Perjuangan Make Up Artist Difabel Bisa Raih Pujian Klien

Reporter : Mutia Nugraheni
Sabtu, 15 Februari 2020 12:15
Perjuangan Make Up Artist Difabel Bisa Raih Pujian Klien
Simak cerita untuk meraih impiannya menjadi make up artist profesional.

Dream - Saat ini, industri kecantikan semakin banyak dijadikan pilihan oleh masyarakat untuk mata pencaharian, khususnya makeup artist atau MUA.

Nivea sebagai salah satu brand kecantikan, kembali membuka peluang untuk para MUA yang ingin memperluas jenjang karirnya, dengan mengggelar #XPERTSQUAD Searching untuk regional Jawa Barat, yang sebelumnya sudah digelar di 9 provinsi lain.

Peserta #XPERTSQUAD yang terpilih akan bekerja sama menjadi tim Bubah Alfian, yang merupakan salah satu MUA ternama di Indonesia. Kompetisi tersebut diadakan di Bandung, Jawa Barat pada Jumat 14 Februari 2020. Sebanyak 50 MUA asal Jawa Barat berpartisipasi dengan tema " Red Carpet Look" .

Salah satu peserta, Bonita Hana, merupakan makeup artist asal Bandung yang mengidap osteogenesis atau kelainan tulang genetik. Kondisi ini membuat tulangnya rentan atau mudah patah, sehingga ia tidak bisa berdiri lama dan harus menggunakan kursi roda untuk bekerja.

" Sebenernya suka makeup dari kelas 4 sd, cuma baru ditekunin jadi profesi sejak 2018 lalu," ucap Hana.

 

1 dari 4 halaman

Orangtua Tunggal

Ia mengaku menjadi makeup artist merupakan pilihan yang harus ia lakukan, karena kondisinya yang merupakan ibu tunggal. Hana harus jadi tulang punggung keluarga.

" Aku langsung ikut pelatihan kursus pelatihan pengantin muslim, dari situ ikut seminar sana-sini," ujar perempuan 34 tahun tersebut.

Hana mengaku ia selalu mengikuti pelatihan dan lomba makeup di Bandung untuk memperluas pengalamannya dan ilmunya. Menurutnya dengan mengikuti banyak lomba, ia bisa mendapat pelanggan, serta menjalin relasi dengan sesama MUA.

" Alhamdulillah sekarang udah jadi instruktur juga, udah dapet sertifikatnya dan jadi pengurus salah satu organisasi rias pengantin," ucap Hana.

Ia juga merupakan anggota LPDI (Lembaga Persatuan Difabel Indonesia), yang saat ini memiliki program belajar makeup khusus untuk orang-orang difabel.

 

2 dari 4 halaman

Jadi Pengajar Make Up

Hana juga mengajar rias untuk para difabel. Ia mengungkap kalau memang banyak sekali tantangan.

" Banyak kesulitannya yah, kalo misalkan yang difabel dalam komunitas kita itu bukan cuma tidak bisa jalan, tetapi ada yang tidak bisa mendengar," ujar Hana.

Cara pengajarannya pun harus dengan komunikasi yang lebih personal. Empati merupakan modalnya untuk mengajar sesama difabel.

" Kalau sesama difabel mungkin empatinya lebih kerasa gitu, mungkin semacam dijadikan motivasi oleh mereka, 'oh dia aja bisa kenapa aku engga', begitu mikirnya," kata Hana.

Menurutnya kaum difabel harus mampu mengembangkan diri. Hal ini agar bisa hidup dengan mandiri dan bermanfaat bagi banyak orang.

" Kita kan sebagai kaum difabel juga harus mandiri, jangan sampai hanya berpangku tangan dan diberi belas kasihan begitu," ucap Hana.

3 dari 4 halaman

Sempat Dilarang

Ia sempat dilarang oleh keluarganya tetapi hal itu tidak membuat Hana menyerah dan pasrah. Ia berusaha meyakinkan dan membuktikan pada orang tuanya bahwa ia bisa hidup mandiri dan melalukan pekerjaan layaknya orang lain.

 Bonita Hana© Dream

" Akhirnya makin ke sini, melihat hasilnya, melihat karyanya, keluarga makin kesini makin percaya sama aku gitu," ujar Hana.

 

4 dari 4 halaman

Klien Merasa Kagum

Selama ini masyarakat difabel selalu menutup diri karena merasa punya kekurangan. Hana bersyukur bisa menunjukkan bakatnya dan memberi motivasi khususnya kepada kawan-kawan difabel.

" Client waktu liat aku begini ya nanya bisa atau engga, tapi setelah liat hasilnya mereka interest dan kagum," ucap Hana.

Hana menegaskan semua kalangan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kesuksesan. Bonita Hana bisa jadi contoh dari sekian banyak cerita masyarakat difabel yang berhasil mengejar mimpinya.

(Laporan: Raissa Anjanique Nathania)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam