© Pexels.com/Timur Weber
DREAM.CO.ID - Dalam hubungan romantis, ada banyak aturan tidak tertulis tentang seperti apa pasangan yang dianggap sehat. Tidak boleh bertengkar di depan anak, harus segera membalas pesan, tidak boleh tidur dalam keadaan marah, hingga pasangan seharusnya memiliki lingkaran pertemanan yang sama. Namun, menurut sejumlah pakar hubungan, anggapan tersebut tidak selalu benar.
Beberapa perilaku memang bisa menjadi tanda hubungan tidak sehat jika dilakukan secara berlebihan atau dengan cara yang menyakiti pasangan. Namun, dalam konteks tertentu, kebiasaan yang tampak “ toxic” justru dapat membantu pasangan menjaga hubungan tetap sehat.
1. Bertengkar di Depan Anak
Pertengkaran orang tua memang tidak menyenangkan bagi anak. Namun, konflik tidak selalu buruk jika pasangan tetap saling menghormati. Anak justru dapat belajar bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari hubungan dan konflik bisa diselesaikan melalui negosiasi, kompromi, serta komunikasi kebutuhan dan perasaan. Sebaliknya, berteriak, menghina, atau mengancam pasangan tetap merupakan perilaku yang tidak sehat dan dapat berdampak buruk pada anak.
2. Mengeluh kepada Pasangan
Keluhan sering dianggap sebagai tanda hubungan bermasalah. Padahal, menyampaikan keluhan dapat menjadi cara untuk memberi tahu pasangan mengenai hal-hal yang penting bagi kita.
Perbedaannya terletak pada cara menyampaikannya. Keluhan berfokus pada perilaku yang bisa diperbaiki, sedangkan kritik menyerang karakter pasangan. Mengatakan, “ Saya kesal karena kamu belum membuang sampah seperti yang sudah dijanjikan,” misalnya, berbeda dengan menyebut pasangan sebagai orang yang malas atau tidak bertanggung jawab.
3. Sesekali Ingin Sendiri
Meminta waktu untuk diri sendiri bukan berarti ingin meninggalkan hubungan. Pasangan tetap membutuhkan ruang pribadi, terutama jika memiliki hobi dan minat berbeda.
Menghabiskan waktu sendiri sesekali justru dapat membuat seseorang merasa lebih baik dalam menjalani hubungan. Namun, jika permintaan tersebut berkaitan dengan keinginan untuk berpisah atau pindah rumah, situasinya tentu berbeda.
4. Tidak Langsung Membalas Pesan Pasangan
Di era ketika ponsel membuat orang selalu terhubung, tidak segera membalas pesan pasangan sering dianggap mencurigakan. Padahal, seseorang tidak harus selalu tersedia.
Sedang bekerja, berolahraga, mengemudi, atau sekadar menikmati waktu tanpa ponsel merupakan alasan yang wajar untuk menunda respons. Tuntutan untuk selalu memberikan akses kepada pasangan justru dapat berkembang menjadi perilaku posesif atau mengontrol.
5. Menetapkan Batasan
Batasan pribadi bukan tanda bahwa seseorang tidak peduli kepada pasangannya. Setiap orang memiliki kebutuhan emosional dan batas kenyamanan yang berbeda.
Menetapkan batasan secara jelas dan konsisten dapat membantu seseorang menjaga kesehatan mental sekaligus membuat pasangan memahami kebutuhan masing-masing. Mengatakan tidak kepada orang yang disayangi memang tidak selalu mudah, tetapi tetap diperlukan dalam hubungan yang sehat.
6. Memberikan Kritik
Kritik yang terus-menerus dan menyerang pribadi jelas dapat merusak hubungan. Namun, kritik yang jujur dan disampaikan dengan tenang dapat diperlukan ketika perilaku pasangan berpotensi menimbulkan masalah serius, misalnya pengelolaan keuangan yang buruk, penggunaan narkoba, atau tidak mau menangani perilaku anak yang sudah sulit dikendalikan.
7. Meninggalkan Pertengkaran untuk Sementara
Ketika pertengkaran semakin panas, mengambil jeda justru dapat menjadi pilihan sehat. Terus berdebat ketika emosi sedang tinggi sering kali membuat konflik semakin buruk.
Yang penting, “ melarikan diri” dari pertengkaran bukan berarti menghindari masalah selamanya. Pasangan tetap perlu kembali membicarakan persoalan tersebut setelah emosi lebih stabil.
8. Tidur Dalam Keadaan Masih Marah
Nasihat agar pasangan tidak pernah tidur dalam keadaan marah terdengar ideal, tetapi tidak selalu realistis. Terkadang, memaksakan penyelesaian konflik pada malam hari justru membuat situasi semakin buruk karena kedua pihak masih emosional dan kelelahan.
Memberi waktu untuk menenangkan diri dan melanjutkan pembicaraan keesokan harinya dapat menjadi pilihan yang lebih baik, selama pasangan memang berkomitmen kembali menyelesaikannya.
9. Memiliki Teman yang Berbeda
Pasangan tidak harus memiliki seluruh teman yang sama. Mempertahankan pertemanan di luar hubungan memungkinkan seseorang tetap menjalani minat dan sisi dirinya yang mungkin tidak dimiliki pasangan. Selama komunikasi terbuka, kepercayaan terjaga, dan tidak ada kebohongan, memiliki lingkaran pertemanan sendiri bukan tanda hubungan yang buruk.
Pada akhirnya, tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua pasangan. Perilaku yang terlihat “ toxic” dari luar belum tentu bermasalah jika dilakukan dengan cara yang sehat, saling menghormati, dan disertai komunikasi terbuka. Sebaliknya, kebiasaan yang terlihat normal sekalipun dapat menjadi tidak sehat ketika digunakan untuk mengontrol, merendahkan, atau menyakiti pasangan.
Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar apakah pasangan bertengkar, mengambil waktu sendiri, atau tidak langsung membalas pesan, melainkan bagaimana mereka berkomunikasi dan menyelesaikan masalah setelahnya.
Advertisement

JK: Dalam Dunia Hari Ini, Lebih Berbahaya Kekurangan Listrik Ketimbang Kekurangan Beras

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China

SBY Bicara Pemerintahan di Endgame Town Hall: Saya Tak Pernah Berselingkuh dengan Konstitusi

Hari Ozon Sedunia, Ketahui Fakta Penting Lapisan Pelindung Bumi


5 Kebiasaan Malam yang Disarankan Pakar agar Bisa Hidup Lebih Panjang

Social Contagion: Mengapa Tren Memakai Parfum Bisa Ikut Menyebar di Kalangan Anak SD?

Jusuf Kalla Ajak Dekan Teknik Makassar Pelajari Industri Teknologi Langsung di China




5 Efek Samping Makan Tomat Setiap Hari yang Perlu Diperhatikan