© MEN
DREAM.CO.ID - Ada satu kota di dunia yang secara harfiah berdiri di atas dua benua sekaligus. Selat Bosphorus membelahnya menjadi dua sisi, Eropa dan Asia, dihubungkan oleh jembatan-jembatan megah yang memungkinkan seseorang sarapan di benua yang satu dan makan malam di benua lainnya, hanya dengan menyeberangi selat sempit itu. Kota itu Istanbul, satu-satunya metropolis di dunia yang menyandang status lintas benua semacam ini.
Tapi keunikan geografis bukan satu-satunya hal yang membuat Istanbul istimewa. Kota ini juga menyimpan salah satu perjalanan penamaan paling panjang dan berlapis dalam sejarah peradaban manusia, dengan setiap nama menjadi cermin dari pergeseran kekuasaan, agama, dan budaya yang melintasinya selama hampir tiga ribu tahun.
Byzantion, Awal dari Segalanya
Dilansir dari Britannica, kisah kota ini dimulai sekitar tahun 657 sebelum masehi, ketika Byzas, pemimpin bangsa Yunani dari kota Megara, menurut legenda merebut semenanjung itu dari suku-suku pastoral Thracia dan mendirikan permukiman di sana. Dari namanya sendiri, kota itu kemudian dikenal sebagai Byzantion, yang kelak dilatinkan menjadi Byzantium.
Sebelum nama Byzantion pun, kota ini sempat disebut Bazantion oleh bangsa Yunani pendirinya pada 657 SM. Lokasinya yang strategis, mengapit jalur perdagangan penting antara Laut Hitam dan Laut Aegea, membuat kota kecil ini tumbuh menjadi pelabuhan strategis yang terus diperebutkan berbagai kekuatan selama berabad-abad.
Britannica mencatat, pada tahun 196 masehi, Kaisar Romawi Septimius Severus meratakan kota ini karena menentangnya dalam perang saudara, lalu membangunnya kembali dan menamainya Augusta Antonina, untuk menghormati putranya.
Titik balik besar terjadi pada tahun 330 masehi. Saat Konstantin Agung meresmikan kota ini sebagai ibu kota barunya, ia awalnya menyebutnya New Rome, meski koin-koin yang dicetak tetap berlabel Byzantium hingga akhirnya ia memerintahkan penggantian nama resmi menjadi Constantinopolis, atau Konstantinopel, kota Konstantin.
Di bawah nama ini, kota tersebut menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, atau yang kemudian dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium, selama lebih dari seribu tahun. Era ini melahirkan periode kejayaan budaya dan komersial di kawasan Mediterania, terutama pada abad kesembilan dan kesepuluh, sebelum akhirnya Konstantin XI, kaisar terakhir Bizantium, gugur mempertahankan kota ini pada masa-masa akhir kekaisaran.
© Dream
Tanggal 29 Mei 1453 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah dunia. Dilansir dari Introducing Istanbul, setelah bertahun-tahun konflik dengan bangsa Turki yang sudah menaklukkan sebagian besar wilayah Bizantium lainnya, Konstantinopel akhirnya jatuh ke tangan Mehmed sang Penakluk. Hagia Sophia, yang sebelumnya adalah gereja, diubah menjadi masjid, menandai berakhirnya era Abad Pertengahan dan awal transformasi kota dari kota kekaisaran Bizantium menjadi kota Ottoman, dari Kristen Ortodoks menuju agama Islam.
Yang menarik, dilansir dari Live Science, penaklukan ini tidak serta-merta mengganti nama kota secara resmi. Christoph Herzog, ketua kajian Turki di University of Bamberg, Jerman, menjelaskan bahwa Ottoman justru tetap menyebut kota ini " Kostantiniyye" dalam ribuan dokumen resmi mereka selama berabad-abad setelah penaklukan, sebuah fakta yang sering luput dari catatan sejarah populer.
Nama Istanbul sendiri punya asal-usul yang justru lebih tua dari penaklukan Ottoman itu sendiri, dan berasal dari bahasa Yunani, bukan bahasa Turki seperti yang sering dikira orang. Pada akhir milenium pertama, penutur bahasa Yunani dilaporkan menyebut perjalanan ke kota itu dengan istilah " eis tēn polin" , yang berarti " ke dalam Kota" , alih-alih menyebut " ke Konstantinopel" . Pada abad ketiga belas, frasa Yunani ini telah berubah menjadi sebutan bagi kota itu sendiri: Istinpolin. Lewat serangkaian perubahan pengucapan selama berabad-abad, nama ini akhirnya berevolusi menjadi Istanbul.
Meski akar namanya sudah ada sejak lama, status resmi nama Istanbul justru baru ditetapkan jauh belakangan. Nama Istanbul dalam bentuk resminya baru benar-benar berlaku pada 28 Maret 1930, tujuh tahun setelah Republik Turki diproklamasikan pada 29 Oktober 1923, ketika ibu kota negara baru itu dipindahkan ke Ankara, meninggalkan Istanbul sebagai kota terbesar Turki namun bukan lagi pusat pemerintahan.
Yang membuat Istanbul unik dibanding kota-kota lain yang pernah berganti nama, deretan nama kota ini tidak mewakili sekadar penggantian satu sama lain, melainkan akumulasi. Berbeda dari kota-kota yang nama lamanya dipaksa dilupakan, identitas masa lalu Istanbul tetap bertahan dalam ingatan, sastra, dan penggunaan paralel hingga kini. Byzantion, Konstantinopel, dan Istanbul hidup berdampingan sebagai lapisan-lapisan identitas yang membentuk satu keseluruhan yang kompleks, bukan sejarah yang saling menghapus.
Advertisement

Mengapa Ada Banyak Jenis Colokan Listrik di Dunia? Ini Alasan di Baliknya

Dari Air Hingga Udara, Ini Hal Kecil Yang Bikin Rumah Terasa Lebih Nyaman

7 Tanda Anda Punya Bos Toxic yang Bisa Mengganggu Karier dan Kesehatan Mental

KDM Soal Duet dengan Gibran: Besok Punya Pacar atau Tidak Saja Belum Kepikiran

El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya

Semesta 5cm Kembali Berlanjut: Prekuel 5cm: Revolusi Hati Siap Eksplorasi Keindahan Laut Indonesia

Survei Poltracking: Gerindra Unggul Jika Pemilu Hari Ini, PDIP Konsisten Turun