Fakta di Balik Kemampuan Orang Bajo Melihat Lebih Jelas saat Berada di Bawah Air

Reporter : Abidah
Selasa, 25 Agustus 2026 08:00
Fakta di Balik Kemampuan Orang Bajo Melihat Lebih Jelas saat Berada di Bawah Air
Masyarakat suku Bajau atau masyarakat air nomaden memiliki kemampuan fisik berbeda saat di bawah laut karena adaptasi yang mereka lalui.

DREAM.CO.ID - Klaim tentang suku Bajo yang bisa melihat dengan jernih di bawah laut, seolah mata mereka sudah berevolusi khusus untuk kehidupan bawah air, sering beredar di berbagai artikel populer. Tapi begitu ditelusuri sumber ilmiahnya, ceritanya ternyata sedikit lebih rumit, dan justru lebih menarik dari sekadar " mata ajaib" .

Penelitian paling terkenal soal penglihatan bawah air pada masyarakat " manusia perahu" atau Sea Nomads sebenarnya dilakukan pada suku Moken di pesisir selatan Myanmar (Burma), bukan pada suku Bajau di Indonesia. Studi ini dipimpin peneliti bernama Anna Gislén dari Lund University, Swedia, yang meneliti kemampuan penglihatan bawah air anak-anak Moken.

Gislén menemukan bahwa anak-anak Moken memiliki kemampuan mengecilkan pupil mata mereka secara maksimal, sehingga mampu memfokuskan penglihatan pada objek-objek kecil di dalam air, kemampuan yang jauh melampaui kapasitas penglihatan bawah air anak-anak pada umumnya. Anak-anak Bajau di Filipina, yang belajar menyelam sejak usia dini dan mahir berburu ikan menggunakan tombak sejak usia sepuluh tahun, juga dikenal memiliki penglihatan bawah air yang sangat baik, meski riset formal soal kemampuan mata mereka secara spesifik lebih jarang dipublikasikan dibanding studi pada anak-anak Moken.

1 dari 3 halaman

Bukan Adaptasi Genetik, Melainkan Hasil Latihan

Inilah bagian yang paling sering disalahpahami: kemampuan penglihatan bawah air yang luar biasa ini pada awalnya diduga sebagai adaptasi genetik unik masyarakat Sea Nomads. Namun penelitian lanjutan menunjukkan hal sebaliknya. Kemampuan ini kemudian terbukti sebagai respons plastis hasil latihan lewat penyelaman berulang, dan bisa direplikasi pada kelompok anak-anak Eropa yang sama sekali tidak berasal dari komunitas pesisir.

Dengan kata lain, Gislén membuktikan bahwa semua anak, di mana pun mereka lahir, sebenarnya punya potensi untuk melihat dengan jelas di bawah air, tapi mereka harus berlatih selama berminggu-minggu untuk mengembangkan kemampuan itu. Anak-anak Bajau dan Moken tidak lahir dengan mata " super" secara genetik; mereka justru mengasah kemampuan itu sejak usia sangat dini karena kehidupan sehari-hari mereka memang menuntutnya, menyelam dan mencari ikan menjadi bagian rutin keseharian sejak masa kanak-kanak.

 

2 dari 3 halaman

Adaptasi Sungguhan Suku Bajau Justru Ada di Organ Lain

Meski penglihatan bawah air bukan hasil evolusi genetik, riset yang jauh lebih mengejutkan justru datang dari studi lain tentang suku Bajau: adaptasi genetik pada organ limpa mereka. Riset yang dipublikasikan di jurnal Cell pada 2018, dipimpin peneliti Melissa Ilardo yang saat itu menjadi kandidat postdoktoral di Centre for GeoGenetics, University of Copenhagen, menemukan bahwa suku Bajau memiliki limpa berukuran sekitar 50 persen lebih besar dibanding kelompok tetangga mereka yang tidak menyelam, yakni suku Saluan di Sulawesi Tengah, Indonesia.

Limpa berfungsi menyimpan sel darah merah beroksigen. Limpa yang lebih besar memungkinkan tubuh melepaskan lebih banyak sel darah merah ke dalam sirkulasi saat menyelam, menyediakan lebih banyak oksigen bagi fungsi tubuh dasar selama penyelaman berlangsung lama. Suku Bajau, yang dikenal sebagai pemburu ikan dengan tombak, secara rutin menyelam bebas hingga kedalaman sekitar 70 meter, hanya berbekal pemberat dan kacamata kayu tradisional. Mereka menghabiskan hingga 60 persen hari kerja mereka menyelam mencari ikan, gurita, dan kerang-kerangan, dan bisa bertahan di bawah air hingga 13 menit dalam sekali menyelam.

Riset genetik lanjutan bahkan menemukan bahwa seleksi alam pada varian gen bernama PDE10A telah meningkatkan ukuran limpa suku Bajau, memberi mereka cadangan sel darah merah beroksigen yang lebih besar. Peneliti juga menemukan bukti seleksi kuat khusus pada suku Bajau terkait gen BDKRB2, gen yang memengaruhi refleks menyelam manusia (diving reflex), respons otomatis tubuh berupa penurunan detak jantung, penyempitan pembuluh darah, dan kontraksi limpa saat wajah terendam air.

Rasmus Nielsen, profesor biologi integratif di University of California, Berkeley, menyebut perubahan fisik dan genetik yang memungkinkan suku Bajau menyelam lebih lama dan lebih dalam sebagai contoh lain dari luar biasanya variasi adaptasi manusia terhadap lingkungan ekstrem, dalam kasus ini lingkungan dengan kadar oksigen rendah. Menurutnya, contoh semacam ini bisa menjadi kunci untuk memahami fisiologi dan genetika manusia secara lebih luas.

3 dari 3 halaman

Meluruskan Mitos, Tanpa Mengecilkan Keistimewaannya

Jadi, benarkah suku Bajo bisa melihat lebih jelas di bawah air? Jawabannya iya, tapi bukan karena mata mereka berevolusi secara genetik khusus untuk itu. Kemampuan itu adalah hasil latihan intensif sejak usia dini, sesuatu yang secara teori bisa dikuasai siapa pun dengan latihan yang cukup, sebagaimana dibuktikan pada anak-anak Eropa dalam penelitian Gislén. Yang benar-benar unik secara genetik dari suku Bajau justru bukan mata mereka, melainkan limpa mereka, organ yang berevolusi lewat seleksi alam selama ratusan bahkan ribuan tahun untuk mendukung gaya hidup menyelam bebas yang ekstrem.

Kisah ini pada akhirnya menunjukkan sesuatu yang lebih menarik dari sekadar mitos " mata super" : tubuh manusia, lewat kombinasi latihan sejak kecil dan adaptasi genetik yang terukir dalam DNA selama generasi, mampu menyesuaikan diri dengan cara-cara yang jauh lebih kompleks dan mengejutkan dibanding yang dibayangkan kebanyakan orang.

Beri Komentar