Krisis keuangan global membawa berkah negara-negara muslim. Praktik ekonomi pasar yang serba spekulatif membuat ekonomi syariah mendapat tempat di tengah pencarian sistem ekonomi yang lebih baik. Ambisi mengaplikasikan ekonomi syariah dalam perekonomian global makin tak terbendung.
Namun ada satu kendala yang musti diselesaikan. Banyak buku rujukan keuangan dan perbankan Islam yang masih dalam Bahasa Inggris. Mohammad Azmi Omar, Dirjen Islamic Research & Training Institute (IRTI) yang berbasis di Jedah, Arab Saudi mengaku sedang menyiapkan langkah awal.
Seperti dikutip Arab News, Azmi akan membuat project menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam Bahasa Arab. “ Ini akan membumikan ekonomi syariah,” katanya. IRTI bersama akademi ilmu pengetahuan dan teknologi dari Alexandria melihat dengan penerjemahan tersebut, pemikiran dan dasar teori ekonomi syariah akan semakin dekat dengan aplikasinya, khususnya di negara Arab.
Menurut Azmi, krisis ekonomi dunia harus diakui telah membangun popularitas perbankan syariah di kancah internasional. Bahkan perkembangan sistem syariah tumbuh meluas. Sebab bank syariah hanya membiayai proyek produktif yang bisa membangun ekonomi. “ Bukan yang bersinggungan dengan bisnis spekulatif dan tidak etis," dia memberi alasan.
Diakui Azmi, sampai kini masih banyak negara yang ragu menerapkan sistem ekonomi syariah. Hal ini terjadi karena minimnya pengetahuan mengenai sistem, keuntungan, dan bagaimana fungsi ekonomi syariah bekerja.
Lihat saja data terbaru World Islamic Banking Competitivenes Report 2013 yang dikeluarkan Ernst & Young. Disana terungkap aset bank syariah di dunia melonjak dari US$ 1,3 triliun menjadi US$ 1,8 triliun sejak 2011. Industri perbankan syariah dunia juga terus mencetak rekor pertumbuhan. Sebanyak 20 bank syariah top dunia mencetak pertumbuhan 16 persen disaat bank-bank konvensional hanya merasakan 13,8 persen, dalam tiga tahun terakhir.
Advertisement