Cara `Belanja Cerdas` Saat Hari Raya

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 29 Juli 2014 18:08
Cara `Belanja Cerdas` Saat Hari Raya
Belanja cerdas sangat bermanfaat di bulan Ramadan ketika konsumen ditantang oleh meningkatnya kebutuhan.

Dream - Belanja cerdas dapat mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Sejumlah ekonom menekankan pentingnya memperkenalkan konsep belanja cerdas

Belanja cerdas sangat bermanfaat di bulan Ramadan ketika konsumen ditantang oleh meningkatnya kebutuhan. Apalagi keluarga muslim harus menghadapi Idul Fitri, tahun ajaran baru di sekolah dan Idul Adha. Banyak yang mengatakan pada akhirnya keluarga muslim memiliki banyak utang pada akhir periode itu.

Belanja cerdas dapat membantu konsumen mengurangi biaya dengan melakukan perencanaan pengeluaran yang cermat. Turki Fadaq, direktur penelitian dan penasihat perusahaan Al-Bilad, menegaskan pentingnya mengatur pengeluaran.

Dia mengatakan, kesadaran belanja secara cerdas bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. " Beberapa orang dalam masyarakat sudah memiliki rencana menjelang periode di atas, melakukan pembelian sebelum harga naik dan memanfaatkan diskon yang diberikan," tambah Fadaq.

Dia menekankan perlunya konsumen untuk membatasi diri pada apa yang mereka butuhkan dan bukan apa yang mereka sukai. Fadaq mengatakan, perusahaan selalu memainkan emosi konsumen. Alasannya, karena mereka tahu banyak pembeli terjebak oleh iklan dan membeli produk atau jasa, karena hubungan emosional dengan iklan dan bukan pada kebutuhan.

Fadaq menjelaskan, pedagang mencoba untuk mengambil keuntungan dari masa-masa penting seperti Ramadan, Idul Fitri atau tahun ajaran baru dengan harapan meningkatkan penjualan. Betapa pentingnya pendidikan tentang belanja secara cerdas. Bila perlu konsep belanja cerdas masuk dalam sistem pendidikan di semua level.

Sementara ekonom Fadel Al-Buainain mengatakan bahwa perilaku konsumen berasal dari dua poin utama: konsumsi dan waktu pembelian. Untuk Arab Saudi, masyarakat di sana adalah masyarakat konsumen. " Sebagian besar karyawan pemerintah berada dalam keadaan konstan, yakni defisit keuangan. Mereka gagal untuk mengatur pengeluaran mereka," katanya.

Lebih jauh, Al-Buainain menjelaskan konsumerisme menjadi jelas dalam bentuk pembelian yang berlebihan. " Sampai dengan 70 persen dari pembelian adalah hasil dari konsumerisme dan ini adalah masalah utama yang dihadapi rumah tangga," tambahnya.

Al-Buainain menyebut konsumerisme berasal dari budaya yang tidak memahami pentingnya menabung. Dia menyarankan pembeli untuk tidak menunda pembelian Idul Fitri sampai menit terakhir. " Jalan menjadi ramai dan harga naik saat keluarga menghadapi situasi fisiologis yang sulit," katanya.

Ia mencontohkan konsumsi dan indeks tabungan di dunia Barat. " Setiap kali indeks tabungan naik, negara-negara akan bersiap untuk menuju ekonomi yang lebih baik," katanya. " Kecuali pengusaha, indeks tabungan warga Saudi mendekati nol dan buktinya adalah bahwa karyawan bergantung pada keluarga mereka ketika mereka ingin membeli mobil." (Ism, Sumber: Arab News)

Beri Komentar