Bukit Peramun Belitung, Tempat Pohon Bisa 'Bicara'

Reporter : Eko
Senin, 21 September 2026 13:00
Bukit Peramun Belitung, Tempat Pohon Bisa 'Bicara'
Bukit Peramun tak sekadar menyimpan kekayaan hayati, tetapi menggunakan teknologi digital untuk membuat hutan “berbicara” dan pengetahuan tentangnya tetap hidup.

DREAM.CO.ID - Belitung bukan sekadar Pantai Tanjung Tinggi. Tidak hanya soal pasir putih dan bebatuan granit raksasa yang kokoh menjulang tinggi. Di balik bentang pantai elok itu, tersembunyi hutan yang tak kalah menakjubkan.

Jika singgah di pantai Laskar Pelangi itu, berkendaralah ke selatan. Tak sampai sepuluh kilometer, maka kita akan sampai ke Bukit Peramun. Inilah laboratorium alam menghampar 115 hektare, pada ketinggian 129 meter di atas permukaan laut.

Bukit Peramun. Nama itu berasal dari kata “ peramuan”. Hutan di bukit itu memang menjadi tempat tumbuh beragam flora. Banyak tanaman yang dahulu dipakai sebagai ramuan obat-obatan. Hutan ini juga menjadi rumah berbagai binatang endemik. Semua masih alami.

Di bukit itu, pengunjung disuguhi panorama eksotis. Jalur trekking membelah hutan, melewati tanaman herbal dan tumbuhan endemik Belitung. Bagi penikmat senja, bukit ini adalah surganya. Saban petang, pucuk bukit itu selalu menjadi saksi matahari ditelan cakrawala, di balik hamparan laut dan pulau-pulau kecil.

Bukit Peramun Belitung (Instagram @bukitperamunofficial)

Jika sampai hari ini hutan itu masih hidup, itu bukan kebetulan. Di balik pohon yang rimbun dan hewan-hewan yang menghuninya, ada upaya masyarakat yang berusaha terus mempertahankannya.

Bukit di Kecamatan Sijuk, Belitung, itu telah dikelola Kelompok Hutan Masyarakat Arsel sejak 2006. Hutan itu tetap lestari karena masyarakat menganggap bahwa mereka “ bukan menerima warisan bumi dari nenek moyang, melainkan meminjamnya dari anak cucu masa depan”.

Upaya pelestarian itu berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komunitas. BCA kemudian datang dan menjadikan Bukit Peramun sebagai salah satu Desa Bakti BCA sejak 2018. Sejak itu, pengetahuan baru masuk, komunitas diperkuat, teknologi diterapkan, pasar juga diperluas.

Bukit Peramun Belitung (Instagram @bukitperamunofficial)

Hasilnya, jumlah orang yang datang bertambah, cara masyarakat mengenalkan hutan mereka juga berubah. Hutan di Bukit Peramun itu kian digital. Pada 2023, Bukit Peramun bahkan dinobatkan oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai hutan digital pertama berbasis masyarakat di Indonesia.

Empat tahun sebelum itu, kawasan ini juga telah memperoleh penghargaan lain: Green Gold Indonesia Sustainable Tourism Award pada 2019.

Kawasan ini juga mulai mendapat perhatian. Setidaknya itu yang terlihat dari data kunjungan wisatawan. Pada 2023, pelancong mancanegara tercatat 387 orang. Pada 2025 jumlah itu menjadi 485 orang. Sementara, pengunjung domestik tercatat meningkat dari 1.356 pada 2024 menjadi 1.648 orang pada 2025.

Pada akhir Mei 2026, pelaku industri pariwisata dari Singapura dan Malaysia diajak ke Bukit Peramun melalui familiarization trip yang digelar bersama Asosiasi Travel Agent Indonesia. Mereka diajak menyusuri hutan konservasi, mengenal tanaman, mengikuti adopsi pohon, menikmati kuliner lokal, hingga mengamati tarsius.

Bukit Peramun Belitung (Instagram @bukitperamunofficial)

Ketika Pohon 'Bicara'

Digitalisasi Bukit Peramun bukan untuk gaya-gayaan. Inovasi digital dipasang tidak untuk terlihat modern di mata wisatawan. Teknologi disematkan untuk menunjang konservasi.

Kendala menjadi solusi, begitulah kira-kira awal cerita teknologi digital hadir di hutan ini. Semula, para pemandu kerap sulit menjelaskan jenis pepohonan yang ada di Bukit Peramun. Maklum, hutan ini menjadi rumah bagi 147 jenis flora, 30 persen di antaranya bisa dimanfaatkan sebagai obat. Hutan ini juga jadi tempat hidup berbagai satwa, termasuk mentilin atau tarsius Belitung, rusa sambar, kijang, serta 24 jenis burung.

Para pemandu sering kali kesulitan menjelaskan semua penghuni hutan itu ke pengunjung. Sekali dua kali mungkin bisa, namun jika harus dilakukan berkali-kali tentu akan memakan waktu dan energi. Maka hadirlah inovasi Virtual Assistant dan Kenali Pohon atau KePo.

Semula, teknologi itu menggunakan barcode yang ditempel di pohon. Para turis tinggal memindai dan membaca informasi yang muncul di layar ponsel. Jenis dan manfaat tanaman yang dipindai tertulis lengkap, tersaji dalam bahasa Indonesia dan Inggris

Bukit Peramun Belitung (Instagram @bukitperamunofficial)

Namun, cara itu rupanya dinilai kurang efektif. Banyak wisatawan enggan membaca. Maklum saja, saat trekking, pasti banyak orang tak punya waktu untuk membaca. Orang lebih suka menikmati pemandangan.

Karena itulah teknologi diperbarui. Saat ini, saat barcode dipindai, yang muncul bukan lagi sekadar tulisan panjang. Di layar ponsel pengunjung akan muncul tampilan visual dan audio. Jadi, yang semula wisatawan harus membaca, kini tinggal mendengarkan informasi saja. Di dunia virtual itu, pohon-pohon di Bukit Peramun bisa “ bicara” sendiri, bercerita tentang diri mereka.

Hutan itu kian interaktif, lebih mudah untuk dipahami. Ini penting karena cerita Bukit Peramun lebih panjang dari jalur pendakian. Pengetahuan yang tersimpan dari bukit ini juga lebih luas dari hamparan pepohonannya. Hutan ini menjadi perpustakaan hidup.

Pohon, tanaman obat, batu, satwa, dan pengetahuan masyarakat, telah menjadi bagian dari pengalaman wisata. Hutan di Bukit Peramun menawarkan pengalaman mengenal ekosistem yang selama ini menjadi bagian kehidupan masyarakat sekitarnya.

Beri Komentar