Jatuhnya Fat Man di Nagasaki yang Membalik Sejarah pada 9 Agustus 1945

Reporter : Abidah
Minggu, 9 Agustus 2026 16:21
Jatuhnya Fat Man di Nagasaki yang Membalik Sejarah pada 9 Agustus 1945
Bom Atom bernama Fat Man yang dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945 menjadi salah satu peristiwa yang mengakhiri Perang Dunia II dan membuka peluang Indonesia merdeka.

Pagi itu, Nagasaki sebenarnya bukan target utama. Sejarah kota pelabuhan ini nyaris tidak tercatat sebagai lokasi peristiwa yang akan mengubah arah Perang Dunia II, jika saja cuaca di atas kota lain tidak berkabut tebal pada 9 Agustus 1945.

Dilansir dari The National WWII Museum, Komite Target yang ditunjuk Presiden Harry Truman untuk memutuskan kota Jepang mana yang akan menerima bom atom Little Boy dan Fat Man sebenarnya tidak menempatkan Nagasaki di antara dua pilihan teratas mereka. Mereka justru memilih Kokura sebagai target kedua setelah Hiroshima. Kokura, kota berpenduduk 130 ribu jiwa di Pulau Kyushu, saat itu jadi lokasi salah satu pabrik amunisi terbesar Jepang, memproduksi berbagai persenjataan termasuk senjata kimia.

Nagasaki sendiri hanya jadi pilihan ketiga. Kota pelabuhan ini berjarak sekitar 160 kilometer dari Kokura, dengan populasi sekitar 263 ribu jiwa dan sejumlah fasilitas militer penting, termasuk dua pabrik militer milik Mitsubishi. Seperti Kokura dan Hiroshima, Nagasaki belum banyak tersentuh pengeboman konvensional Amerika Serikat sebelumnya.

Dilansir dari WWII Truman Library Institute, pada pagi hari 9 Agustus 1945, enam pesawat pengebom B-29 lepas landas dari pangkalan udara di Pulau Tinian, Pasifik. Bockscar, dikemudikan Mayor Charles W. Sweeney, membawa " Fat Man" , bom plutonium sejenis yang sebelumnya diuji coba di Alamogordo dan berkekuatan lebih besar dibanding bom uranium yang dijatuhkan di Hiroshima. Target awal mereka adalah Kokura, rumah bagi salah satu gudang amunisi besar Jepang. Namun cuaca buruk akibat topan besar mengubur kota itu dalam kabut tebal, dan nasib berpindah ke kota lain yang sama sekali tidak menyangka.
Truman Library Institute

1 dari 3 halaman

Nagasaki, Kota yang Belum Sempat Rusak Parah

Dilansir dari The National WWII Museum, Bockscar akhirnya bergerak menuju target cadangannya, kota pelabuhan Nagasaki, tiba di atas kota sekitar pukul 11.00 dan menjatuhkan bom. Ledakan itu menewaskan sekitar 60 ribu warga Jepang. Di Nagasaki, segala sesuatu dalam radius satu mil dari titik nol hancur total oleh panas luar biasa, memicu kebakaran meluas. Orang-orang yang berada dekat ledakan langsung menguap, sementara yang lain mengalami luka parah.

Amerika Serikat menjatuhkan bom atom kedua, " Fat Man" , di atas Kota Nagasaki pada pagi hari 9 Agustus. Sekitar 35 hingga 40 ribu orang lagi tewas dalam peristiwa ini. Angka korban jiwa memang bervariasi antar sumber, bergantung periode penghitungan, sebab banyak korban meninggal berbulan-bulan setelahnya akibat luka bakar dan penyakit radiasi.

 

2 dari 3 halaman

Perangkat yang Jauh Lebih Rumit dari Little Boy

Perangkat yang Jauh Lebih Rumit dari Little Boy © Dream

Dilansir dari Britannica, Fat Man adalah bom atom jenis implosi berbahan plutonium yang dijatuhkan di Nagasaki, Jepang, pada 9 Agustus 1945, penggunaan kedua sekaligus terakhir senjata nuklir dalam sejarah peperangan. Fat Man memiliki inti bola berbahan plutonium-239 yang dikelilingi bahan peledak berdaya tinggi, dengan gaya ledakan yang mendorong ke arah dalam, bukan keluar, saat detonasi terjadi. Gelombang kejut dari ledakan itu memampatkan inti plutonium hingga mencapai kondisi superkritis, mengubah ukurannya dari sebesar bola softball menjadi seukuran bola tenis.

