© Pexels.com/Ron Lach
DREAM.CO.ID - Bangun tidur dengan bantal atau sarung bantal yang basah oleh air liur mungkin terasa sepele, tetapi jika terjadi hampir setiap malam, kondisi ini bisa mengganggu kenyamanan dan kualitas tidur. Air liur keluar saat tidur karena otot-otot di sekitar mulut mengendur sehingga air liur lebih mudah keluar. Namun, posisi tidur, hidung tersumbat, gangguan tidur, hingga kondisi medis tertentu juga dapat membuat kebiasaan ngiler semakin sering terjadi.
Dilansir dari Health, kebiasaan ngiler saat tidur umumnya dapat dikurangi dengan mencari dan menangani penyebabnya. Beberapa langkah sederhana juga bisa dicoba sebelum membutuhkan penanganan medis.
1. Ubah Posisi Tidur
Tidur telentang dapat membantu mencegah air liur keluar dari mulut. Sebaliknya, tidur menyamping atau tengkurap membuat air liur lebih mudah mengalir keluar melalui sisi mulut karena otot-otot tubuh mengalami relaksasi selama tidur.
Mengubah posisi tidur menjadi telentang karena itu dapat menjadi langkah pertama yang sederhana untuk dicoba, terutama jika kebiasaan ngiler terutama terjadi ketika tidur menyamping.
2. Bersihkan Saluran Hidung
Hidung tersumbat dapat membuat seseorang lebih banyak bernapas melalui mulut saat tidur, yang kemudian meningkatkan kemungkinan air liur keluar. Kondisi ini dapat disebabkan oleh alergi, infeksi sinus, atau infeksi virus dan biasanya memburuk ketika seseorang berbaring.
Untuk membantu menjaga saluran hidung tetap terbuka, cukup minum air agar lendir lebih encer, menggunakan nasal strip untuk membantu melebarkan lubang hidung, atau memakai humidifier untuk meningkatkan kelembapan udara.
3. Gunakan Bantal yang Tepat
Menopang tubuh dengan bantal secara tepat dapat membantu memperbaiki pernapasan dan mengurangi kemungkinan air liur keluar saat tidur. Posisi tersebut juga dapat membantu mengurangi refluks asam lambung pada orang yang mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD).
GERD sendiri dapat menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan hingga mulut. Iritasi jaringan mulut akibat kondisi ini dapat memicu produksi air liur berlebih. Gangguan menelan yang berkaitan dengan GERD juga dapat membuat seseorang lebih banyak mengeluarkan air liur.
4. Tangani Kondisi yang Mendasarinya
Jika ngiler disebabkan kondisi tertentu, mengatasi penyebabnya dapat membantu. Pada alergi, antihistamin dapat meredakan hidung tersumbat. Semprotan saline atau neti pot dapat membantu membersihkan sinus, sedangkan dekongestan dapat mengurangi sumbatan hidung.
Sleep apnea juga perlu diperhatikan. Gangguan ini menyebabkan seseorang berhenti bernapas sementara ketika tidur dan sering membuat penderitanya bernapas melalui mulut. Terapi CPAP dapat membantu menjaga jalan napas tetap terbuka. Pada sleep apnea berat, operasi terkadang diperlukan.
Dalam kondisi tertentu, suntikan botulinum toxin (Botox) pada kelenjar ludah dapat mengurangi produksi air liur. Terapi ini antara lain digunakan pada drooling yang berkaitan dengan cerebral palsy atau penyakit Parkinson.
5. Coba Terapi Wicara
Terapi wicara dapat membantu memperkuat otot di sekitar mulut dan mengatasi kesulitan menelan. Menurut Health, pendekatan ini terutama telah menunjukkan manfaat pada anak-anak dengan produksi air liur berlebihan.
6. Periksa Obat yang Dikonsumsi
Beberapa obat dapat menyebabkan hipersalivasi sebagai efek samping, termasuk obat antidopaminergik, benzodiazepin, serta obat yang memengaruhi sistem muskarinik. Jika kebiasaan ngiler muncul setelah menggunakan obat tertentu, jangan menghentikannya sendiri. Bicarakan dengan dokter karena dosis mungkin dapat disesuaikan atau obat diganti.
Ngiler sesekali saat tidur biasanya bukan alasan untuk khawatir. Namun, jika terjadi terus-menerus dan mengganggu tidur atau kualitas hidup, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan. Terlebih jika disertai dengkuran keras, terbangun sambil terengah-engah, rasa lelah berlebihan pada siang hari, batuk berkepanjangan, atau periode berhenti bernapas saat tidur.
Ngiler berlebihan juga dapat menyebabkan bau mulut, iritasi kulit, gigi sensitif dan berlubang, kelelahan, hingga kurang tidur. Meski jarang, hipersalivasi pada malam hari juga dapat meningkatkan risiko tersedak atau batuk saat tidur.
Advertisement

JK: Dalam Dunia Hari Ini, Lebih Berbahaya Kekurangan Listrik Ketimbang Kekurangan Beras

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China

SBY Bicara Pemerintahan di Endgame Town Hall: Saya Tak Pernah Berselingkuh dengan Konstitusi

Hari Ozon Sedunia, Ketahui Fakta Penting Lapisan Pelindung Bumi


5 Kebiasaan Malam yang Disarankan Pakar agar Bisa Hidup Lebih Panjang

Social Contagion: Mengapa Tren Memakai Parfum Bisa Ikut Menyebar di Kalangan Anak SD?

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China


9 Kebiasaan dalam Hubungan yang Sering Dikira Toxic, Padahal Bisa Berdampak Positif

