Masakan Gurih/ Foto: Shutterstock
Dream - Bumbu penyedap rasa dalam kemasan yang mengandung MSG atau monosodium glutamate, memang bisa membuat hidangan jadi lebih nikmat. Bagi sebagian orang, terutama yang memiliki masalah kesehatan, penggunaan MSG kerap dihindari.
Termasuk juga mereka yang sangat ekstra dalam menjaga asupan makanannya. Penggunaan MSG secara berlebihan dipercaya bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan di kemudian hari.
Bagi Sahabat Dream yang mulai mengurangi penggunaan MSG, sebenarnya ada banyak sumber rasa gurih lain yang bisa diandalkan. Bisa jadi alternatif bahan masakan yang lebih sehat. Apa saja?
1. Kaldu Daging
Untuk mendapatkan rasa terbaik, buatlah kaldu sendiri dengan memasak tulang, daging dan berbagai rempah sesuai selera dalam panci. Kaldu daging dapat meningkatkan cita rasa umami dalam makanan.
Air rebusan daging rasanya mirip dengan MSG.Hal ini dikarenakan keduanya mengandung kadar glutamate yang tinggi, yakni suatu asam amino yang ditemukan dalam protein daging. Semakin masak kaldu tersebut, semakin tinggi konsentrasi glutamate di dalamnya.
2. Kecap
Kecap yang mengandung garam serta kaya akan glutamate masuk ke dalam daftar bumbu yang terkenal di dunia kuliner Asia. Kecap ini telah melewati proses fermentasi sehingga memiliki kandungan glutamate alami. Karena itu, kecap dapat menjadi alternatif penyedap rasa alami yang lezat dan praktis untuk menambah cita rasa masakan.
3. Ikan teri

Salah satu ikan dengan kadar glutamate tinggi dan mudah ditemukan adalah teri. Ketika ditambahkan ke berbagai saus, pasta, dan masakan lainnya, kita bisa mendapatkan cita rasa umami yang menggiurkan. Apabila tidak menyukai rasa ikan, tenang saja karena rasanya tidak dapat terdeteksi setelah diolah dalam masakan.
4. Jamur Shitake

Jamur ini memiliki konsentrasi glutamate yang tinggi, dan sering kali ditambahkan ke dalam lauk. Salah satu makanan yang dapat ditambahkan jamur shitake adalah bakmi! Cobalah kombinasi yang lezat ini untuk makan siang.
Selengkapnya baca KlikDokter.
Dream ─ Bagi masyarakat Indonesia, rempah jadi bumbu penting dalam memasak. Jahe, lengkuas, daun salam, temu kunci dan masih banyak lagi. Ada satu rempah yang sangat terkenal di dunia karena harganya sangat mahal yaitu Saffron.
Rempah ini memang tak digunakan di hidangan Indonesia, tapi lebih banyak di menu Timur Tengah dan Eropa. Menurut sejarah, bunga Saffron pertama kali ditemukan di sekitar laut mediterania dan diolah pulau-pulau barat daya Yunani.

Biasanya Saffron digunakan untuk membuat menu kari ayam, risotto, dan paella. Warna kuningnya bisa membuat hidangan tampak cantik dan tentunya kaya rasa. Ada yang menyebut Saffron lebih berharga daripada kaviar, truffle, atau makanan mewah lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa saffron lebih mahal dari emas.
Proses pertumbuhan juga kesulitan panen merupakan salah satu faktornya. Hanya ada terdapat sebagian kecil kepala putik di setiap bunga Saffron, yaitu Crocus Sativus. Bagian kecil itulah yang dijadikan rempah untuk memasak.

Dibutuhkan sekitar 75 ribu bunga untuk dapatkan satu pon saffron atau hanya menghasilkan sekitar 453 gram. Proses panen bunga saffron juga cukup sulit. Pasalnya bunga yang sangat halus itu hanya memiliki satu cara mengambil kepala putiknya, yaitu dengan tangan.
Selain itu jika tak segera dilakukan pemetikan setelah bunga mekar, maka akan layu dan tak dapat digunakan. Memakan waktu sekitar 470 jam sendiri untuk memanen satu pon.
Kebun Saffron juga harus dipikirkan secara matang. Bunga saffron tak mudah untuk tumbuh, karena memerlukan suhu khusus untuk itu. Bunga tak bisa terkena banyak sinar matahari, tidak bisa diberi banyak air, tidak tumbuh dalam cuaca dingin. Selain itu pemetikan harus dilakukan setelah matahari terbit agar tak rusak terkena matahari siang.

Saat ini tanaman saffron mudah ditemukan di Iran, India, Spanyol, dan Yunani. Saffron terbaik dan termahal di dunia dapat kamu temukan di India, tepatnya di daerah Kashmir. Saffron tersebut dijual seharga lebih dari $1.500 per pon atau setara Rp21,4 Juta. Merupakan harga yang fantastis untuk sedikit rempah.
Laporan Abinsha Nurmaulida/ Sumber: Reader's Digest