Hindari Gas Air Mata, Ketua DPR Dievakuasi Saat Mau Temui Mahasiswa

Reporter : Maulana Kautsar
Selasa, 24 September 2019 18:30
Hindari Gas Air Mata, Ketua DPR Dievakuasi Saat Mau Temui Mahasiswa
Mahasiwa mengevakuasi diri.

Dream - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo turut dievakuasi dari  gedung Direktorat Pengamanan Obyek Vital (PAM Obvit) yang terletak 20 meter dari lokasi demo mahasiswa. Bambang dievakuasi karena gas air mata yang ditembakkan polisi.

Dilaporkan Merdeka.com, Bambang awalnya keluar dari gedung DPR/MPR untuk menemui mahasiswa sekitar pukul 16.40 WIB. Bambang ditemani pihak keamanan gedung Nusantara 3.

Ketua DPR RI dievakuasi© Merdeka.com

Ketua DPR RI dievakuasi (Foto: merdeka.com)

Bambang memutuskan keluar dari gedung tersebut karena ingin mengajak perwakilan mahasiswa untuk masuk ke gedung DPR/MRI.

Namun langkahnya terhenti saat berada di air mancur dari kompleks gedung tersebut. Gas air mata yang telah memenuhi areal DPR/MPR terasa pekat meski Bambang sudah mengoleskan pasta gigi ke pipinya.

Kondisi areal gedung DPR yang sudah dipenuhi asap gas air mata membuat petugas memutuskan mengevakuasi Bambang ke ruang Direktorat Pam Obvit Polda Metro Jaya

Sementara itu, dilaporkan Liputan6.com, polisi menembakkan gas air mata ke mahasiswa. Sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka akibat tebakan gas air mata tersebut.

Ketua DPR RI dievakuasi© Merdeka.com

Ketua DPR RI dievakuasi (Foto: merdeka.com)

Sebagian mahasiswa, terpantau pingsan. Mereka dievakuasi oleh rekan-rekannya dengan mobil terbuka.

Para mahasiswa kini berada di tempat yang lebih aman. Di antaranya gedung BNI Pejompongan, Jakarta, dan area Stadion Utama Gelora Bung Karno.

1 dari 6 halaman

Tukang Es ke Mahasiswa: Gratis untuk Generasi Anti-Korupsi

Dream - Ada yang menarik saat aksi demonstrasi menolak pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kota Malang, Jawa Timur. Dua penjual es, Adhim Setya dan Suwito menyumbangkan es jualannya untuk massa di sekitar Jalan Tugu, depan Gedung DPRD Kota Malang.

Secara bergantian, Adhim dan Suwito membentangkan poster bertuliskan, `Gratis untuk Generasi Anti Korupsi`. Dua penjual es itu menggratiskan barang dagangan secara gratis.

Bahkan, Adhim dan Suwito menyediakan gunting untuk memotong ujung es agar mudah dikonsumsi.

" Paling enggak saya tahu alasannya mereka berdemo. Saya mendukung, paling tidak berkontribusi lewat es ini untuk disalurkan," kata Adhim, dilaporkan Merdeka.com, Selasa, 24 September 2019.

Adhim mengaku sebagai lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Suwito lulusan Universitas Islam Malang (Unisma). Adhim berjualan es sehari-harinya.

Mereka patungan untuk menggratiskan 500 batang es. Nilainya Rp500 ribu.

" Baru hari ini, kemarin tidak tahu kalau ada demo. Tergantung dari konteks demonya, kalau demonya sesuai dengan saya harapkan. Intinya saya tidak suka dengan pelemahan KPK, itukan ada isu pelemahan KPK," urainya.

Baik Adhim maupun Suwito juga terlihat memunguti potongan ujung es yang bertebaran di lokasi. Es pun tidak lama habis oleh para demonstran yang terus berdatangan.

Sumber: Merdeka.com/Darmadi Sasongko

2 dari 6 halaman

Sejumlah Kampus Yogyakarta Ramai-Ramai Tolak #GejayanMemanggil

Dream - Sejumlah kampus di Yogyakarta menyatakan tidak terkait dengan ajakan berdemonstrasi melalui tagar #GejayanMemanggil yang viral di media sosial. Mereka menyatakan ajakan tersebut tidak jelas tujuannya.

