Berangkat dari China Selatan Hingga Lahirnya Orang Melayu: Menelusuri Jejak Asal-Usulnya

Reporter : Abidah
Selasa, 22 September 2026 14:00
Berangkat dari China Selatan Hingga Lahirnya Orang Melayu: Menelusuri Jejak Asal-Usulnya
Sejumlah teori menjelaskan bagaimana masyarakat Melayu terbentuk dan terus berkembang di wilayah Asia Tenggara.

DREAM.CO.ID - Orang Melayu tersebar luas di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan pesisir, hingga berbagai pulau di Nusantara. Populasi yang begitu luas dengan bahasa dan budaya yang saling terkait ini memunculkan pertanyaan mendasar: dari mana sebenarnya asal-usul orang Melayu? Sejumlah teori mencoba menjawab pertanyaan ini, dan masing-masing membawa bukti serta argumen yang berbeda.

Teori Yunnan: Migrasi dari Daratan China Selatan

Teori Yunnan menjadi salah satu teori paling populer dan diajarkan luas di bangku sekolah. Teori ini dicetuskan oleh Robert Barron von Heine-Geldern serta didukung sejumlah ahli lain seperti J.H.C. Kern, N.J. Krom, dan Moh. Ali dari kalangan dalam negeri. Teori ini menyebut bahwa nenek moyang orang Melayu berasal dari daerah Yunnan di China Selatan, wilayah yang berbatasan langsung dengan Myanmar, Laos, dan Vietnam.

Dua bukti utama mendukung teori ini. Pertama, ditemukan kemiripan antara kapak tua di Nusantara dengan kapak yang ditemukan di Asia Tengah. Kedua, bahasa Melayu yang berkembang di Nusantara menunjukkan kemiripan dengan bahasa Champa di Kamboja, mengindikasikan hubungan migrasi lewat Sungai Mekong yang mengalir dari Yunnan menuju Kamboja, sebelum akhirnya sebagian penduduk melanjutkan perjalanan hingga ke wilayah Nusantara.

Migrasi dari Yunnan menurut teori ini berlangsung dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama adalah orang Negrito, yang diperkirakan masuk ke Nusantara sekitar 1.000 SM dan dianggap sebagai penduduk paling awal di wilayah ini. Bukti arkeologis keberadaan mereka ditemukan di Gua Cha, Kelantan, Malaysia. Nama Negrito sendiri diberikan orang Spanyol karena penampilan fisik mereka yang berkulit gelap mirip ras Negro, dengan keturunan yang kini dikenal sebagai orang Semang, bercirikan kulit gelap, rambut keriting, mata bundar, hidung lebar, dan tubuh pendek.

1 dari 4 halaman

Proto Melayu: Gelombang Migrasi Pertama Bangsa Austronesia

Gelombang migrasi kedua dikenal sebagai Proto Melayu atau Melayu Tua, berlangsung sekitar 1500-2000 SM. Bangsa Proto Melayu ini merupakan kelompok Austronesia dari ras Mongoloid yang bermigrasi awalnya ke wilayah Indo-China dan Siam, mencakup Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam, sebelum melanjutkan perjalanan hingga ke Kepulauan Indonesia.

Proto Melayu masuk ke Nusantara lewat dua jalur berbeda. Jalur barat membentang dari Yunnan menuju Semenanjung Malaka, lalu ke Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

Jalur timur membentang dari Yunnan lewat Teluk Tonkin, Taiwan, Filipina, menuju Sulawesi dan Maluku. Bangsa Proto Melayu membawa kebudayaan neolitikum yang lebih maju dibanding manusia purba sebelumnya, ditandai dengan teknik pembuatan batu yang sudah dihaluskan. Keturunan bangsa Proto Melayu ini kelak menjadi cikal bakal sejumlah suku di Nusantara, termasuk Suku Toraja, Dayak, Sasak, dan Nias.

