© Pexels.com/Andreas Ayrton
DREAM.CO.ID - Sepotong kue, donat, minuman manis, atau kopi dengan tambahan gula mungkin terlihat seperti bagian kecil dari pola makan sehari-hari. Namun, jika makanan dan minuman tinggi gula dikonsumsi terus-menerus, dampaknya tidak hanya berkaitan dengan berat badan atau kesehatan gigi. Hati juga dapat terkena dampaknya karena kelebihan gula dapat mendorong penumpukan lemak di organ tersebut.
Gula sebenarnya tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun, American Heart Association merekomendasikan batas konsumsi gula tambahan maksimal 36 gram atau sekitar 9 sendok teh per hari untuk pria dan 25 gram atau sekitar 6 sendok teh untuk perempuan.
Dilansir dari Health.com, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penumpukan lemak di hati. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit perlemakan hati yang menyebabkan peradangan dan kerusakan hati. Pada sebagian kasus, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan berkaitan dengan kanker hati atau gagal hati.
Bagaimana Gula Mempengaruhi Hati?
Hati memiliki sejumlah fungsi penting, termasuk memproses nutrisi, mengatur kadar gula darah, dan membantu membuang racun dari tubuh. Namun, ketika seseorang secara rutin mengonsumsi gula tambahan melebihi kebutuhan tubuh, sebagian kelebihan gula dapat diubah oleh hati menjadi lemak.
Salah satu jenis gula yang perlu diperhatikan adalah fruktosa. Tubuh memproses fruktosa secara berbeda dari glukosa. Jika glukosa dapat digunakan sebagai sumber energi oleh sel-sel tubuh, fruktosa terutama diproses di hati dan dapat diubah menjadi lemak.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, proses tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit perlemakan hati, termasuk metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD.
Konsumsi gula berlebihan juga mungkin memengaruhi hati melalui mekanisme lain. Sebuah penelitian pada 2025 menemukan bahwa gula sederhana dapat berkontribusi terhadap resistensi insulin, peradangan, stres oksidatif, serta perubahan bakteri di dalam usus. Kombinasi berbagai efek tersebut dapat memberikan tekanan tambahan pada hati.
Salah satu sumber utama gula tambahan dalam pola makan adalah minuman berpemanis. Soda, minuman energi, minuman olahraga, teh manis, hingga kopi dengan tambahan gula termasuk di dalamnya.
Penelitian mengaitkan konsumsi minuman berpemanis secara rutin dengan risiko penyakit perlemakan hati yang lebih tinggi. Dalam studi pada 2022, orang dewasa yang mengonsumsi lebih banyak minuman manis lebih mungkin memiliki kelebihan lemak di hati serta tanda-tanda fibrosis atau terbentuknya jaringan parut pada hati.
Masalahnya, gula tambahan tidak selalu berasal dari makanan yang terasa seperti makanan penutup. Selain soda, kue, dan permen, gula tambahan juga dapat ditemukan dalam yoghurt manis, sereal sarapan, granola bar, smoothie kemasan, minuman kopi manis, minuman energi, serta saus dan bumbu tertentu.
Karena itu, memeriksa bagian “ added sugars” atau gula tambahan pada label informasi gizi dapat membantu mengetahui seberapa banyak gula yang terdapat dalam suatu produk.
Mengurangi gula tambahan merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan hati. Pilihan lain yang direkomendasikan adalah lebih sering memilih air putih atau minuman tanpa gula, memperbanyak buah, sayuran, dan biji-bijian utuh, serta memilih makanan dengan indeks glikemik rendah.
Pola makan juga dapat diperbaiki dengan mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, menjaga berat badan yang sehat sesuai kondisi masing-masing, serta membatasi konsumsi alkohol, terutama bagi orang yang sudah mengalami penyakit perlemakan hati.
Dengan demikian, perhatian terhadap gula tidak hanya berkaitan dengan jumlah sendok gula yang ditambahkan ke minuman. Berbagai makanan dan minuman kemasan yang dikonsumsi setiap hari juga perlu diperiksa karena gula tambahan dapat muncul dalam bentuk yang tidak selalu terlihat jelas.
Advertisement

Mengapa Ada Banyak Jenis Colokan Listrik di Dunia? Ini Alasan di Baliknya

Dari Air Hingga Udara, Ini Hal Kecil Yang Bikin Rumah Terasa Lebih Nyaman

7 Tanda Anda Punya Bos Toxic yang Bisa Mengganggu Karier dan Kesehatan Mental

KDM Soal Duet dengan Gibran: Besok Punya Pacar atau Tidak Saja Belum Kepikiran

Sering Makan Manis Setiap Hari? Ini yang Terjadi pada Hati Tanpa Disadari

Badan Geologi Ungkap Hasil Analisis Pulau Baru di Dekat Gunung Anak Krakatau: Jangan Dekati

Dua Badak Paling Langka di Dunia Masih Bertahan di Indonesia