Salah satu kampus yang mengeluarkan pernyataan tak terlibat gerakan itu adalah Universitas Sanata Dharma (USD). Kampus ini menilai gerakan tersebut tak jelas tujuannya. 

" Universitas Sanata Dharma mendukung gerakan tersebut oleh karena tidak jelasnya tujuan serta penanggungjawabannya," tulis surat yang ditandatangani Rektor USD, Johanes Eka Priyatma.

Taggar #GejayanMemanggil memang tengah menjadi perbincangan di dunia maya. Taggar itu merupakan undangan kepada seluruh mahasiswa untuk demonstrasi yang digelar di pertigaan Colombo, Gejayan, Yogyakarta.

Demonstrasi itu menolak sejumlah rancangan undang-undang dan kasus terkini di Indonesia. Misalnya, rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

Selain itu, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, Kriminalisasi Aktivis, dan menyoroti kinerja pemerintah yang dianggap tidak serius menyelesaikan kebakaran hutan dan kekerasan di Papua.

3 dari 6 halaman

UNY

Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) juga menyatakan tidak mendukung dan terlibat dalam aksi tersebut. Surat itu dikeluarkan UGM dan bertandatangan Rektor UGM, Panut Mulyono.

" Partisipasi terhadap aksi tersebut diminta untuk tidak melibatkan UGM dalam bentuk apapun dan segala hal yang dilakukan atas aksi tersebut menjadi tanggung jawab pribadi," kata Panut.

Gejayan Memanggil© Twitter

Tetangga UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) turut mengeluarkan imbauan serupa. Dalam suratnya, Rektor UNY, Sutrisna Wibawa, menyebut UNY tak terlibat aksi demonstrasi.

Selain itu, dia juga mengklarifikasi munculnya akun bernama Rektor UNY @JeveViole yang mengedarkan kabar bohong mengenai dukungan aksi. " Akun resmi media sosial UNY adalah @unyofficial," tulis Sutrisna.

5 dari 6 halaman

Kericuhan di Wamena Papua Dipicu Pendirian Posko?

Dream - Kepolisian Daerah Papua melaporkan kerusuhan di Wamena, Papua terjadi karena pendirian posko di halaman Universitas Cendrawasih (Uncen), Abepura, Jayapura, Papua. Pihak kampus, kata polisi, tidak mengizinkan pendirian posko tersebut.

" Jadi mereka ini adalah mahasiswa luar Papua yang tanpa izin dari Uncen mau mendirikan posko mahasiswa dan itu tidak dibenarkan," kata Kapolda Papua, Irjen Pol Rudolf A Rodja, Senin, 23 September 2019.

Rudolf mengatakan, akibat tidak adanya kesepakatan antara mahasiswa dan kampus, aparat kepolisian turun tangan untuk membubarkan mereka.

Dia menuturkan, pembubaran tersebut dilakukan agar perkuliahan di Uncen tetap berjalan.

" Jadi, kita bubarkan mereka supaya tidak jadi posko dan perkuliahan di Uncen tidak macet. Nah, kami melakukan pendekatan negosiasi supaya persoalan ini tidak jadi keuntungan bagi mereka," ucap dia.

6 dari 6 halaman

Mahasiswa Diangkut Pakai 20 Truk

Kondisi di Wamena, Jaya Wijaya© Istimewa

Rudolf mengatakan, pembubaran juga dilakukan karena hari ini sedang berlangsung sidang Umum PBB hari pertama. " Sehingga kami berusaha untuk bernegosiasi untuk pulangkan mereka," kata dia.

Negosiasi dengan kelompok mahasiswa bisa berjalan lancar dan tidak terjadi aksi kekerasan. 
" Rekan-rekan wartawan bisa lihat, bahwa mereka bubar atau pulang dengan aman dan tidak ada satupun kaca yang pecah di auditorium Uncen," ucap dia.

Mantan Kapolda Papua Barat itu mengatakan jumlah mahasiswa eksodus itu sekitar 600 orang. 

" Lumayan jumlahnya, ada 20 mobil (truk) yang angkut dikalikan 30 orang. Mereka kita kembalikan ke Expo Wamena, karena titik kumpul mereka di sana," ujar dia.

Situasi terkini di Kampus Uncen Abepura dan sekitarnya lengang pascapendudukan mahasiswa eksodus.

(Sah, Sumber: Merdeka.com/Dedi Rahmadi)

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More