Kaya (2): Chairul Tanjung, Buah Perjuangan 'Anak Singkong'

Reporter : Sandy Mahaputra
Senin, 15 Desember 2014 18:29
Kaya (2): Chairul Tanjung, Buah Perjuangan 'Anak Singkong'
Besar di tepi rel kereta api. Memulai peruntungan dari ruang kosong di tangga kampus. Bisnisnya kini merangsek kemana-mana.

Dream - Di balik tumpukan kardus bekas dan puluhan karung limbah botol plastik, belasan bocah ingusan bergerombol, asyik bermain.  Mereka berlarian di pinggiran rel kereta Kemayoran, Jakarta Pusat, yang berjarak sekitar tiga meter dari tumpukan kardus tempat mereka berdiri.

Terik matahari tak membuat mereka menepi kepanasan. Permainan sejatinya baru saja akan dimulai, ketika satu per satu merangsek mendekat ke rel. Sejumlah paku yang mereka bawa ditabur di situ.

Selang beberapa menit, klakson kereta api menyalak dari sisi sebelah kanan. Mereka langsung menepi sejenak. Begitu kereta selesai lewat, ujung paku-paku tadi yang tergilas roda kereta berubah gepeng, berbentuk pisau.

" Horee!" teriak seorang bocah kurus dekil sambil tertawa lepas kegirangan. Bocah itu bernama Irul, begitu ia akrab disapa teman-temannya.

Puas, Irul dan sahabatnya lalu 'merayakan' dengan jajanan buah lontar, sebelum bergegas pulang. Bocah berbadan ceking itu segera menghilang dari pandangan, menyurusuri jalan setapak dengan semen cetak bersusun arah rumahnya.

Begitulah cuplikan masa kecil si Irul yang memiliki nama lengkap Chairul Tanjung (CT), setengah abad lalu.

Sejak kecil ia sudah akrab dengan julukan si ‘anak singkong’ (kampung). Tapi siapa sangka, anak pinggiran kota Metropolitan itu kini jadi orang super kaya di Indonesia.

Laporan terbaru majalah Forbes, awal bulan lalu, mencatat total kekayaan CT US$ 4,3 miliar setara Rp 58 triliun. Menempati posisi keenam orang terkaya untuk tahun 2014, sekaligus pengusaha muslim terkaya di Indonesia.

****

CT boleh dikatakan terlahir dari keluarga tak kaya, meskipun tak juga terlalu miskin. Dia mempunyai lima saudara kandung. Abdul Gafur Tanjung, ayahnya, adalah mantan wartawan pada era Orde Lama dan pernah menerbitkan surat kabar beroplah kecil.

Tiba pada zaman Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Keadaan ini memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal di kamar losmen sempit Kramat Raya, Senen.

Saat itu Chairul masih SMP. Ia sudah menyadari bagaimana kesulitan orangtuanya, bahkan meski hanya untuk makan sehari-hari. Tapi ibunya, Halimah, jarang sekali mengeluhkan kondisi itu, sesulit apapun keadaan keluarga.

Begitu lulus dari SMA I Boedi Oetomo, Chairul yang dikenal berotak encer diterima di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Kondisi ekonomi keluarganya yang sulit membuat orang tuanya tidak sanggup membayar uang kuliah Chairul yang waktu itu hanya sebesar Rp75.000.

" Tanpa saya ketahui, secara diam-diam ibu saya menggadaikan kain halusnya ke pegadaian untuk membayar uang kuliah," kata Chairul lirih mengenang peristiwa itu.

Melihat pengorbanan sang ibu, ia lalu berjanji tidak akan meminta uang lagi kepada orangtuanya. Chairul bertekad mencari akal bagaimana caranya bisa membiayai hidup dan kuliahnya.

Jalan yang harus ditempuh pria kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962, itu cukup terjal. Chairul barangkali tak pernah menyangka, ruang pengap dan sempit --seukuran dua bilik wartel-- di bawah tangga kampus kedokteran UI, jadi pijakan awal bisnisnya sebelum mengurita dalam rupa-rupa usaha, lalu melambung ia ke jajaran orang tertajir Indonesia.

Menurut penuturan Chairul, gedung tua Fakultas Kedokteran UI dulu belum menggunakan lift. Dari lantai satu hingga lantai empat masih menggunakan tangga.

Melihat ruang kosong di bawah tangga ini, Chairul muda melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menghasilkan uang.

