Mengapa Kekaisaran Romawi Pernah Memindahkan Pusatnya ke Konstantinopel dan Pecah Menjadi Dua

Reporter : Abidah
Senin, 17 Agustus 2026 06:00
Mengapa Kekaisaran Romawi Pernah Memindahkan Pusatnya ke Konstantinopel dan Pecah Menjadi Dua
Istanbul atau pada masa itu disebut sebagai Konstantinopel pernah menjadi Ibukota Kekaisaran Romawi Timur dan memecah kerajaan tersebut menjadi dua bagian besar.

DREAM.CO.ID - Bayangkan sebuah kerajaan yang begitu luas hingga satu orang saja tak lagi sanggup mengendalikannya dari satu kota. Itulah persoalan nyata yang dihadapi Kekaisaran Romawi menjelang abad keempat masehi, sebuah masalah yang akhirnya melahirkan keputusan paling menentukan dalam sejarah kekaisaran: memindahkan pusat kekuasaan jauh ke timur, ke sebuah kota bernama Byzantium, yang kelak berganti nama menjadi Konstantinopel.

Kekaisaran yang Terlalu Besar untuk Dikelola Satu Orang

Dilansir dari History Bibliotheca, persoalan mendasar yang mendorong pemindahan ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum Konstantin berkuasa. Kaisar Diocletian sudah lebih dulu menyadari kekaisaran ini terlalu luas untuk dikendalikan satu tangan, sehingga ia melakukan reformasi besar dengan menciptakan sistem yang dikenal sebagai Tetrarki, di mana dua kaisar senior (Augustus) dibantu dua kaisar junior (Caesar) memerintah bersama-sama untuk mengelola wilayah kekaisaran yang begitu luas.

Pembelahan kekaisaran secara administratif ini dimulai pada abad ketiga masehi, ketika Kaisar Diocletian membagi kekaisaran menjadi empat wilayah administratif. Diocletian sendiri sudah lebih dulu memindahkan istana kekaisaran ke timur, menjadikan Nikomedia, kota di wilayah Turki modern, sebagai salah satu ibu kota penting.

1 dari 4 halaman

Konstantin dan Pilihan Strategis Bernama Byzantium

Konstantin, putra dari Constantius Chlorus yang memerintah provinsi barat, akhirnya naik ke tampuk kekuasaan dan melanjutkan sebagian besar reformasi Diocletian, namun dengan langkah yang jauh lebih berani: mendirikan Konstantinopel sebagai ibu kota baru di timur, mengukuhkan pentingnya provinsi-provinsi timur yang memang lebih makmur.

Ada alasan geografis yang sangat kuat di balik pilihan lokasi ini. Byzantium terletak membentang di atas Eropa dan Asia, di tepi Selat Bosphorus, jauh lebih dekat ke pusat geografis kekaisaran dibanding Roma, dengan provinsi-provinsi di Suriah dan Timur Tengah menjadi penyeimbang bagi provinsi-provinsi barat tradisional seperti Galia dan Hispania.

Pada masa itu, provinsi-provinsi timur juga jauh lebih kaya dibanding wilayah barat, sebagian besar berkat jalur perdagangan yang menguntungkan. Konstantinopel pun menguasai Bosphorus, jalur laut sempit yang memisahkan Eropa dan Asia, sekaligus mengendalikan rute perdagangan vital menuju Laut Hitam.

Ada pula alasan politik yang mendorong pemilihan lokasi ini. Setelah mengalahkan Licinius, penguasa saingannya di wilayah timur, Konstantin ingin ibu kota baru ini merepresentasikan integrasi penuh wilayah timur ke dalam Kekaisaran Romawi secara keseluruhan, alih-alih membiarkan timur tetap menjadi pusat kekuatan politik dan budaya Yunani yang terpisah.

Kota ini resmi diresmikan pada tahun 330 masehi. Konstantin mencurahkan sumber daya luar biasa untuk membangun kotanya: forum, basilika, istana kekaisaran, dan gereja-gereja Kristen yang memadukan kemegahan Romawi dengan simbolisme Kristen. Ia mendatangkan senator dan pengrajin, mengimpor gandum dan marmer, menjadikan Konstantinopel bukan sekadar ibu kota, melainkan pusat identitas kekaisaran yang benar-benar baru.

