Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur

Reporter : Iwan Tantomi
Jumat, 4 Desember 2020 07:31
Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur
Ini dia salah satu rempah primadona dari tanah air, lho!

Apa yang ada di benakmu tentang lada? Rupanya, bukan hanya lada putih, tetapi juga ada yang namanya lada hitam. Pamor dua rempah asal Sulewesi Selatan ini bahkan tak main-main. Sempat dipamerkan di Jeddah pada 2018, lada putih dan lada hitam jadi sorotan.

Rempah-rempah spesial ini pun banyak ditemukan di Kabupaten Luwu Timur. Bahkan, kabupaten tersebut menjadi salah satu sentra lada terbesar di Sulawesi Selatan. Tak heran jika lada menjadi komoditas primadona sekaligus unggulan, di samping Kakao dan Kelapa Sawit, karena mampu menopang perekonomian masyarakat setempat.

1 dari 4 halaman

Munculnya Demam Merica di Luwu Timur

Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur© Shutterstock

Menariknya, Luwu Timur pernah dilanda demam merica. Harga lada yang menggiurkan, membuat masyarakat akhirnya berlomba-lomba menanam tanaman bumbu yang bisa menghangatkan tubuh tersebut. Tak heran jika masyarakat pun berbondong-bondong melakukan alih fungsi lahan untuk menanam lada di Luwu Timur. Sebab, dengan budidaya lada, kesejahteraan petani di Luwu Timur memang mengalami peningkatan.

2 dari 4 halaman

Menjadikan Luwu Timur Perhatian Para Eksportir

Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur© Shutterstock

Banyaknya petani lada di Luwu Timur akhirnya membuat produksi lada di sana meningkat pesat. Bahkan, sampai membuat Sulawesi Selatan sebagai provinsi di urutan ke-6 setelah Lampung, Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.

Hal ini kemudian, membuat Luwu Timur menjadi perhatian para eksportir. Terlebih Luwu Timur bersama Sinjai, dipilih sebagai kabupaten untuk pengembangan kawasan lada nasional di Sulawesi Selatan berdasarkan Kepmentan Nomor 830 tahun 2016.

3 dari 4 halaman

Keunggulan Lada Asal Luwu Timur

Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur© Shutterstock

Berbeda dengan lada dari daerah lain di Indonesia, Luwu Timur memiliki varietas unggul lada lokal bernama Malonan. Varietas lada lokal tersebut memiliki keunggulan bertahan dari penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). Itulah kenapa, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah pada 2017, Agus Wahyudi menyebutkan jika Lada Luwu Timur adalah lada masa depan Indonesia.

4 dari 4 halaman

Strategi Menjadikan Lada di Luwu Timur Magnet Turis Luar Negeri

Spesialnya Lada Putih dan Hitam dari Luwu Timur© Shutterstock

Lada Malonan Luwu Timur punya citarasa khas lebih pedas, karena kandungan peperin yang lebih tinggi, dibandingkan lada dari daerah lain. Untuk melindungi keaslian dan kekhasan produk lada asal Luwu Timur ini, diperlukan strategi khusus. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan dengan melakukan Sertifikasi Indikasi Geografis Lada Luwu Timur. Selain untuk mempertahankan keaslian lada di sana, langkah ini juga untuk meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman lada di Luwu Timur.

Bukan itu saja, diperlukan juga upaya pelestarian rempah-rempah ini, agar lebih mudah menjadi magnet turis luar negeri. Salah satunya dengan menghidupkan kembali Jalur Rempah. Hal inilah yang tengah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia.

Kemendikbud menggagas sebuah program inspiratif bernama Jalur Rempah untuk mengingat kembali identitas Indonesia sebagai bangsa penghasil rempah terbesar di dunia. program tersebut dibuat untuk merekonstruksi perdagangan rempah yang telah berlangsung sejak berabad-abad silam.

Selain itu, dengan adanya program Jalur Rempah ini diharapkan dapat menjadi platform untuk menumbuhkan kebanggaan akan jati diri daerah di Indonesia, dan memperkuat jejaring interaksi budaya antar daerah, pulau dan bangsa. Program tersebut juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan warisan budaya Jalur Rempah untuk pembangunan berkelanjutan.

Kerennya, Kemendikbud akan mengajukan program Jalur Rempah kepada UNESCO agar bisa menjadi warisan dunia. Hal ini secara tak langsung dapat memperkuat diplomasi Indonesia, sekaligus meneguhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia, apabila program Jalur Rempah sukses mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan dunia.

Setidaknya, saat ini ada 20 titik awal rekonstruksi Jalur Rempah yang tersebar dari Raja Ampat hingga Pesisir Selatan (Mandeh). Penasaran sama program Jalur Rempah ini? Gali info selengkapnya di sini.

Beri Komentar