" Nah, kebetulan ada ruang kosong di bawah tangga. Saya lalu berpikir untuk bisa memanfaatkannya sebagai tempat fotokopi. Tapi masalahnya, saya tidak mempunyai mesin fotokopi. Uang untuk membeli mesin fotokopi pun tidak ada," kata dia bercerita.

Tak kehilangan akal, ia mengundang penyandang dana untuk menyediakan mesin fotokopi dan membayar sewa tempat. Waktu itu Chairul hanya mendapat upah dari usaha foto kopi sebesar Rp2,5 per lembar.

" Sedikit ya. Tapi, karena itu daerah kampus, dalam hal ini mahasiswa banyak yang fotokopi, maka jadilah keuntungan saya lumayan besar," .

Dari keuntungan itu Chairul berusaha mengasah kemampuannya dalam berbisnis, seperti usaha stiker, pembuatan kaos, hingga penjualan buku bekas dicobanya.

Usai menyelesaikan kuliah, ia memberanikan diri menyewa kios kecil dengan harga sewa Rp1 juta per tahun di Senen, Jakarta Pusat, untuk membuka CV yang bergerak di bidang penjualan alat-alat kedokteran gigi.

Bukan untung, usaha itu justru buntung. Kios tempat usahanya gulung tikar, lantaran lebih sering dijadikan tempat berkumpul teman-temannya sesama aktivis.

" Yang nongkrong lebih banyak ketimbang yang beli," kata mahasiswa teladan tingkat nasional 1984-1985 ini.

****

Selang berapa tahun, ia mencoba bangkit dan melangkah lagi dengan menggandeng dua sahabatnya mendirikan PT Pariarti Shindutama yang memproduksi sepatu.

Dia mendapatkan kredit dari Bank Exim sebesar Rp150 juta. Kepiawaiannya membangun jaringan bisnis membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang dari pengusaha Italia.

Bisnisnya terus berkembang. Ia mulai mencoba merambah ke industri genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah usahanya yang tengah merambat naik, tiba-tiba dia terbentur perbedaan visi dengan kedua rekannya. Chairul memutuskan mundur dan menjalankan sendiri usahanya.

Chairul mengarahkan usaha konglomerasinya berdasar tiga bisnis inti, yaitu keuangan, properti dan multi media. Dia sukses memimpin dan membesarkan CT Corporation yang dulu bernama Para Group.

Melalui CT Corporation, dia mulai dari Trans TV yang segera memuncaki sebagai stasiun televisi keluarga terfavorit. Karena itu dia lalu diminta Jakob Oetama mengembangkan TV7 yang semaput.

Di bawah tangan dinginnya, Trans7, semakin moncer. Pundi Chairul bertambah. Dan dia makin giat berekspansi. Hingga akhirnya dia membeli media online detik.com sebesar Rp 540 miliar pada Agustus 2011. Dan, baru-baru ini, dia membuat CNN Indonesia.

Kepak bisnis mantan Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu II semakin melebar. Ia memiliki sejumlah perusahaan di bidang finansial; Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Para Multi Finance, Bank Mega Tbk, Mega Capital Indonesia, Bank Mega Syariah dan Mega Finance.

Di bidang properti dan investasi, perusahaan tersebut membawahi Para Bandung Propertindo, Para Bali Propertindo, Batam Indah Investindo, Mega Indah Propertindo.

Kekayaannya semakin besar setelah aksi bisnisnya mengakuisisi seluruh saham Carrefour Indonesia. CT resmi membeli 60 persen sisa saham perusahaan retail Carrefour dan mencatatkan diri sebagai pemilik tunggal Carrefour Indonesia.

Pada November 2013 silam, harta CT tercatat menembus US$ 4 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. Kini, harta CT tercatat naik menjadi US$ 4,3 miliar (Rp 55 triliun).

Menengok ke belakang, pada 2011, majalah Forbes menempatkan CT di posisi nomor 11 orang terkaya di Indonesia dengan total harta mencapai US$ 2,1 miliar atau setara Rp 18,9 triliun (kurs 2013).

Hartanya, melonjak menjadi USD 3,4 miliar atau setara Rp 32,6 triliun di 2012 dan masuk jajaran lima besar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Melihat aksi korporasi Chairul Tanjung kini, memang seperti melihat mimpi. Bagaimana bisa Irul, anak kampung yang kurus dan dekil, yang bermain menggepengkan paku di rel kereta api Kemayoran, menjadi sekaya sekarang. Kini, dia satu-satunya pengusaha muslim di peringkat 10 besar orang terkaya Indonesia. ‘Anak singkong’ itu telah jadi orang… (eh)

(Dari Berbagai Sumber)

Beri Komentar