Perjalanan Ingus di Dalam Hidung: Kenapa Sebagian Mengering Jadi Upil, Sebagian Lagi Lenyap Begitu Saja?

Reporter : Abidah
Selasa, 18 Agustus 2026 10:00
Perjalanan Ingus di Dalam Hidung: Kenapa Sebagian Mengering Jadi Upil, Sebagian Lagi Lenyap Begitu Saja?
Ada dua akhir menarik dari ingus yang ada di hidung kita: satu berubah menjadi upil dan satunya tetap menjadi ingus dan menghilang. Mengapa?

DREAM.CO.ID - Setiap hari, hidung memproduksi cairan lengket dalam jumlah yang mengejutkan, sekitar satu hingga dua liter mengalir dari hidung, sinus, dan tenggorokan. Tapi kalau diperhatikan, tidak semuanya berakhir jadi upil yang biasa dikorek dari dalam hidung. Sebagian besar justru menghilang begitu saja tanpa pernah terasa. Kenapa bisa begitu?

Ingus atau mukus hidung diproduksi terus-menerus oleh sel goblet dan kelenjar submukosa yang melapisi rongga hidung. Cairan ini sebagian besar terdiri dari air, sekitar 90 hingga 95 persen, ditambah glikoprotein (mucin), elektrolit, serta berbagai molekul pendukung imun seperti antibodi dan enzim.

Saat udara masuk lewat hidung, ia membawa serta partikel-partikel di sekitarnya seperti debu, serbuk sari, kotoran, bakteri, dan virus. Ingus yang lengket berfungsi sebagai perangkap, menangkap zat-zat asing ini agar tidak menembus lebih jauh ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru.

Mayoritas Ingus Justru Ditelan, Bukan Jadi Upil

Inilah kunci jawaban dari pertanyaan awal: sebagian besar ingus sebenarnya tidak pernah mengering menjadi upil sama sekali. Di dalam hidung, terdapat rambut-rambut halus bernama silia yang terus bergerak menyapu lapisan ingus menuju bagian belakang tenggorokan, sebuah proses yang dikenal sebagai mucociliary clearance. Dari sana, ingus yang sudah menangkap berbagai partikel asing itu bercampur dengan air liur dan tertelan secara tidak sadar, kemudian dihancurkan asam lambung tanpa pernah menimbulkan masalah.

Dengan kata lain, upil yang biasa kita korek dari hidung hanyalah sebagian kecil dari total produksi ingus harian, yakni bagian yang gagal tersapu sempurna oleh silia dan tertinggal di bagian depan rongga hidung yang lebih dekat dengan udara luar.

1 dari 3 halaman

Kenapa Sebagian Ingus Justru Mengering Jadi Upil

Perubahan dari ingus cair menjadi upil padat sebenarnya murni proses fisika, didorong oleh hilangnya kandungan air lewat penguapan. Udara yang terus mengalir melalui rongga hidung, terutama di bagian depan yang paling dekat dengan lubang hidung, mempercepat penguapan kadar air tinggi dari ingus tersebut. Begitu air menguap, konsentrasi komponen padat yang tersisa di dalam ingus meningkat, sehingga cairan itu perlahan mengental dan akhirnya mengeras.

Ingus yang tetap berada di bagian dalam hidung yang lembap cenderung tersapu bersih oleh silia sebelum sempat mengering. Sebaliknya, ingus yang terjebak di area lebih dekat lubang hidung, yang lebih sering terpapar udara luar secara langsung, lebih rentan kehilangan kelembapannya dan berubah menjadi upil.

2 dari 3 halaman

Faktor Lingkungan Ikut Menentukan

Beberapa faktor eksternal turut memengaruhi seberapa cepat ingus berubah menjadi upil. Udara kering secara signifikan mempercepat proses penguapan, membuat ingus lebih cepat mengering dan berubah jadi upil. Sebaliknya, pada kondisi udara lembap, ingus cenderung mempertahankan kelembapannya lebih lama dan lebih besar kemungkinannya tersapu bersih secara alami oleh silia sebelum sempat mengeras.

Cuaca dingin juga berperan, sebab udara dingin cenderung lebih cepat mengeringkan ingus dibanding udara hangat. Inilah salah satu alasan kenapa orang cenderung lebih sering merasakan hidung penuh upil saat musim dingin atau berada di ruangan ber-AC yang udaranya lebih kering, dibanding saat cuaca panas dan lembap.

3 dari 3 halaman

Warna Upil Juga Bercerita

Selain soal kenapa upil terbentuk, warnanya pun bisa menjadi indikator kondisi tubuh. Ingus normalnya bening, namun cenderung berubah keputihan saat mengering. Warna putih biasanya muncul saat tubuh sedang melawan virus dan memproduksi ingus tambahan untuk membersihkannya.

Warna kuning atau hijau umumnya menandakan infeksi virus maupun bakteri, dengan warna kuning berasal dari sel darah putih yang mati, sementara warna hijau muncul saat jumlah sel darah putih dan sisa pertempuran imun jauh lebih banyak. Warna merah bisa muncul akibat hidung yang terlalu kering atau pembuluh darah kecil yang pecah, sementara warna cokelat atau hitam biasanya berasal dari darah kering atau paparan asap dan debu berwarna gelap.

Jadi, tidak semua ingus berujung jadi upil karena sebagian besar produksi ingus harian sebenarnya berhasil diproses secara alami oleh silia dan tertelan tanpa pernah kita sadari. Hanya ingus yang tertinggal di area dekat lubang hidung, terpapar udara kering, dan gagal tersapu tepat waktu yang akhirnya kehilangan kadar airnya dan mengeras menjadi upil.

Beri Komentar