Dengan Rp27 Juta, Rumah Ini Tahan Gempa 9 SR

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 28 September 2018 18:59
Dengan Rp27 Juta, Rumah Ini Tahan Gempa 9 SR
Namanya Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha).

Dream – Awal Agustus lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memperkenalkan konsep rumah yang diklaim tahan guncangan gempa. Diberi nama RISHA, singkatan dari Rumah Instan Sederhana Sehat, harga rumah tersebut akhirnya diumumkan ke publik dan termasuk cukup murah.

Dikutip Dream dari Liputan6.com, Senin, 1 Oktober 2018, pemerintah memperkirakan RISHA bisa dibangun dengan anggaran hanya Rp27 juta. Dengan dana tersebut, masyarakat sudah bisa membeli perlengkapan dan peralatan properti untuk membangun rumah tersebut.

Kepala Seksi Layanan Balitbang Tata Bangunan dan Lingkungan Puslitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR, Muhajirin, menjelaskan ukuran standar rumah RISHA adalah 3m x 3m atau 9 meter persegi.

" Jadi Risha ini ukuranya modul 3x3. Jadi kalau seseorang ada yang ingin membangun Risha itu bisa tergantung dari kondisi keuangannya, misalnya saat ada uang sisi lebar rumahnya bisa ditambah jadi tipe 18. Tapi dengan modul 3x3 tetap bisa disebut Risha juga," kata Muhajirin di Jakarta.

Untuk membangun rumah tahan gempa ini, dia mengatakan bahan dasar yang diperlukan berupa kolaborasi antara panel 1, panel 2 dan panel 3. Jika dihitung, biaya total pembuatan rumah instan sederhana sehat memakan biaya sekitar Rp27 juta untuk tipe 36.

 

1 dari 1 halaman

Tahan Gempa hingga 9 SR

Muhajirin mengklaim Risha tahan terhadap guncangan gempa hingga 9 skala Richter (SR). Pembentukannya pun bisa turut memanfaatkan bahan baku properti dari bekas rumah yang telah hancur akibat guncangan dahsyat.

" Seperti gempa di Lombok. Tidak semua rumahnya hancur. Masih ada bagian yang bisa dipakai seperti pintu, kusen, termasuk bahan bangunannya. Mungkin untuk aplikatornya lebih ke pemasangan panel Risha-nya sendiri," kata dia.

Muhajirin mengatakan kaca rumah ini tidak pecah ketika diuji dengan 9 SR. Di pusat gempa di daerah Lombok Utara, bangunan ini ada yang dipakai untuk sekolah adat.

“ Itu tidak runtuh. Kalau di pengujian goyang, posisinya kembali ke semula karena memang ikatannya hanya pakai mur, baut supaya lebih fleksibel. Nggak pakai paku,” kata dia.

(Sumber: Liputan6.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana)

Beri Komentar