Dream - Keputusan Tiongkok mendevaluasi mata uang yuan menghantam bursa saham dunia. Indeks saham acuan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan jatuh berguguran.
Kondisi semakin berat setelah rupiah semakin terpuruk ke level terendahnya. Rupiah bahkan sempat menyentuh level 15.600 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ambruk 4,235 poin (2,61%) ke level 146,661.
ISSI sebetulnya membuka perdagangan di jalur hijau usai menguat 0,344 poin ke level 151,240. Bahkan ISSI sempat terus menanjak dan menyentuh level tertingginya di 151,628.
Serangan aksi jual yang dilakuka investor membuyarkan pembukaan positif. Pelan namun pasti, ISSI terus tersungkur ke zona merah. Hingga akhirnya, ISSI menutup perdagangan di level terendah 146,661.
Kecemasan investor terhadap kondisi regional memaksa 159 emiten syariah ditutup melemah. Sisanya, 45 emiten syariah masih diburu investor dan 47 lainnya bertahan stagnan.
Transaksi perdagangan saham syariah bernilai Rp 2,79 triliun dengan 41,21 miliar saham yang berpindahtangan.
Kondisi lebih buruk didera indeks Jakarta Islamic Index (JII). Jatuhnya seluruh harga saham-saham bluechips syariah membuat JII rontok 21,081 poin (3,35%) ke level 607,752.
Padahal JII membuka perdagangan dengan menguat ke level 630,708. Bahkan sempat menguat ke level 632,349.
Tekanan besar memang tengah melanda pasar modal Indonesia. Kombinasi pelemahan rupiah dan kabar mengejutkan yuan memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 126,358 poin (2,66%) ke level 4.622,591.
Lantai bursa kali ini menghimpun dana investor hingga Rp 4,41 triliun dengan 53,82 saham berpindahtangan.
Investor lokal tampaknya cukup khawatir dengan aksi jual asing yang melonjak tajam. Sore ini asing menarik dananya hingga Rp 585 miliar, naik dari sehari sebelumnya Rp 114 miliar.
Dari pasar keuangan, rupiah benar-benar tak berdaya. Meski menguat dari posisi terendahnya, rupiah sore ini melemah 56 poin (0,41%) menjadi 13.584 per dolar AS.