© Gemini Generated Image
DREAM.CO.ID - Ketika manusia merasa gelisah, sering kali yang pertama dicari adalah sesuatu di luar dirinya: keadaan yang lebih baik, pengakuan dari orang lain, pekerjaan yang lebih mapan, atau kehidupan yang tampak lebih menyenangkan. Padahal, menurut Ki Ageng Suryomentaram, sumber kegelisahan tidak selalu berada di luar diri. Ada sesuatu yang bekerja di dalam diri manusia berupa rasa, keinginan, dan keakuan yang terus bergerak mengikuti keadaan.
Kegelisahan tersebut bukan persoalan yang asing bagi masyarakat modern. Internet dan media sosial membuat manusia berhadapan dengan begitu banyak informasi, pencapaian, gaya hidup, dan pendapat orang lain setiap hari. DataReportal mencatat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada awal 2025, dengan penetrasi internet mencapai 74,6 persen.
Dalam situasi seperti ini, pemikiran Suryomentaram tentang rasa, keinginan, Kramadangsa, dan mawas diri memperoleh konteks baru. Kawruh Jiwa tidak menawarkan cara untuk menghilangkan seluruh persoalan hidup, tetapi mengajak seseorang melihat lebih dekat bagaimana dirinya merasakan, menginginkan, membandingkan, dan bereaksi terhadap dunia di sekitarnya.
Ki Ageng Suryomentaram lahir di Yogyakarta, 20 Mei 1892. Ia mengembangkan pemikirannya melalui pengamatan terhadap pengalaman sehari-hari manusia, terutama tentang rasa senang, susah, keinginan, kekecewaan, dan kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Sejumlah penelitian bahkan membandingkan konsep Suryomentaram dengan pemikiran psikologi Barat.
Suryomentaram memulai pemahamannya dari rasa. Dalam Ilmu Jiwa Kramadangsa, ia menjelaskan bahwa jiwa berkaitan dengan rasa yang dialami manusia. Rasa bukan sekadar senang atau sedih, tetapi pengalaman batin yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Ketika haus, manusia mencari minum; ketika menginginkan sesuatu, ia berusaha mendapatkannya. Karena itu, Suryomentaram mengajak manusia mengamati rasa dan keinginannya sendiri, bukan selalu mengikuti setiap dorongan yang muncul.
Gagasan tersebut terasa dekat dengan kehidupan di media sosial. Seseorang dapat tiba-tiba menginginkan rumah, kendaraan, liburan, atau gaya hidup tertentu setelah melihat kehidupan orang lain di layar. Dalam Kawruh Jiwa, keinginan dapat mengalami proses mulur-mungkret, yakni mengembang dan menyusut sesuai keadaan. Kesenangan tidak berlangsung selamanya, begitu pula kesedihan. Kesadaran terhadap perubahan rasa tersebut dapat membantu seseorang memahami bahwa apa yang dirasakan saat ini tidak selalu menjadi keadaan yang permanen.
Relevansinya semakin terasa ketika melihat persoalan kesehatan mental. WHO menyebut lebih dari 1 miliar orang di dunia hidup dengan kondisi kesehatan mental, sementara hampir satu dari tujuh orang mengalami gangguan mental. Di Indonesia, SKI 2023 mencatat prevalensi depresi tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni 2 persen. Data tersebut tidak berarti Kawruh Jiwa dapat menggantikan psikolog atau psikiater, tetapi menunjukkan pentingnya kemampuan mengenali kondisi batin dan membicarakan kesehatan mental secara terbuka.
Konsep lain yang penting adalah Kramadangsa, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai rasa “ aku” atau keakuan. Kramadangsa terbentuk dari nama, pengalaman, keinginan, status, kepentingan, dan berbagai ciri yang membuat seseorang merasa berbeda dari orang lain. Dalam kehidupan sekarang, keakuan tersebut dapat muncul ketika harga diri bergantung pada jabatan, penghasilan, jumlah pengikut, penampilan, atau pengakuan di media sosial. Masalah muncul ketika seluruh penilaian terhadap diri digantungkan pada hal-hal tersebut.
Untuk menghadapinya, Suryomentaram menawarkan mawas diri, yaitu kemampuan mengamati diri secara lebih jernih. Seseorang dapat mulai dengan bertanya: apa sebenarnya yang saya inginkan, mengapa saya menginginkannya, dan mengapa kegagalan mendapatkannya membuat saya begitu terganggu? Dengan cara ini, seseorang memiliki jarak antara dirinya dan reaksi emosional yang muncul sehingga tidak selalu bertindak secara otomatis.
Gagasan tersebut memiliki kemiripan dengan mindfulness, yang dalam psikologi kontemporer menekankan kesadaran terhadap pengalaman saat ini tanpa langsung bereaksi. Namun, keduanya tidak sama. Mindfulness berkembang dalam tradisi psikologi dan meditasi modern, sedangkan Kawruh Jiwa lahir dari pengalaman kebudayaan Jawa dan menggunakan konsep seperti rasa, karep, mawas diri, serta Kramadangsa untuk memahami manusia.
Pemikiran Suryomentaram juga dapat dibandingkan dengan Stoisisme, khususnya gagasan mengenai membedakan hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Manusia tidak selalu dapat menentukan pendapat orang lain, komentar warganet, hasil pekerjaan, atau kondisi ekonomi. Namun, manusia masih dapat mengamati respons dirinya terhadap keadaan tersebut. Kawruh Jiwa mengajak pengamatan itu lebih jauh dengan mencari hubungan antara keadaan, keinginan, dan rasa pribadi.
Walau begitu, Kawruh Jiwa tidak perlu ditempatkan sebagai resep untuk menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan modern. Pemikiran tersebut juga tidak menggantikan penanganan profesional terhadap gangguan kesehatan mental. Nilainya justru terletak pada ajakan untuk mengenali apa yang berlangsung di dalam diri: rasa yang berubah, keinginan yang terus bergerak, dan keakuan yang kadang memengaruhi cara seseorang melihat dunia.
Di tengah kehidupan yang semakin terkoneksi dan penuh perbandingan, pemikiran Suryomentaram menawarkan satu kebiasaan yang tetap relevan: berhenti sejenak untuk memahami diri sebelum bereaksi terhadap dunia di luar diri.
Advertisement

Mengapa Kekaisaran Romawi Pernah Memindahkan Pusatnya ke Konstantinopel dan Pecah Menjadi Dua

Tips Belajar Bahasa Baru dengan Aksara yang Berbeda Secara Cepat, Pahami Teknik yang Tepat

Hari yang Dihilangkan dalam Sejarah Manusia saat Pergantian Kalender

Penelitian Temukan Bahwa Cukup Tidur Benar-benar Bisa Bantu Mendongkrak Nilai

Bukan IQ, Ini Jenis Kepintaran yang Lebih Penting dan Menentukan Kesuksesan

Ini yang Terjadi pada Otak Setelah Berhenti Konsumsi Gula Tambahan Selama Sebulan
