Tak Peduli Laki-Laki atau Perempuan, Ini Alasan Mengapa Setiap Orang Harus Bisa Memasak

Reporter : Abidah
Jumat, 21 Agustus 2026 06:00
Tak Peduli Laki-Laki atau Perempuan, Ini Alasan Mengapa Setiap Orang Harus Bisa Memasak
Kemampuan memasak perlu dimiliki oleh siapa saja baik laki-laki maupun perempuan untuk bertahan hidup dan menjalani aktivitas harian.

DREAM.CO.ID - Bayangkan seseorang tinggal sendirian untuk pertama kalinya. Ia punya pekerjaan, penghasilan, dan tempat tinggal, tetapi setiap kali lapar harus memesan makanan. Bukan karena tidak punya uang, melainkan karena tidak tahu bagaimana mengolah telur, sayuran, nasi, atau bahan makanan sederhana menjadi hidangan yang layak dimakan.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa memasak seharusnya tidak dipandang sebagai keterampilan perempuan atau laki-laki. Memasak adalah keterampilan hidup dasar. Sama seperti mencuci pakaian, mengatur keuangan, atau menjaga kebersihan rumah, kemampuan menyediakan makanan untuk diri sendiri merupakan bagian dari kemandirian seseorang.

Memasak Bukan " Pekerjaan Perempuan"

Dalam banyak keluarga, terutama masyarakat yang masih kuat dengan pembagian peran tradisional, memasak sering dilekatkan pada perempuan. Perempuan dianggap harus bisa memasak karena kelak akan menjadi istri atau ibu, sementara laki-laki tidak selalu mendapatkan tuntutan yang sama.

Padahal, cara pandang tersebut menempatkan keterampilan yang sebenarnya bersifat universal sebagai kewajiban berdasarkan gender.

Seorang laki-laki yang tinggal sendiri tetap harus makan. Seorang perempuan yang hidup sendiri juga membutuhkan makanan. Demikian pula seseorang yang belum menikah, sudah menikah, tinggal di asrama, bekerja di kota lain, atau suatu hari harus merawat anggota keluarganya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih masuk akal bukan " Apakah laki-laki bisa memasak?" atau " Apakah perempuan pandai memasak?" , melainkan " Apakah seseorang mampu menyediakan makanan untuk dirinya sendiri?"

1 dari 3 halaman

1. Memasak Membantu Mengontrol Apa yang Masuk ke Tubuh

Salah satu keuntungan terbesar memasak sendiri adalah kemampuan mengendalikan bahan makanan dan cara mengolahnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pola makan sehat perlu memperhatikan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman makanan. WHO juga mendorong pengembangan keterampilan memasak sebagai bagian dari upaya membangun pola makan sehat.

Ketika memasak sendiri, seseorang dapat menentukan berapa banyak garam, gula, minyak, sayuran, protein, dan bahan lainnya yang digunakan. Misalnya, seseorang yang sedang berusaha mengurangi konsumsi garam tidak harus mengikuti jumlah garam yang digunakan restoran.

Bukan berarti makanan rumahan otomatis sehat. Cara memasak dan pilihan bahan tetap menentukan. Namun, memasak memberikan kontrol yang lebih besar terhadap makanan yang dikonsumsi.

2. Memasak Bisa Membantu Menghemat Pengeluaran

Kemampuan memasak juga berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Membeli bahan makanan dalam jumlah tertentu kemudian mengolahnya menjadi beberapa porsi sering kali memberikan pilihan yang lebih fleksibel dibandingkan selalu membeli makanan jadi.

Bagi mahasiswa, pekerja yang tinggal di kos, keluarga muda, atau orang dengan penghasilan terbatas, kemampuan mengolah bahan sederhana dapat menjadi keterampilan ekonomi yang penting.

Memasak juga membuat seseorang tidak selalu bergantung pada restoran atau layanan pesan-antar ketika lapar.