 

2 dari 4 halaman

Ketika Roma Perlahan Ditinggalkan

Pemindahan ini membawa konsekuensi besar yang tidak main-main bagi wilayah barat kekaisaran. Ribuan warga Romawi mengemasi barang-barang mereka mengikuti pasukan militer, birokrasi, dan kaisar menuju Byzantium. Pasukan yang sebelumnya menjaga perbatasan di sepanjang Sungai Danube ditarik mundur, begitu pula tentara yang ditempatkan di Britania. Kekaisaran Romawi Barat pun ditinggalkan dalam kondisi rentan, tanpa kekuatan militer yang memadai untuk mempertahankan wilayahnya.

Tidak lama setelah pasukan Romawi ditarik, suku-suku Jermanik langsung bergerak masuk mengisi kekosongan itu, mengubah wajah Eropa selamanya. Dampaknya nyata: begitu Konstantin memindahkan ibu kota ke Byzantium, wilayah-wilayah barat kekaisaran menjadi semakin jauh dari stabilitas ekonomi dan kekuatan pertahanan para pemimpin di Roma, menjadikannya sasaran empuk bagi bangsa-bangsa barbar di luar perbatasan.

3 dari 4 halaman

Perpecahan yang Semakin Mengakar

Perbedaan antara timur dan barat bukan cuma soal geografi dan kekuatan militer, tapi juga bahasa dan budaya yang perlahan bergeser semakin jauh. Sepanjang sejarahnya, wilayah barat Kekaisaran Romawi tetap mempertahankan bahasa Latin sebagai bahasa resmi administrasi dan hukum, sementara wilayah timur semakin memeluk bahasa Yunani, terutama di kalangan elite terpelajar dan dalam konteks keagamaan.

Meski kedua wilayah sama-sama menganut agama Kristen setelah Konstantin melegalkan iman itu pada awal abad keempat, praktik keagamaan dan struktur gereja mereka lambat laun mengalami perpecahan, meletakkan fondasi bagi perpecahan Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur di kemudian hari.

Perpecahan administratif ini akhirnya resmi menjadi permanen pada 395 masehi. Kekaisaran Romawi terbelah kembali setelah kematian Kaisar Theodosius I di Konstantinopel, kali ini tidak akan pernah utuh kembali. Ia membagi provinsi-provinsi kekaisaran menjadi timur dan barat, seperti yang sudah pernah dilakukan Diocletian lewat sistem Tetrarki lebih dari satu abad sebelumnya, diwariskan kepada kedua putranya, Arcadius dan Honorius.

4 dari 4 halaman

Satu Kekaisaran Runtuh, Satu Lagi Bertahan Seribu Tahun

Perpecahan ini membawa nasib yang jauh berbeda bagi kedua belahan kekaisaran. Wilayah barat terus melemah akibat invasi tanpa henti dan tekanan dari berbagai ancaman seperti suku Hun, Goth, dan Vandal, hingga akhirnya runtuh total pada 476 masehi.

Sementara itu, wilayah timur, yang kelak dikenal dunia modern sebagai Kekaisaran Bizantium meski penduduknya sendiri tetap menganggap diri mereka sebagai orang Romawi berbahasa Yunani, justru bertahan hingga 1453 masehi, saat akhirnya ditaklukkan bangsa Turki Ottoman.

Seandainya kekaisaran ini tetap lebih bersatu, baik secara geografis maupun spiritual, mungkin ia bisa lebih baik menahan gelombang invasi yang datang di abad-abad berikutnya. Namun dengan mengalihkan pusat kekuasaan dan prestise ke timur, sekaligus meninggalkan Roma dalam kondisi rentan dan melemah, Konstantin secara tidak langsung menciptakan kekosongan kekuasaan yang kelak diisi kerajaan-kerajaan baru, termasuk Kekaisaran Ottoman yang akhirnya menaklukkan Konstantinopel pada 1453, menandai berakhirnya benar-benar Kekaisaran Romawi setelah bertahan lebih dari seribu tahun dalam wujud terakhirnya di timur.

Beri Komentar