© Pexels.com/Tima Miroshnichenko
DREAM.CO.ID - Salah satu tantangan terbesar menjadi pekerja lepas atau freelance bukan cuma soal mengejar klien, tapi juga soal masa depan finansial yang tidak otomatis terjamin seperti karyawan kantoran. Tanpa perusahaan yang memotong gaji untuk iuran pensiun, tanpa program dana pensiun otomatis dari kantor, seluruh tanggung jawab merencanakan hari tua sepenuhnya jatuh ke tangan sendiri. Kabar baiknya, ini bukan berarti freelancer tidak punya opsi. Justru sebaliknya, ada banyak jalur yang bisa dimanfaatkan, asal dimulai sejak dini dan dijalankan konsisten.
Banyak pekerja lepas tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tetap berhak mendapatkan perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan lewat program khusus bernama Bukan Penerima Upah (BPU). Dilansir dari BPJS Ketenagakerjaan, program BPU dirancang khusus untuk wirausaha, freelancer, dan pekerja paruh waktu tanpa ikatan kerja formal, menawarkan manfaat berupa uang tunai saat peserta memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia. Nilai manfaat yang diterima merupakan akumulasi seluruh iuran yang sudah dibayarkan ditambah hasil pengembangannya selama masa kepesertaan.
Program ini mencakup Jaminan Hari Tua (JHT), yang berfungsi sebagai dana cadangan untuk masa pensiun. Kabar baiknya, iuran BPU tergolong sangat fleksibel dan terjangkau, mulai dari puluhan ribu rupiah per bulan tergantung besaran penghasilan yang dilaporkan peserta, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan yang naik turun khas pekerjaan lepas. Hingga akhir 2024, program ini sudah menjangkau sekitar 9,9 juta peserta BPU di seluruh Indonesia, menunjukkan semakin banyak pekerja mandiri yang mulai sadar pentingnya perlindungan semacam ini.
Selain BPJS Ketenagakerjaan, freelancer juga bisa memanfaatkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan atau DPLK sebagai instrumen tambahan di luar program wajib pemerintah. DPLK ini bisa diakses individu secara mandiri tanpa perlu terikat pada satu perusahaan tertentu, cocok bagi pekerja lepas yang ingin menambah portofolio dana pensiunnya di luar skema BPJS.
Menariknya, tantangan yang dihadapi freelancer Indonesia soal dana pensiun ternyata dialami pekerja lepas di banyak negara. Dilansir dari Freelancers Union, tantangan utama freelancer soal pensiun berakar dari sifat penghasilan yang naik turun, sehingga dibutuhkan pendekatan terstruktur meski penghasilan tidak selalu stabil setiap bulannya. Salah satu strategi efektif yang disarankan adalah mengalokasikan persentase tetap dari penghasilan untuk ditabung setiap bulan, bukan angka nominal tetap yang justru sulit dipenuhi saat penghasilan sedang sepi.
Dilansir dari DCU, pendekatan yang lebih realistis bagi freelancer adalah menabung secara maksimal saat penghasilan sedang tinggi, sebagai bentuk persiapan menghadapi masa-masa sepi yang pasti akan datang. Menyisihkan dana darurat terpisah dari tabungan pensiun juga jadi kunci penting, sebab freelancer sangat rentan terhadap ketidakpastian arus kas dibanding pekerja bergaji tetap.
© Dream
Diversifikasi Sumber Penghasilan
Dilansir dari Freelancers Union, freelancer sebenarnya tetap bisa pensiun dengan nyaman lewat strategi diversifikasi sumber penghasilan, seperti side gig, sumber pendapatan pasif, atau pekerjaan paruh waktu tambahan, dikombinasikan dengan terus mengembangkan keterampilan profesional agar bisa mematok tarif yang lebih tinggi seiring waktu. Kuncinya adalah membuat rencana, konsisten menjalankannya, dan memanfaatkan kekuatan compound interest atau bunga majemuk dari investasi jangka panjang.
Hitung " Run Rate" Sebagai Jaring Pengaman
Dilansir dari Success, salah satu langkah praktis yang direkomendasikan pakar keuangan adalah menghitung " run rate" , yaitu penghasilan minimal bulanan yang dibutuhkan seandainya kehilangan satu klien atau sumber penghasilan utama. Mengetahui angka ini membantu freelancer menentukan seberapa besar dana darurat dan tabungan pensiun yang perlu disisihkan agar tetap aman menghadapi fluktuasi pekerjaan lepas yang memang sulit diprediksi.
Mulai Sekecil Apa Pun, Yang Penting Konsisten
Pada akhirnya, kunci utama merencanakan dana pensiun bagi pekerja freelance bukan soal menemukan satu produk investasi ajaib, melainkan konsistensi dalam menyisihkan dana meski penghasilan tidak menentu. Kombinasi antara memanfaatkan program pemerintah seperti BPJS Ketenagakerjaan BPU, menambah proteksi lewat DPLK, membangun dana darurat terpisah, serta terus mendiversifikasi sumber penghasilan, menjadi fondasi yang jauh lebih realistis dibanding menunggu penghasilan " stabil dulu" baru mulai menabung untuk hari tua, sebab bagi banyak freelancer, kestabilan penuh itu sendiri jarang benar-benar datang.
Advertisement