Tentu saja, memasak tidak selalu lebih murah dalam setiap situasi. Harga bahan, waktu, peralatan, dan jumlah makanan yang dibuat ikut menentukan. Namun, kemampuan memasak memberi seseorang lebih banyak pilihan dalam mengatur pengeluaran makanan.

2 dari 3 halaman

3. Memasak Membuat Seseorang Lebih Mandiri

Ada perbedaan antara " bisa makan" dan " bisa menyediakan makanan" .

Seseorang yang mampu memasak tidak harus selalu menunggu pasangan, orang tua, teman, atau orang lain untuk menyiapkan makanan. Ia dapat mengambil bahan yang tersedia di dapur dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa dimakan.

Keterampilan ini menjadi semakin penting ketika seseorang hidup jauh dari keluarga. Orang yang merantau, tinggal di kos, bekerja di kota lain, atau bepergian dalam waktu lama akan lebih mudah beradaptasi jika memiliki kemampuan dasar memasak.

Bahkan tidak perlu menjadi koki hebat. Bisa memasak nasi, telur, sayur, sup sederhana, tumisan, dan beberapa sumber protein sudah merupakan modal penting untuk bertahan hidup.

4. Memasak Mengajarkan Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri

Memasak juga bukan hanya soal teknik menggoreng atau merebus. Di dalamnya terdapat serangkaian keputusan: menentukan menu, membeli bahan, menyimpan makanan, menjaga kebersihan, mengatur porsi, hingga mencuci peralatan setelah selesai.

Artinya, belajar memasak sebenarnya juga mengajarkan perencanaan dan tanggung jawab.

WHO bahkan menekankan pentingnya keterampilan kuliner, termasuk mengajarkannya kepada anak-anak melalui sekolah, sebagai bagian dari upaya mendukung pola makan sehat.

Dengan demikian, memasak dapat dipandang sebagai bagian dari pendidikan kecakapan hidup, bukan sekadar pekerjaan rumah tangga.

 

3 dari 3 halaman

5. Memasak Membuat Pembagian Pekerjaan Rumah Lebih Adil

Ada alasan lain yang tidak kalah penting: kemampuan memasak dapat membantu mengurangi ketimpangan pekerjaan domestik.

Jika hanya satu orang dalam keluarga yang mampu memasak, orang tersebut secara tidak langsung menjadi " penanggung jawab makanan" . Bahkan ketika kedua pasangan sama-sama bekerja, beban memasak dapat tetap jatuh kepada orang yang dianggap paling mampu melakukannya.

Sebaliknya, jika semua anggota keluarga memiliki keterampilan dasar memasak, pekerjaan tersebut dapat dibagi lebih adil. Hari ini seseorang memasak, besok pasangannya mengambil giliran. Anak-anak pun dapat belajar melakukan pekerjaan sederhana sesuai usia mereka.

Dengan cara ini, memasak tidak lagi dipahami sebagai " membantu ibu" atau " membantu istri" , tetapi sebagai tanggung jawab bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama.

Tidak Perlu Menjadi Chef

Kesalahpahaman lain adalah menganggap seseorang baru disebut bisa memasak jika mampu membuat makanan rumit. Padahal, kemampuan memasak untuk kehidupan sehari-hari tidak membutuhkan teknik profesional.

Standarnya jauh lebih sederhana: mampu memilih bahan, menggunakan peralatan dengan aman, mengikuti resep dasar, mengolah makanan hingga matang, menjaga kebersihan, dan menghasilkan makanan yang cukup bergizi untuk dikonsumsi.

Pada akhirnya, laki-laki maupun perempuan sama-sama membutuhkan kemampuan memasak karena sama-sama membutuhkan makanan. Memasak bukan ukuran apakah seseorang pantas menjadi suami, istri, ibu, atau ayah. Ia adalah keterampilan untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri.

Jadi, mengajarkan anak memasak sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan, " Anak laki-laki atau perempuan?" Pertanyaan yang lebih tepat adalah: " Apakah kelak dia mampu mengurus dirinya sendiri?"

Beri Komentar