Kebiasaan Minum Manis Sejak Kecil Terbukti Berkaitan dengan Tekanan Darah Tinggi saat Dewasa

Reporter : Abidah
Minggu, 9 Agustus 2026 10:00
Kebiasaan Minum Manis Sejak Kecil Terbukti Berkaitan dengan Tekanan Darah Tinggi saat Dewasa
Angka tekanan darah yang muncul pada usia dewasa kita ternyata bisa dipengaruhi oleh segelas minuman manis yang kita konsumsi ketika kecil.

DREAM.CO.ID - Kebiasaan kecil yang terlihat sepele, segelas minuman manis yang dihabiskan anak-anak setiap hari, ternyata bisa meninggalkan jejak hingga puluhan tahun kemudian. Sebuah studi jangka panjang yang mengikuti lebih dari 25.000 orang sejak usia sekitar 12 tahun hingga pertengahan 30-an menemukan pola konsumsi masa kecil ini muncul kembali dalam bentuk angka tekanan darah di usia dewasa.

Dilansir dari Medical Daily, partisipan yang minum dua atau lebih minuman manis berukuran 12 ons setiap hari punya risiko 52 persen lebih tinggi mengalami hipertensi saat dewasa, dibanding mereka yang hanya minum kurang dari tiga kali seminggu. Temuan ini dipublikasikan American Heart Association dalam jurnal Circulation.

Yang mengejutkan banyak orang tua justru soal jus buah. Jus buah, meski sering dianggap pilihan sehat dibanding soda, ternyata membawa asosiasi risiko yang mirip dengan minuman manis lainnya. Sebaliknya, buah utuh tidak menunjukkan keterkaitan serupa sama sekali.

Penting digarisbawahi sejak awal: penelitian ini bersifat kohort observasional prospektif. Artinya, ia bisa menunjukkan bahwa pola minum tertentu berjalan seiring dengan pola diagnosis di kemudian hari, tapi tidak bisa memastikan bahwa minuman manis itu sendiri yang menyebabkan hipertensi. Menyebut soda masa kecil sebagai sesuatu yang " memprogram" risiko kardiovaskular melangkah lebih jauh dari yang bisa dibuktikan desain penelitian ini.

Penulis senior studi, Vasanti Malik, ScD, associate professor sekaligus Canada Research Chair bidang nutrisi dan pencegahan penyakit kronis di University of Toronto yang juga menjadi staf pengajar tambahan di Harvard T.H. Chan School of Public Health, menekankan bahwa kebiasaan makan di masa awal kehidupan bisa membawa konsekuensi kesehatan yang bertahan lama.

1 dari 3 halaman

Mengganti Satu Gelas Saja Sudah Berarti

Bagian yang paling praktis dari penelitian ini justru bukan angka risikonya, melainkan hasil analisis substitusinya. Mengganti satu porsi minuman manis harian dengan buah utuh, susu, atau air putih dikaitkan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah. Mengganti jus buah dengan buah utuh menunjukkan arah yang sama.

Amit Khera, MD, pakar sukarelawan American Heart Association dan wakil ketua komite penyusun panduan diet asosiasi tersebut, mencatat bahwa jumlah total fruktosa tampaknya kurang berpengaruh dibanding bentuk makanan tempat fruktosa itu berada. Minuman manis dan jus buah dikaitkan dengan peningkatan risiko, sementara buah utuh tidak, sejalan dengan pola yang sudah pernah diamati pada orang dewasa.

Perbedaan antara buah utuh dan jus inilah yang paling sering disalahpahami orang tua, dan ada dasar fisiologis yang masuk akal di baliknya.

Buah utuh menghantarkan fruktosa bersama serat, air, dan struktur sel buah itu sendiri, yang memperlambat penyerapannya di tubuh. Jus, sebaliknya, menghantarkan beban gula serupa tanpa struktur tersebut, biasanya dalam dosis yang lebih besar dan lebih cepat diserap. Kalori dalam bentuk cair juga tampaknya kurang memicu rasa kenyang dibanding makanan padat, sehingga anak cenderung tetap makan porsi biasa meski sudah minum kalori tambahan dari jus.

