripan yang dilihat sebenarnya lebih pada kesan keterasingan dan kesederhanaan hidup, bukan pada asal-usul etnis, bahasa, maupun sejarah leluhur.

Baduy Banten adalah sub-etnis Sunda yang menetap di satu wilayah tertap, Desa Kanekes, dengan sistem kepercayaan Sunda Wiwitan dan aturan adat (pikukuh) yang mengatur seluruh sendi kehidupan mereka secara turun-temurun. Badui Arab, sebaliknya, adalah kelompok etnis Arab yang justru dikenal karena mobilitasnya, hidup nomaden mengikuti musim dan ketersediaan sumber daya bagi ternak mereka, dengan bahasa dan sistem kesukuan yang sepenuhnya berbeda dari masyarakat Sunda.

Pemberian nama " Baduy" yang disandang masyarakat Kanekes adalah bukti bagaimana penjajah dan peneliti kolonial kerap memberi label pada masyarakat lokal berdasarkan kesan sepintas, bukan pemahaman mendalam soal identitas budaya yang sesungguhnya. Dua kelompok dengan nama serupa ini pada akhirnya hidup di dunia yang benar-benar berbeda, disatukan hanya oleh kebetulan penamaan yang lahir dari cara pandang orang luar terhadap mereka.

Beri Komentar