Bom Fat Man dijatuhkan di atas Nagasaki, Jepang, pada 9 Agustus 1945, menjelang akhir Perang Dunia II. Dilepaskan dari pesawat B-29 Bockscar, senjata seberat 10.000 pon ini meledak pada ketinggian sekitar 1.800 kaki di atas kota. Kompleksitas perangkat ini jauh melampaui Little Boy yang dijatuhkan di Hiroshima tiga hari sebelumnya, yang menggunakan uranium-235 dengan mekanisme peledakan yang relatif konvensional.

Ada fakta dramatis yang sering luput dari catatan populer soal perjalanan bom ini menuju Tinian. Dilansir dari National Museum of the U.S. Navy, bom Fat Man diuji coba pada Juli 1945. Sebelumnya, pada 26 Juli, bom ini bersama Little Boy diangkut ke Pulau Tinian menggunakan kapal USS Indianapolis untuk perakitan akhir. Empat hari kemudian, kapal selam Jepang I-58 menenggelamkan Indianapolis di timur laut Leyte. Kapal yang sama yang mengantar komponen bom paling mematikan dalam sejarah itu justru tenggelam dalam salah satu tragedi maritim terbesar Angkatan Laut Amerika Serikat, hanya beberapa hari setelah misinya rampung.

3 dari 3 halaman

Dua Bom dan Akhir dari Sebuah Perang

Jatuhnya Fat Man tidak berdiri sendiri sebagai faktor penentu berakhirnya perang. Dilansir dari National Archives Museum, pasukan Soviet turut menginvasi Manchuria yang diduduki Jepang di Tiongkok pada hari yang sama, semakin melumpuhkan kekuatan militer Jepang. Kombinasi tiga tekanan sekaligus, dua bom atom dan invasi Soviet dalam rentang waktu kurang dari seminggu, akhirnya memaksa Jepang mengambil keputusan yang sudah lama dihindari.

Pada 15 Agustus, Kaisar Jepang mengeluarkan Maklumat Kekaisaran yang menyatakan penerimaannya atas ketentuan Deklarasi Potsdam. Perang Dunia II resmi berakhir ketika Jepang menyerah secara formal pada 2 September 1945.

Bagi Indonesia, jatuhnya bom Fat Man di Nagasaki mempercepat momentum kemerdekaan yang sudah lama diperjuangkan. Hanya berselang beberapa hari setelah pengeboman, Jepang menyatakan tunduk pada Sekutu dan memberlakukan status quo, melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI untuk mempersiapkan proklamasi. Namun larangan ini justru menjadi titik balik: Soekarno-Hatta menyimpulkan tidak ada gunanya lagi berunding dengan Jepang soal kemerdekaan Indonesia, dan mereka hanya berharap pihak Jepang tidak menghalangi pelaksanaan proklamasi oleh rakyat Indonesia sendiri.

Kekalahan telak Jepang di Hiroshima dan Nagasaki menciptakan apa yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai vacuum of power, kekosongan kekuasaan yang terjadi setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14-15 Agustus 1945. Dua hari sebelum Jepang benar-benar menyerah, tiga tokoh nasional sempat dibawa menemui pimpinan tentara Jepang di Saigon dan Dalat, tepat saat kabar pengeboman Hiroshima dan Nagasaki membuat Jepang mempersiapkan diri untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, sebuah situasi yang diprediksi akan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia.

Pada momen kritis inilah golongan muda dan golongan tua di kalangan pergerakan nasional bergerak cepat memanfaatkan celah tersebut. Karena pemerintah kolonial lama telah runtuh dan kekuasaan baru belum sempat terorganisir, para tokoh nasional segera memanfaatkan kekosongan itu untuk memproklamasikan kemerdekaan.

Beri Komentar