Beberapa peneliti mengajukan dugaan mekanisme yang melibatkan asam urat dan efeknya pada fungsi pembuluh darah, namun studi ini sama sekali tidak menguji mekanisme tersebut secara langsung. Penjelasan itu sebaiknya dianggap sebagai hipotesis, bukan temuan final.

 

2 dari 3 halaman

Batasan yang Perlu Dipahami

Batasan yang Perlu Dipahami © Dream

Studi kohort observasional semacam ini punya keterbatasan yang diakui sendiri oleh para peneliti. Mayoritas partisipan adalah orang kulit putih non-Hispanik, sehingga temuan ini belum tentu berlaku sama pada populasi lain. Malik mencatat bahwa populasi kulit hitam non-Hispanik dan Hispanik Amerika justru memiliki tingkat konsumsi minuman manis tertinggi, yang berarti temuan ini berpotensi lebih relevan bagi kelompok tersebut, meski penelitian ini tidak bisa membuktikannya secara langsung.

Data asupan makanan dikumpulkan lewat laporan mandiri peserta, yang berpotensi menimbulkan bias pencatatan ke dua arah. Keluarga yang lebih sering menyajikan soda mungkin juga berbeda dari segi pendapatan rumah tangga, akses pangan, tingkat aktivitas fisik, dan faktor lain yang turut memengaruhi tekanan darah, dan penyesuaian statistik hanya mengurangi, bukan menghilangkan, masalah ini sepenuhnya.

Studi ini juga hanya mencatat diagnosis hipertensi, bukan kejadian serangan jantung atau stroke. Tekanan darah tinggi memang faktor risiko kardiovaskular yang sudah mapan, tapi penelitian ini mengikuti faktor risikonya, bukan hasil akhirnya secara langsung.

3 dari 3 halaman

Apa Artinya bagi Keluarga di Rumah

Tidak ada dalam studi ini yang membenarkan kepanikan soal segelas minuman manis sesekali, misalnya di pesta ulang tahun. Pola yang berkaitan dengan risiko adalah konsumsi harian yang berlangsung bertahun-tahun, bukan konsumsi sesekali.

Pernyataan panduan diet American Heart Association 2026 merekomendasikan meminimalkan gula tambahan dalam makanan dan minuman, sebuah posisi yang sudah ada sebelum studi ini dan tetap berlaku setelahnya.

Perubahan yang paling berdampak bagi rumah tangga cenderung bersifat struktural, bukan sekadar larangan sesaat. Menjadikan air putih sebagai minuman utama di meja makan tidak memerlukan biaya apa pun dan menghilangkan keputusan harian yang berulang. Menyajikan buah utuh alih-alih jus tetap menjaga nutrisi yang biasanya memang jadi tujuan orang tua. Menjauhkan minuman manis dari daftar belanja rutin jauh lebih efektif dibanding bernegosiasi setiap kali anak memintanya.

Orang tua sebaiknya tidak memberi label " makanan terlarang" pada jenis makanan tertentu, karena pendekatan seperti itu justru berkaitan dengan masalahnya sendiri dalam perilaku makan anak. Fokus yang lebih tepat adalah apa yang diminum anak pada hari-hari biasa, bukan kepatuhan yang sempurna tanpa pengecualian.

Pemeriksaan tekanan darah pada anak juga layak diperhatikan. Panduan pediatrik merekomendasikan pengukuran tekanan darah pada kunjungan kesehatan rutin tahunan mulai usia 3 tahun, dan orang tua bisa menanyakan langsung apakah pengukuran itu sudah dilakukan serta berapa hasilnya. Hipertensi kini muncul pada usia yang lebih muda dari sebelumnya, sebuah alasan yang menurut Malik membuat deteksi dini semakin penting.

Siapa pun yang khawatir soal tekanan darah, berat badan, atau pola makan anaknya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak, bukan langsung membuat perubahan pola makan besar-besaran secara mandiri, terutama untuk anak dengan kondisi medis tertentu.

Beri Komentar