Mengenal Hypersensitivity Pneumonitis, Radang Paru-Paru akibat Paparan Debu dan Jamur

Reporter : Abidah
Minggu, 23 Agustus 2026 16:00
Mengenal Hypersensitivity Pneumonitis, Radang Paru-Paru akibat Paparan Debu dan Jamur
Hypersensitivity pneumonitis adalah peradangan pada paru-paru akibat reaksi sistem kekebalan terhadap zat yang terhirup.

DREAM.CO.ID - Batuk yang terus berulang, sesak napas, dan tubuh terasa sangat lelah sering dianggap sebagai gejala infeksi saluran pernapasan biasa. Namun, jika keluhan tersebut muncul berulang setelah seseorang berada di lingkungan tertentu, misalnya rumah yang lembap, tempat kerja penuh debu, peternakan, atau lingkungan dengan banyak burung—ada kondisi lain yang perlu dipertimbangkan, yaitu hypersensitivity pneumonitis (HP).

Hypersensitivity pneumonitis adalah peradangan pada paru-paru akibat reaksi sistem kekebalan terhadap zat yang terhirup. Kondisi ini terutama menyerang alveoli dan saluran napas kecil. Berbagai debu organik, jamur, bakteri, protein dari hewan atau tumbuhan, hingga bahan kimia tertentu dapat menjadi pemicunya.

Apa Penyebab Hypersensitivity Pneumonitis?

HP terjadi ketika sistem kekebalan bereaksi berlebihan setelah seseorang menghirup antigen tertentu. Lebih dari 300 jenis antigen telah diidentifikasi sebagai pemicu kondisi ini. Risiko lebih tinggi ditemukan pada orang yang memiliki paparan berulang, terutama dalam lingkungan pekerjaan atau rumah tangga tertentu.

Salah satu contoh yang dikenal adalah farmer's lung, yaitu HP yang berkaitan dengan paparan debu dari jerami, biji-bijian, atau bahan pertanian yang berjamur. Ada pula bird fancier's lung, yang berkaitan dengan paparan protein dari bulu atau kotoran burung.

Paparan juga dapat berasal dari sistem pelembap udara, pendingin ruangan yang terkontaminasi, kompos, debu kayu, serta lingkungan yang memiliki kelembapan tinggi dan pertumbuhan mikroorganisme.

Menariknya, tidak semua orang yang berada dalam lingkungan yang sama akan mengalami HP. Faktor genetik, intensitas dan lamanya paparan, serta sejumlah faktor lain diduga ikut menentukan kerentanan seseorang.

1 dari 3 halaman

Gejalanya Bisa Menyerupai Flu

Salah satu hal yang membuat HP sulit dikenali adalah gejalanya dapat menyerupai penyakit lain.

Pada HP akut, keluhan dapat muncul sekitar 4-8 jam setelah seseorang kembali terpapar antigen dalam jumlah besar. Gejalanya antara lain batuk, sesak napas, demam, menggigil, rasa tidak enak badan, dan kelelahan. Pada sebagian orang, keluhan dapat membaik setelah meninggalkan lingkungan pemicu.

Sementara itu, HP subakut berkembang dalam hitungan hari hingga minggu. Batuk dan sesak dapat semakin terasa dan pada kasus tertentu cukup berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Pada HP kronis, paparan dalam jumlah lebih kecil tetapi berlangsung berulang selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat menyebabkan sesak terutama saat beraktivitas, batuk yang menetap, kelelahan, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan. Pada tahap ini, jaringan paru dapat mengalami fibrosis atau pembentukan jaringan parut.

2 dari 3 halaman

Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Diagnosis HP tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan. Dokter biasanya perlu menggali secara rinci riwayat paparan di rumah, tempat kerja, maupun aktivitas sehari-hari.

Pemeriksaan dapat mencakup CT scan, terutama high-resolution CT (HRCT), serta tes fungsi paru. Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah untuk mencari antibodi terhadap antigen tertentu, bronchoalveolar lavage (BAL), atau pemeriksaan jaringan paru. Pedoman ATS/JRS/ALAT menekankan pentingnya menggabungkan riwayat paparan, gambaran klinis, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan lainnya dalam menegakkan diagnosis.

Pemeriksaan antibodi saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami HP. Karena itu, seseorang sebaiknya tidak menyimpulkan sendiri bahwa batuk atau sesak yang dialaminya merupakan HP hanya karena pernah terpapar jamur atau debu.

3 dari 3 halaman

Menghindari Pemicu Menjadi Bagian Penting Pengobatan

Hal terpenting dalam penanganan HP adalah mengidentifikasi dan mengurangi atau menghentikan paparan terhadap pemicu. Pada bentuk nonfibrotik, menghindari antigen penyebab dapat membuat kondisi membaik. Namun, pada HP yang sudah menyebabkan fibrosis, kerusakan paru dapat menetap dan bahkan terus berkembang meskipun paparan telah dihentikan.

Dokter juga dapat memberikan obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan pada kondisi tertentu. Pada HP kronis dengan fibrosis progresif, terapi lain, termasuk obat antifibrotik, dapat dipertimbangkan oleh dokter spesialis paru sesuai kondisi pasien.

Karena itu, lingkungan tempat tinggal dan bekerja perlu menjadi bagian dari perhatian. Membersihkan sumber jamur, menjaga sistem ventilasi dan pendingin udara tetap bersih, mengendalikan kelembapan, serta menggunakan perlindungan yang sesuai ketika bekerja dengan debu atau bahan berisiko dapat membantu mengurangi paparan.

HP bukan sekadar alergi biasa. Jika paparan berulang terus memicu peradangan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kerusakan paru permanen. Batuk dan sesak yang terus berulang, terutama ketika berkaitan dengan lingkungan atau pekerjaan tertentu, sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Beri Komentar