Saat Orang Tua Stres, Anak Justru Semakin Lama Berada di Depan Layar

Reporter : Abidah
Sabtu, 8 Agustus 2026 18:00
Saat Orang Tua Stres, Anak Justru Semakin Lama Berada di Depan Layar
Penelitian menyebutkan bahwa ketika orang tua sedang anak, screen time anak akan menjadi lebih panjang dibanding biasanya.

DREAM.CO.ID - Salah satu permasalahan yang kerap dialami oleh anak pada masa kini adalah waktu penggunaan layar atau screen time yang terlalu lama. Kondisi ini bisa menjadi penyebab dari munculnya sejumlah dampak pada anak. Hasil penelitian terbaru menemukan bahwa intensitas anak menatap layar ini ternyata bisa sangat dipengaruhi dari kondisi mental orang tua.

Dilansir dari FIU News, sebuah studi baru dari Center for Children and Families, Florida International University, menemukan bahwa orang tua yang mengalami tingkat stres lebih tinggi cenderung lebih sering mengandalkan layar untuk menenangkan atau menyibukkan anak mereka, dan lebih jarang menegakkan batas waktu layar secara konsisten. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Family Relations.

Studi ini melibatkan 822 pengasuh di seluruh Amerika Serikat dengan anak usia 4 hingga 8 tahun, meneliti bagaimana berbagai jenis tekanan pengasuhan memengaruhi kebiasaan media keluarga. Orang tua yang mengalami distres emosional cenderung kurang konsisten menerapkan batas waktu layar, sementara orang tua yang merasa kewalahan menghadapi perilaku anaknya justru lebih sering menggunakan layar untuk mengelola momen-momen sulit.

Enid Moreira, penulis utama studi ini sekaligus mahasiswa doktoral psikologi FIU, mengatakan hal yang paling menonjol dari penelitian ini adalah pentingnya stres yang dialami pengasuh sendiri dalam menentukan keputusan seputar penggunaan media layar oleh anak-anak mereka. Menurutnya, temuan ini menunjukkan perlunya mendukung pengasuh sama seriusnya dengan mendukung anak.

1 dari 1 halaman

Bukan Soal Kuantitas, Tapi Kualitas

Alih-alih menyuruh orang tua sekadar mengurangi waktu layar, para peneliti menyarankan keluarga fokus memilih konten yang bermakna, menarik, dan sesuai usia anak. Moreira mengibaratkannya seperti cara kita memikirkan nutrisi: konten digital pun bisa dianggap lebih atau kurang sehat, tergantung isinya.

Rekomendasi ini sejalan dengan panduan American Academy of Pediatrics, yang mendorong keluarga untuk tidak hanya menghitung berapa menit anak menatap layar, melainkan mempertimbangkan kualitas kontennya, bagaimana media itu masuk ke rutinitas harian, dan apakah penggunaannya mendukung perkembangan anak secara sehat.

Para peneliti menegaskan bahwa menggunakan layar untuk melewati momen sulit bukanlah hal yang secara inheren berbahaya. Peluang yang lebih besar justru terletak pada membantu orang tua membuat momen tersebut lebih disengaja, dengan memilih konten berkualitas tinggi dan membangun kebiasaan media sehat yang sesuai dengan realita masing-masing keluarga.

Bagi orang tua yang merasa nyaris tidak sanggup mengimbangi tuntutan sehari-hari, jawabannya bukan aturan yang lebih ketat, melainkan dukungan yang lebih baik. Shayl Griffith, asisten profesor di Departemen Konseling, Rekreasi, dan Psikologi Sekolah FIU sekaligus penulis senior studi ini, menekankan bahwa pengasuh tidak perlu ragu meminta bantuan.

Menurut Griffith, ketika pengasuh memiliki sumber daya yang mereka butuhkan, mereka jadi lebih mampu menetapkan batasan yang konsisten dan berinteraksi dengan anak-anak mereka dengan cara yang mendukung perkembangan sehat.

Beri Komentar