Bukan 17 Agustus, Ini Kota yang Sudah Proklamasikan Kemerdekaan 2 Hari Sebelumnya

Reporter : Abidah
Jumat, 7 Agustus 2026 17:46
Bukan 17 Agustus, Ini Kota yang Sudah Proklamasikan Kemerdekaan 2 Hari Sebelumnya
Kemerdekaan Indonesia sudah diproklamasikan pada 15 Agustus 1945 di Cirebon. Walau begitu, mengapa peristiwa ini tidak menjadi titik balik kemerdekaan Indonesia?

DREAM.CO.ID - Dua hari sebelum Soekarno-Hatta membacakan proklamasi di Pegangsaan Timur, sekelompok pemuda sudah lebih dulu menyatakan Indonesia merdeka di Cirebon. Peristiwa itu terjadi pada 15 Agustus 1945, di perempatan Alun-alun Kejaksan, dan hingga kini nyaris tak masuk buku sejarah sekolah.

Dokter Soedarsono yang membacakan naskah proklamasi itu. Ia bagian dari kelompok gerakan bawah tanah Sutan Sjahrir, yang sejak pendudukan Jepang memilih jalur berbeda dari Soekarno. Sjahrir menolak berkolaborasi dengan Jepang; Soekarno dan Hatta memilih tampil di permukaan dan duduk di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, badan bentukan Jepang. Setelah siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945 mengabarkan kekalahan Jepang atas Sekutu, Sjahrir bergerak cepat menyiarkan kemerdekaan.

Menyadari adanya vacuum of power (kekosongan kekuasaan), Sjahrir langsung menemui Soekarno dan Mohammad Hatta. Ia mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan detik itu juga. Namun, Soekarno dan Hatta menolak keras. Mereka berpendapat bahwa kemerdekaan harus dipersiapkan secara matang dan dirundingkan terlebih dahulu melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Dilansir dari buku Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya karya Rosihan Anwar, Sjahrir ternyata tidak pasrah pada penolakan Soekarno. Ia telah menyiapkan banyak rencana alternatif dan memiliki jejaring anggota yang bergerak secara bawah tanah (underground). Jauh-jauh hari, Sjahrir telah mempersiapkan orang-orang kepercayaannya di berbagai daerah untuk mengantisipasi kebuntuan politik di Jakarta, termasuk menyusun teks proklamasinya sendiri.

1 dari 2 halaman

Mengapa Cirebon Lebih Cepat Merdeka?

Mengapa Cirebon Lebih Cepat Merdeka? © Proklamasi Republik Indonesia by Frans Mendur (also Frans Mendoer) (1913 1971), Public domain, via Wikimedia Commons

Alasan utama mengapa proklamasi terjadi lebih cepat di Cirebon adalah kombinasi antara instruksi awal Sjahrir, letak geografis, dan membaranya semangat revolusi di tingkat akar rumput.

Sukarno sempat berjanji mengumumkan proklamasi pada 15 Agustus pukul 17.00 WIB, dan Sjahrir langsung menginstruksikan para pemuda mempercepat persiapan demonstrasi. Ribuan pemuda berkumpul di pinggir Jakarta, siap merangsek masuk kota begitu proklamasi dikumandangkan. Tapi kabar yang datang bukan proklamasi, melainkan penundaan dan itu membuat pemuda di Jakarta marah, meski Sjahrir menahan mereka agar tidak bergerak tanpa Soekarno-Hatta.

Ketika perdebatan di Jakarta menemui jalan buntu, jaringan pemuda di daerah telanjur bergerak. Salah satu tokoh sentralnya adalah dr. Sudarsono, seorang Kepala Rumah Sakit Kesambi di Cirebon (kini RSD Gunung Jati). Mendapat mandat tidak langsung dari Sjahrir, dr. Sudarsono dan para pemuda Cirebon enggan menunggu persetujuan elite di Jakarta. Cirebon juga dianggap sebagai lokasi yang ideal karena letaknya cukup jauh dari pusat kekuasaan dan pengawasan ketat polisi militer Jepang di ibu kota.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, di bawah bayang-bayang ancaman militer Jepang, dr. Sudarsono memimpin sebuah langkah nekat. Di Alun-Alun Kejaksan, Cirebon, dengan disaksikan oleh sekitar 150 orang pemuda dan tokoh pergerakan lokal, ia membacakan naskah proklamasi kemerdekaan. Sorak sorai kemerdekaan pecah hari itu, mendahului peristiwa monumental di Rengasdengklok maupun Pegangsaan Timur.

 

2 dari 2 halaman

Alasan Tidak Diakui Sebagai Proklamasi Resmi

Alasan Tidak Diakui Sebagai Proklamasi Resmi © Proklamasi Republik Indonesia by Frans Mendur (also Frans Mendoer) (1913 1971), Public domain, via Wikimedia Commons

Meskipun menjadi catatan sejarah yang heroik, proklamasi di Cirebon tidak diakui secara resmi karena beberapa alasan ketatanegaraan dan historis. Dr. Sudarsono adalah pahlawan lokal yang dihormati, tetapi ia tidak memiliki figur pemersatu berskala nasional seperti Soekarno-Hatta untuk menyatukan Nusantara dan meraih pengakuan dunia.

Selain itu, proklamasi Cirebon hanya berupa deklarasi yang tidak diikuti oleh pembentukan sistem dan dasar negara, berbeda dengan proklamasi 17 Agustus yang keesokan harinya langsung mengesahkan UUD 1945. Terjadi pula miskomunikasi fatal di mana Sjahrir, yang akhirnya sadar bahwa proklamasi tanpa Soekarno berisiko memicu perang berdarah dengan tentara Jepang, terlambat mengirimkan pesan pembatalan kepada para pemuda Cirebon yang sudah telanjur turun ke jalan.

Hal lain yang menjadi catatan adalah bahwa naskah asli proklamasi Cirebon rumusan Sjahrir yang berisi sekitar 300 kata itu hilang tanpa jejak. Ketiadaan bukti fisik yang otentik inilah yang membuat negara sangat kesulitan untuk melegitimasinya sebagai dokumen sejarah resmi. Menurut sejarawan Rudolf Mrazek, bunyi proklamasi itu cukup netral, tanpa nada anti-Jepang maupun anti-Belanda. Naskah itu hilang. Sjahrir mengakui sendiri kehilangannya, dan tidak ada salinan lain yang bertahan.

Sejarawan Amerika George Kahin dari Cornell University menilai langkah Cirebon terlalu dini. Dalam bukunya Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, ia menyebut proklamasi itu muncul sebelum kondisi politik matang untuk mendapat sambutan luas, sehingga gaungnya tenggelam dibanding yang dibacakan Soekarno dua hari kemudian.

Walau tidak menjadi proklamasi yang resmi, warga Cirebon tetap merawat ingatan itu. Sebuah tugu putih berbentuk obelisk berdiri di perempatan Jalan Siliwangi sejak 17 Agustus 1946, setahun setelah kemerdekaan disahkan.

Beri Komentar