Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pasar asuransi syariah (Takaful) dunia tumbuh mengesankan dengan kenaikan dua digit dari 18 persen selama periode 2007-2012. Namun di balik prestasi itu, industri asuransi dengan prinsip Islami ini menyimpan persoalan cukup serius.
Deloitte Timur Tengah dan IRTI-IDB Group menemukan, industri takaful dunia masih menghadapi tantangan inkonsistensi dan interpretasi, yang saling bertentangan di seluruh wilayah hukum negara-negara pendukungnya.
Menurut Joe El Fadl, partner di Industri Jasa Keuangan Deloitte Middle East mengatakan, upaya memperkuat kerangka peraturan industri asuransi syariah membutuhkan usaha serius dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan industri.
Di enam pasar utama industri Takaful yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Malaysia, Indonesia dan Pakistan, laporan Deloitte menemukan adanya kesenjangan praktik dan penawaran produk Takaful.
Di antara temuannya itu, Deloitte menyebut adanya kekurangan penawaran dan keragaman produk asuransi syariah. Alhasil, bisnis asuransi syariah bergerak jauh di bawah penetrasi yang ditargetkan di enam negara itu.
" Agar industri asuransi syariah mampu membuat dampak di pasar global dan bersaing head-to-head dengan industri besar sejenis, perusahaan-perusahaan asuransi syariah perlu bergerak melampaui wilayah produk keluarga ke produk yang tumbuh secara riil seperti logistik dan penerbangan," kata Daud Vicary Abdullah, Presiden dan CEO INCEIF - The Global University of Islamic Finance seperti dikutip dari laman Zawya, Senin, 8 Desember 2014.
John Board, Rektor Henley Business School di Inggris bahkan yakin industri keuangan syariah bisa menjadi pemimpin industri asurans dan tumbuh menjadi sesuatu yang luar biasa. " Laporan ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan umum untuk meningkatkan kesadaran dan kebutuhan asuransi pribadi," katanya.
Selain enam pasar utama di Timur Tengah dan Asia Tenggara, Deliotte melihat Afrika sebagai ceruk pasar yang sedang berkembang, khususnya Kenya, Nigeria dan Tunisia. Di tiga negara ini, industri asuransi syariah masih dalam tahap awal.
" Industri asuransi syariah siap meluas di luar pasar tradisional seperti Malaysia dan negara Teluk. Potensi bisnis signifikan yang belum dimanfaatkan ada di Indonesia, Turki, Nigeria, Mesir, negara-negara Afrika Utara dan Eropa (Inggris, Perancis dan Jerman)," kata Sohail Jaffer, Deputi CEO FWU Group. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya