Bank Syariah RI Ketinggalan dari Malaysia, Ini Masalahnya

Reporter : Ratih Wulan
Jumat, 26 Februari 2016 08:47
Bank Syariah RI Ketinggalan dari Malaysia, Ini Masalahnya
"Semoga makin membaik. Bank Syariah sangat terkait sektor riil. Kalau riil membaik, market share juga akan makin besar,"

Dream - Pasang surut industri perbankan syariah menimbulkan keprihatinan sejumlah lembaga keuangan nasional. Terlebih saat pertumbuhannya mengalami penurunan pada pertengahan tahun lalu.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mulya E Siregar mengakui pangsa pasar bank syariah tahun lalu memang mengalami penurunan di level 4,67 persen dibandingkan akhir 2014 yang bertengger di angka 4,89 persen.

Namun, kondisi ini kembali membaik pada akhir 2015 dimana trennya kembali meningkat hingga 4,87 persen. Ke depan, Mulya berharap agar kondisi ini terus diperbaiki mengingat sektor riil juga sudah semakin mengalami kemajuan.

" Semoga makin membaik. Bank Syariah sangat terkait sektor riil. Kalau riil membaik, market share juga akan makin besar," tutur Mulya di gedung OJK Jakarta Pusat, Kamis, 25 Februari 2016.

Demi mewujudkan mimpi besar menembus angka lima persen, Mulya menekankan pelayanan terbaik (service excelent) menjadi kunci utama. Ia juga semakin optimis dengan kelengkapan produk dan jasa yang dimiliki Bank Syariah.

Diakui Mulya, bisnis keuangan Indonesia memang masih tertinggal jauh dari Malaysia. Saat ini negeri jiran itu sudah mencatat maret share industri keuangan syariah sebesar 20 persen. Namun, Mulya menjelaskan Indonesia belum dapat mengejar ketertingalan karena memang baru dimulai pada 1992. Sedangkan pesaingnya, sudah mulai bergerak di bidang ini sejak 1983.

" Kan industri ini baru, waktu itu Bank Muamalat mulai 1992, dan baru 1998 punya landasan hukum. Tidak mudah lompat. Malaysia itu top down, sedangkan Indonesia bottom up," ungkapnya menambahkan.

Mulya justru berharap kehadiran Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuai Presiden Joko Widodo akan menjadi angin segar bagi indutri keuangan syariah. Lembaga ini diharapkan bisa merangkai strategi baru, dengan kombinasi kebijakan bottom up dan top down.

Tugas lembaga terkait saat in iadalah menggenjot aktivitas sosialisasi keuangan syariah yang lebih luas. Hal itu dapat diatasi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) di industri syariah. Mulya bahkan menyarangkan sejumlah Perguruan Tinggi (PT) untuk membentuk program studi syariah di lembahanya.

Sedangkan di bidang lainnya, sangat penting untuk memperhatikan skala usaha. Kemudian perlu diperhatiakan juga mengenai layanan IT yang harus semakin diperbagus pelayanannya.

" Produk juga harus makin variatif. Lalu sinergi regulator. Dengan KNKS semoga bisa teratasi. Misalkan pajak deposito mudharabah. Terakhir penyempurnaan pengawasan. OJK ingin industri jadi mitra. Ada aturan yang bisa disesuaikan tanpa longgarkan kehati-hatian," pungkasnya.

Beri Komentar