© Gemini Generated Image
DREAM.CO.ID - Ketika seseorang mencoret tembok fasilitas umum, merusak bangku taman, memecahkan lampu jalan, atau menghancurkan benda milik orang lain tanpa alasan yang sah, kita lazim menyebut tindakan itu sebagai vandalisme. Istilah tersebut terdengar begitu umum dalam kehidupan sehari-hari sehingga jarang ada yang mempertanyakan dari mana asalnya.
Padahal, kata “ vandalisme” memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang dan berhubungan dengan sebuah kelompok masyarakat yang hidup di Eropa dan Afrika Utara sekitar 1.500 tahun lalu: Suku Vandal. Ironisnya, reputasi mereka sebagai kelompok yang gemar menghancurkan justru menjadi dasar lahirnya istilah modern tersebut, meskipun sejarah menunjukkan bahwa gambaran tentang orang-orang Vandal tidak sesederhana itu.
Suku Vandal merupakan salah satu kelompok bangsa Jermanik yang hidup di Eropa pada masa Kekaisaran Romawi. Catatan sejarah menempatkan mereka di kawasan Eropa tengah dan utara sebelum kemudian berpindah ke wilayah yang lebih barat dan selatan. Pada awal abad ke-5, mereka bergerak melintasi Gaul, memasuki Semenanjung Iberia, kemudian menyeberangi Selat Gibraltar menuju Afrika Utara pada 429 M.
Di bawah kepemimpinan Raja Geiseric, Vandal berhasil menguasai Carthage pada 439 M dan membangun kerajaan yang berpusat di Afrika Utara. Kekuasaan mereka bahkan bertahan selama sekitar satu abad sebelum akhirnya ditaklukkan Kekaisaran Romawi Timur pada 534 M.
Nama Vandal kemudian semakin melekat dalam sejarah Romawi karena sebuah peristiwa pada 455 M. Pada tahun itu, pasukan Vandal yang dipimpin Geiseric bergerak menuju Roma. Kota tersebut mengalami penjarahan selama sekitar dua pekan. Peristiwa itu meninggalkan kesan yang sangat kuat dalam tulisan-tulisan sejarah Eropa setelahnya.
Dalam perkembangan berikutnya, orang-orang Vandal semakin sering digambarkan sebagai bangsa barbar yang merusak peradaban Romawi. Padahal, mereka bukan satu-satunya kelompok yang menyerang dan menjarah wilayah Romawi pada masa tersebut. Bangsa Goth dan berbagai kelompok lain juga terlibat dalam konflik serta penjarahan selama periode yang kemudian dikenal sebagai masa migrasi bangsa-bangsa di Eropa. Bahkan, sejumlah sejarawan modern menilai reputasi Vandal sebagai penghancur yang luar biasa lebih merupakan hasil pembentukan citra historis daripada gambaran objektif tentang seluruh masyarakat Vandal.
Dari sinilah cerita mengenai “ vandalisme” mulai menemukan jalannya. Selama berabad-abad setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat, nama Vandal semakin sering digunakan sebagai gambaran tentang kebiadaban dan penghancuran. Pada abad ke-17 dan ke-18, para penulis Eropa telah menggunakan istilah “ Vandal” secara kiasan untuk menyebut orang yang dianggap merusak karya seni atau sesuatu yang bernilai. Merriam-Webster mencatat bahwa penggunaan kata vandal dalam pengertian historis muncul dalam bahasa Inggris sejak abad ke-16, sedangkan penggunaan kiasannya untuk menyebut perusak mulai berkembang kemudian.
Istilah “ vandalisme” dalam pengertian modern kemudian muncul di tengah gejolak Revolusi Prancis. Pada 1794, seorang rohaniwan dan tokoh politik Prancis bernama Henri Grégoire, yang dikenal sebagai Uskup Blois, menggunakan istilah vandalisme untuk mengecam tindakan penghancuran karya seni dan monumen yang berlangsung dalam kekacauan revolusi. Grégoire melihat adanya ancaman terhadap warisan budaya Prancis dan menggunakan reputasi bangsa Vandal sebagai perumpamaan bagi tindakan tersebut. Istilah vandalisme kemudian menyebar dan digunakan dalam berbagai bahasa Eropa.
Menariknya, hubungan antara Suku Vandal dan perilaku merusak ternyata tidak sepenuhnya adil secara historis. Penjarahan Roma pada 455 M memang terjadi dan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Vandal. Namun, tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa bangsa Vandal secara khusus memiliki kegemaran menghancurkan segala sesuatu yang mereka temui.
Kajian sejarah modern justru memperlihatkan bahwa kerajaan Vandal di Afrika Utara juga memiliki kehidupan politik, ekonomi, budaya, dan hubungan yang kompleks dengan masyarakat Romawi. Para penguasa Vandal tidak sekadar hidup dengan menghancurkan peninggalan peradaban yang mereka taklukkan.
Reputasi buruk tersebut sebagian juga terbentuk karena siapa yang menulis sejarah. Banyak sumber mengenai Vandal berasal dari penulis yang berada di pihak lawan mereka, termasuk penulis Romawi dan Kristen yang memiliki konflik politik maupun keagamaan dengan penguasa Vandal.
Dalam konteks tersebut, gambaran tentang Vandal sebagai bangsa barbar menjadi semakin kuat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sejarawan modern kemudian berusaha melihat mereka bukan hanya sebagai “ perusak Roma”, tetapi sebagai salah satu masyarakat yang ikut membentuk dunia Eropa dan Mediterania pada masa transisi dari zaman kuno menuju Abad Pertengahan.
Itulah sebabnya ketika istilah vandalisme digunakan untuk menyebut tindakan merusak fasilitas umum hari ini, sebenarnya kita sedang menggunakan warisan bahasa dari sebuah perdebatan sejarah yang berlangsung lebih dari seribu tahun. Suku Vandal memang pernah menjarah Roma pada 455 M, tetapi citra mereka sebagai bangsa yang identik dengan penghancuran merupakan hasil proses sejarah yang jauh lebih panjang. Dari nama sebuah bangsa Jermanik, kemudian menjadi metafora bagi “ perusak”, hingga akhirnya menjadi istilah untuk tindakan merusak properti atau benda bernilai, perjalanan kata vandalisme memperlihatkan bagaimana sejarah dapat meninggalkan jejak bukan hanya dalam buku, tetapi juga dalam kosakata yang kita gunakan setiap hari.
Advertisement

Sering Dikira Makanan Sehat, Sejumlah Makanan dan Minuman Ini Ternyata Makanan Olahan

Apa Sebenarnya Wangi Musk? Mengapa Aroma Ini Tengah Digemari?

Vrindavan di Mulut Netizen, Bharat di Konstitusi: Dua Cara Berbeda Menyebut Negeri India

Pentingnya Menunjukkan kepada Anak seperti Apa Pekerjaan Orang Tua

Benarkah Setiap Kopi Hitam Memiliki Kandungan Kafein Berbeda-beda? Ini Alasannya

Cara Mendidik Anak agar Menjadi Pekerja Keras dan Tidak Mudah Menyerah

Mengenal Hypersensitivity Pneumonitis, Radang Paru-Paru akibat Paparan Debu dan Jamur