 

2 dari 4 halaman

Deutero Melayu: Gelombang Kedua dari Vietnam Utara

Gelombang migrasi ketiga dikenal sebagai Deutero Melayu atau Melayu Muda, diyakini berasal dari Indocina bagian utara, khususnya wilayah yang terpengaruh kebudayaan Dongson di Vietnam. Kajian arkeologis menunjukkan artefak-artefak Deutero Melayu memiliki kesamaan bentuk dengan artefak kebudayaan Dongson tersebut.

Berbeda dari Proto Melayu yang masuk lewat dua jalur, Deutero Melayu hanya masuk ke Nusantara lewat jalur barat: dari Dongson menuju Semenanjung Malaya, lalu ke Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur.

Populasi Deutero Melayu tercatat lebih banyak dibanding penduduk asli sebelumnya, sehingga memungkinkan terjadinya pembauran antara pendatang dengan penduduk asli ras Australomelanesoid dan Mongoloid yang sudah lebih dulu menghuni Nusantara sejak masa berburu-meramu tingkat lanjut. Deutero Melayu inilah yang diyakini menjadi nenek moyang langsung dari orang Melayu Indonesia dan Malaysia yang dikenal saat ini.

3 dari 4 halaman

Teori Nusantara: Bangsa Melayu Berasal dari Nusantara Sendiri

Berbeda dari teori Yunnan yang menekankan migrasi dari luar, Teori Nusantara menyebut bahwa nenek moyang orang Melayu justru berasal dan berkembang di wilayah Nusantara sendiri, bukan hasil migrasi dari daerah lain. Teori ini didukung oleh sejumlah ahli seperti Mohammad Yamin, Gorys Keraf, J. Crawford, dan Sutan Takdir Alisyahbana.

Teori Nusantara berpijak pada pandangan bahwa bangsa Melayu sudah memiliki peradaban tinggi sebelum era migrasi yang disebut teori Yunnan, dengan proses perkembangan budaya yang berlangsung secara mandiri di wilayah Nusantara. Penemuan Homo Soloensis dan Homo Wajakensis di Pulau Jawa dijadikan salah satu argumen pendukung, mengindikasikan kemungkinan bangsa Melayu merupakan keturunan manusia purba yang sudah lebih dulu menghuni wilayah tersebut. Pendukung teori ini juga menilai kemiripan bahasa Melayu dengan bahasa Kamboja sebagai kebetulan semata, bukan bukti migrasi dari Yunnan.

4 dari 4 halaman

Perdebatan Antar Ahli yang Masih Berlanjut

Perdebatan mengenai asal-usul orang Melayu tidak hanya terjadi antara teori Yunnan dan Nusantara. Profesor Zhou Weiming dari Universitas Hainan, dalam bukunya berjudul Sejarah Hubungan Tiongkok dan Malaysia, mencatat bahwa sebagian ahli Barat maupun Timur justru meyakini orang Melayu berasal dari Tiongkok tenggara, bukan spesifik dari Yunnan, pandangan yang dikemukakan ahli seperti Luo Xianglin, Xu Songshi, dan Zhang Guangzhi.

Perdebatan lain muncul soal hubungan antara ras dan bahasa. Sebagian ahli, seperti Qiu Jinmin, berpandangan bahwa ras dan bahasa merupakan dua hal yang berbeda dan tidak selalu berkorelasi langsung.

Menurut pandangan ini, orang Negrito dan orang Indonesia sama-sama menggunakan rumpun bahasa Melayu-Polinesia yang tergabung dalam induk bahasa Austronesia, tanpa harus berbagi asal-usul ras yang identik. Orang Melayu masa kini, dalam pandangan sejumlah ahli, juga merupakan hasil percampuran dengan berbagai bangsa lain yang datang belakangan, termasuk India, Tiongkok, dan Arab, di atas fondasi populasi Melayu Tua yang sudah lebih dulu menetap di kawasan tersebut.

Beri Komentar